Kenapa Kita Bisa Menggertakkan Gigi saat Tidur? Dosen IPB Ungkap Penyebabnya

ADVERTISEMENT

Kenapa Kita Bisa Menggertakkan Gigi saat Tidur? Dosen IPB Ungkap Penyebabnya

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 08 Mei 2026 20:30 WIB
Seorang pria tertidur dan bermimpi.
Foto: Andrea Piacquadio/Pexels/Ilustrasi menggertakkan gigi saat tidur.
Jakarta -

Pernahkah detikers mendengar suara gertakan gigi dari orang yang sedang tidur atau bahkan mengalaminya? Dalam bahasa medis, fenomena itu disebut dengan bruxism. Kenapa bisa terjadi?

Kebiasaan menggertakkan gigi lebih dari sekadar masalah gigi. Ini karena terjadi mekanisme kompleks yang menyangkut sistem saraf dan juga otak.

Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yeni Quinta Mondiani, SpN, kondisi ini bukan hal yang sepele, serta membutuhkan perhatian medis jika sering terjadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bruxism merupakan gerakan repetitif rahang bawah yang terjadi saat tidur," jelasnya, dikutip dari laman resmi IPB, Jumat (8/5/2026).

Seperti Apa Bruxism Itu?

Secara umum, bruxism atau menggertakkan gigi dapat dialami oleh pria maupun wanita. Namun, kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak usia 3 hingga 12 tahun.

ADVERTISEMENT

"Sleep bruxism ditandai dengan gerakan mengunyah berulang yang menyebabkan gesekan antargigi. Suara yang dihasilkan sering kali cukup mengganggu dan dapat berdampak pada kesehatan gigi maupun sendi rahang," jelas dr Yeni.

Secara neurologis, kondisi tersebut merupakan akibat dari meningkatnya aktivitas otot pengunyah yang terdiri dari: otot masseter, temporalis, dan pterygoid. Aktivitas tersebut terjadi karena gangguan kontrol pada sistem saraf yang berkaitan dengan sistem dopaminergik.

dr Yeni mengatakan bahwa otot berkontraksi lebih banyak dari biasanya. Artinya, terdapat implikasi sistem saraf pusat yang berfungsi mengontrol gerakan tersebut.

Efek Stres dan Rasa Cemas

Lebih lanjut, dr Yeni menjelaskan bahwa kebiasaan menggertakkan gigi dapat dipicu oleh faktor psikologis seperti stres dan kecemasan. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan stres, kemungkinan terjadinya bruxism akan lebih besar juga.

"Pengelolaan stres menjadi sangat penting, bukan hanya untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk menjaga kualitas tidur serta kesehatan gigi dan rahang," ungkapnya.

Berdasarkan klasifikasi gangguan tidur, bruxism termasuk dalam parasomnia-kondisi sulit tidur yang ditandai dengan gerakan tidak diinginkan. Kebiasaan tersebut juga terkait dengan kondisi lain seperti obstructive sleep apnea, nyeri, atau gerakan mengganggu saat sedang tidur.

"Ada berbagai faktor yang dapat memicu kondisi ini, mulai dari predisposisi genetik, kurang tidur, penggunaan obat-obatan tertentu, hingga gangguan irama sirkadian," paparnya.

Kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur bukanlah hal yang boleh dianggap remeh. Apabila terjadi secara terus-menerus dan disertai nyeri rahang, gigi retak, gigi sensitif, diperlukan penanganan medis.

"Jika disertai gangguan tidur, sakit kepala berulang, atau dicurigai berkaitan dengan gangguan neurologis, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis," tuturnya.

Bagaimana Cara Mencegah Menggertakkan Gigi saat Tidur?

Untuk mencegah dampak yang lebih buruk lagi, dapat dilakukan penanganan awal melalui terapi. Namun, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan secara mandiri seperti:

1. Memperbaiki kualitas tidur

2. Mengelola stres

3. Menggunakan pelindung gigi untuk menghindari retakan.

Dalam hal ini, pemahaman dan penanganan yang sesuai dapat menyelamatkan seseorang dari komplikasi jangka panjang, baik kesehatan maupun sistem saraf.

"Dalam kasus tertentu, dokter dapat memberikan obat pelemas otot sebelum tidur untuk membantu mengurangi kontraksi otot rahang," pungkas dr Yeni.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads