Mengapa Gunung Berapi Bisa Tiba-tiba Meletus Tanpa Peringatan? Ini Temuan Ilmuwan

ADVERTISEMENT

Mengapa Gunung Berapi Bisa Tiba-tiba Meletus Tanpa Peringatan? Ini Temuan Ilmuwan

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Rabu, 13 Mei 2026 09:30 WIB
Gunung Dukono di Halmahera erupsi siang ini (Dok PVMBG)
Foto: Erupsi Gunung Dukono di Halmahera (Dok PVMBG)
Jakarta -

Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, meletus pada Jumat (8/5/2026) lalu. Erupsi dengan semburan abu vulkanik hingga 10 km menewaskan 3 orang. Namun, apakah gunung berapi sebenarnya bisa tiba-tiba meletus?

Untuk kasus Gunung Dukono, sejak akhir Maret 2026 sebenarnya sudah masuk Level II (Waspada). Ini artinya, radius aman hanya sekitar 4 km dari kawah.

Korban jiwa letusan Gunung Dukono merupakan pendaki yang berasal dari 2 WNA Singapura dan 1 WNI asal Jayapura. Sementara itu, belasan orang lainnya dinyatakan selamat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Uji Bawah Tanah di Gunung Berapi

Untuk menjawab apakah gunung berapi bisa tiba-tiba meletus, penelitian yang dipimpin oleh peneliti dari University of Geneva (UNIGE), Ivan Cabrera-Perez, menganalisis zona penting di bawah Gunung Berapi Ebeko, Pulau Paramushir, Jepang. Zona yang dimaksud adalah kantong lelehan dan sabuk batuan kaya cairan.

Studi menemukan bahwa permukaan gunung berapi yang tampak tenang juga dapat berisiko. Sebab, tekanan di bawah gunung mungkin menciptakan retakan secara diam-diam.

ADVERTISEMENT

Dengan memasang 21 stasiun seismik untuk mendeteksi pola bawah tanah, peneliti kemudian memetakan struktur bawah tanah gunung berapi dengan akurat.

Studi menunjukkan bahwa magma tersimpan dalam sistem berlapis, yaitu zona dangkal (0,5-1,9 km di bawah permukaan) dan zona lebih dalam (4-6 km di bawah permukaan). Susunan berlapis ini menjelaskan bagaimana gunung berapi yang tampak tenang dapat meletus tanpa aba-aba, demikian dilansir dari Earth.com.

Studi ini terbit di Scientific Reports pada 26 Maret 2026.

Kenapa Bisa Tiba-tiba Meletus?

Peneliti menerangkan bahwa di dalam kawah Ebeko, terdapat batuan-batuan pecah yang setiap celahnya dipenuhi oleh air panas dan gas. Saat panas atau gas baru memasuki lapisan dangkal ini, ledakan dapat terjadi tanpa memperlihatkan tanda-tanda di permukaan.

Area ini juga terhubung dengan sumber mata air panas, Yuriev Hot Springs, yang berada di dekat kawah. Posisi ini menghubungkan aktivitas kawah dengan sistem hidrotermal (sistem air panas bawah tanah), yang memungkinkan air untuk bergerak lebih luas melalui celah batuan.

Kemudian, pada area bawah retakan basah tersebut ditemukan sebuah inti leleh yang tampak tenang. Sebagian besar lapisan ini mungkin menyimpan batuan cair gunung berapi atau disebut juga reservoir magma

Sumber utama magma tersebut dikelilingi oleh batuan yang dapat menyerap energi seismik/getaran. Jadi, inti bumi tampak mengalirkan fluida keluar sehingga tidak terjadi letusan yang terus-menerus.

Oleh sebab itu, sering kali terjadi ledakan uap dan air panas yang keluar secara bersamaan dengan magma yang berasal dari sumber lelehan di zona dalam.

Di antara lapisan dangkal dan zona lebih dalam, terdapat retakan karena batuan yang mendorong tekanan ke atas. Cairan dan gas dari penyimpanan pusat bergerak melewati retakan tersebut dan membuat tekanan berkumpul di zona dangkal.

Proses ini menjelaskan bahwa letusan gunung berapi terjadi secara bertahap, dan bukan dalam satu kali tekanan saja. Dalam hal ini, yang paling sering terjadi adalah ledakan uap dan gas.

Pemetaan bawah tanah di area Ebeko ini menunjukkan, bahwa ledakan vulkanik merupakan hasil hubungan dari lelehan, air, gas, serta batuan retak, bukan hanya aktivitas magma saja. Kendati demikian, ilmuwan tidak dapat mengetahui secara pasti kapan ledakan atau letusan akan terjadi.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads