Mitos atau Fakta Kucing Bisa Memprediksi Cuaca? Ini Jawaban Sainsnya

ADVERTISEMENT

Mitos atau Fakta Kucing Bisa Memprediksi Cuaca? Ini Jawaban Sainsnya

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Sabtu, 16 Mei 2026 20:00 WIB
Ilustrasi foto kucing liar.
Foto: Freepik/Ilustrasi kucing.
Jakarta -

Di sejumlah wilayah, kucing kerap dipercaya memiliki kemampuan unik untuk memprediksi cuaca melalui tingkah lakunya. Mulai dari menggaruk karpet hingga memakan rumput. Namun, bagaimana menurut pandangan sains?

Para ilmuwan mencoba mengamati kenapa anggapan ini bisa terjadi. Secara umum, ini bisa terjadi karena indra kucing yang sangat tajam sehingga bisa merespons perubahan tekanan atmosfer yang erat kaitannya dengan pola cuaca.

Sederhananya, saat badai atau hujan turun, terjadi perubahan tekanan udara yang bisa langsung dirasakan oleh tubuh kucing. Ini yang membuat kucing bereaksi dengan perilaku unik, seperti menggaruk karpet atau membersihkan telinga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kucing Sensitif terhadap Perubahan Cuaca

Menurut para ilmuwan, kucing memiliki kemampuan mendeteksi perubahan di sekitarnya berkat indra pendengarannya yang sangat tajam. Mereka mampu menangkap frekuensi suara yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan pendengaran manusia pada umumnya.

Kemampuan unik ini membuat kucing bisa mendengar guntur atau gemerisik daun dari jauh, bahkan sebelum manusia menyadarinya.

ADVERTISEMENT

Selain pendengaran, indra penciuman kucing yang sangat tajam juga bisa berfungsi seperti alat peramal cuaca. Mereka mampu mencium aroma khas hujan di tanah yang dikenal sebagai petrichor sebelum manusia menyadari tanda-tanda hujan, demikian dilansir Futura Sciences.

Tak hanya itu, bulu kucing ternyata juga berperan dalam meramal cuaca. Karena sangat sensitif terhadap kelembapan, bulu mereka memungkinkan kucing mendeteksi perubahan suhu di sekitarnya.

Fenomena ini mirip dengan yang terjadi pada manusia, di mana tekstur rambut kita dapat berubah mengikuti tingkat kelembapan udara.

Meskipun perilaku adaptif ini sering terlihat, data ilmiah yang membahasnya masih terbatas. Belum ada penelitian yang secara tegas menetapkan hubungan pasti antara reaksi biologis kucing dan kondisi atmosfer.

Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Animals meneliti pengaruh musim dan kondisi cuaca terhadap perilaku kucing peliharaan.

Hasilnya menunjukkan bahwa kucing cenderung menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbaring dan makan. Mereka juga lebih sering berdiri saat suhu, kelembapan, atau indeks angin meningkat.

Di cuaca seperti ini, aktivitas kucing seperti menjilati bulu, duduk, atau menggunakan kotak pasir cenderung menurun. Studi lain juga menunjukkan bahwa kucing lebih jarang membersihkan diri dan mengurangi kebiasaan menggaruk saat curah hujan tinggi.

Respons Kucing terhadap Cuaca

Fakta menarik lainnya datang dari studi tahun 2022 di Italia. Peneliti menganalisis laporan dari para pemilik kucing dan anjing dan menemukan bahwa aktivitas bermain cenderung meningkat saat cuaca lebih dingin.

Sebaliknya, para pemilik mencatat bahwa hewan peliharaan mereka lebih sering tidur saat cuaca sangat panas atau ketika terjadi penurunan suhu yang drastis.

Beberapa pemilik juga memperhatikan bahwa hewan peliharaan mereka menjadi lebih gugup atau cemas saat hujan deras atau terjadi badai petir.

Jadi, bukan kucing yang bisa memprediksi cuaca. Namun, pada kondisi cuaca tertentu, kucing menjadi memiliki perilaku tertentu.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(crt/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads