Tahukah, detikers, ada hewan yang perilakunya turut membantu melawan krisis iklim? Dengan kontribusinya, banyak peneliti menyebutnya sebagai 'insinyur alam'.
Hewan yang dimaksud adalah berang-berang. Mereka memiliki kebiasaan membendung sungai dengan ranting-ranting dan lumpur, sehingga membentuk lahan basah.
Kebiasaan tersebut diteliti oleh ilmuwan dan ternyata sangat bermanfaat bagi ekosistem. Menurut studi yang terbit di jurnal Communications Earth and Environment pada 18 Maret 2026, bendungan atau lahan basah yang dibuat berang-berang bisa menjadi kawasan penyerap karbon (carbon sinks).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi itu mengakibatkan ekosistem sungai mampu menyimpan lebih banyak karbon dioksida daripada yang dilepaskannya. Proses penyerapan ini sangat penting mengingat karbon dioksida adalah gas penangkap panas utama yang memicu pemanasan global.
Bahkan, lahan basah hasil bendungan berang-berang mampu menyimpan karbon hampir sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan area sungai biasa. Ini menunjukkan, mereka bisa merekayasa penyimpanan karbon alami.
Bagaimana Cara Berang-berang 'Merekayasa' Sungai?
Peneliti dari Universitas Birmingham, Inggris, mengungkap bagaimana 'insinyur alam' ini mengubah fisik sungai menjadi area penyerap karbon. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan alami berang-berang untuk membangun bendungan dari ranting, lumpur, dan batu.
Saat berang-berang membendung sungai, arus air yang awalnya mengalir cepat secara otomatis akan melambat. Air yang tenang ini kemudian meluap ke lahan di sekitarnya, menciptakan jaringan kolam dan lahan basah yang luas.
Di sinilah rekayasa fisik tersebut memicu proses penyimpanan karbon yang luar biasa. Karena aliran lambat, sedimen kaya karbon yang biasanya hanyut terbawa arus ke hilir justru mengendap di dasar kolam.
Selain itu, kondisi lahan basah memicu tanaman dan alga tumbuh subur untuk menyerap CO2 dari atmosfer. Pohon-pohon mati yang jatuh ke dalam genangan air pun akan terendam dalam kondisi rendah oksigen, sehingga kayu tidak cepat membusuk dan karbon di dalamnya tetap terkunci selama bertahun-tahun.
"Dengan membangun bendungan, mereka menciptakan lahan basah yang menjebak dan menyimpan karbon," kata penulis utama studi, Lukas Hallberg.
"Berang-berang secara langsung merekayasa penyimpanan karbon baru, bukan sekadar menjadi bagian dari sistem yang sudah ada," imbuhnya.
Kapasitas Penyimpanan Karbon Buatan Berang-berang
Tim peneliti menyelidiki kemampuan berang-berang di area aliran sungai sepanjang 800 meter di cekungan Sungai Rhine, Swiss. Berdasarkan pengukuran menyeluruh, lahan basah buatan berang-berang tersebut terbukti mampu menyimpan sekitar 100 ton karbon bersih per tahun.
Totalnya, sekitar 1.200 ton karbon bersih telah tersimpan selama 13 tahun sejak situs tersebut dimodifikasi oleh berang-berang pada 2010. Sebagai gambaran, jumlah ini sebanding dengan dua kolam renang standar Olimpiade yang diisi penuh dengan arang.
Tanpa kehadiran berang-berang, air sungai akan mengalir lebih cepat dan hanya membawa karbon lewat begitu saja menuju hilir.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa lahan basah hasil bendungan ini dapat menyimpan karbon dengan kecepatan hampir sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan bentangan sungai biasa.
Hal ini membuktikan bahwa rekayasa fisik yang dilakukan oleh berang-berang bisa memberikan dampak yang signifikan bagi ekosistem sungai.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(faz/faz)










































