Bagaimana cara masyarakat kuno mencatat pesan sehari-hari? Hal ini mulai terungkap melalui situs kuno di Athribis, Mesir. Para arkeolog berhasil menemukan ribuan pecahan tembikar bertuliskan catatan sehari-hari yang dikenal sebagai ostraca.
Dalam ekspedisi gabungan bersama Universitas Tübingen dan Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, arkeolog menggali situs yang dibangun pada abad ke-4 SM tersebut. Awalnya, penggalian dilakukan untuk menemukan ruang-ruang tersembunyi dari kuil besar yang didirikan untuk Ptolemaios XII, ayah Cleopatra.
Namun tak disangka, mereka justru menemukan jejak kehidupan sehari-hari masyarakat Mesir kuno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isi Pesan pada Pecahan Tembikar
Arkeolog mengumpulkan sekitar 43.000 keping bertuliskan inskripsi yang dikenal sebagai ostraca. Struktur tulisan pada pecahan-pecahan itu berisi berbagai catatan sederhana seperti daftar belanja, latihan sekolah, hingga kuitansi pajak dan dokumen ritual keagamaan.
Para peneliti menyebut situs ini sebagai lokasi penemuan ostraca paling produktif hingga saat ini. Istilah ostraca sendiri merujuk pada pecahan tembikar atau batu kapur yang digunakan sebagai media tulis pada masa sebelum kertas ditemukan.
"Ostraca menunjukkan kepada kita variasi situasi sehari-hari yang menakjubkan," kata arkeolog Christian Leitz, Direktur Departemen Egyptology di University of Tübingen, dikutip dari ZME Science.
Catatan Sehari-hari Masyarakat Mesir Kuno
Masyarakat kuno di Athribis mencatat hampir setiap aspek kehidupan mereka pada pecahan-pecahan tembikar tersebut. Mulai dari catatan pajak hingga teks keagamaan.
"Kami menemukan daftar pajak dan pengiriman barang, serta catatan singkat tentang aktivitas sehari-hari, latihan (PR) anak sekolah, teks keagamaan, dan sertifikat pendeta yang membuktikan kualitas hewan kurban," kata Leitz.
Secara periodik, arkeolog menyebut bahwa catatan-catatan tersebut mencakup rentang waktu yang sangat panjang. Pecahan tertua berasal dari abad ke-3 SM dan memuat tanda terima pajak yang ditulis dalam aksara Demotik, sementara artefak yang lebih baru berisi prasasti Arab dari abad ke-9 hingga ke-11 Masehi.
Tim juga menemukan banyak prasasti Yunani serta teks langka yang ditulis dalam aksara hieratik, hieroglif, dan Koptik. Beberapa pecahan tembikar bahkan menampilkan gambar yang hidup, seperti sketsa manusia, dewa lokal, kalajengking, hingga burung layang-layang.
Ilmu astrologi juga diminati di situs Athribis, terbukti dari penemuan lebih dari 130 catatan horoskop atau zodiak yang menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu cukup aktif mempelajari dan mencatat pergerakan benda langit.
"Campuran ini membuat temuan ini sangat berharga karena konten sehari-hari tersebut memberi kita gambaran langsung tentang kehidupan masyarakat Athribis," ujar Leitz.
Para arkeolog memperkirakan, ke depan, mereka akan menemukan lebih banyak bukti mengenai 'pesan singkat' atau catatan masyarakat kuno.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(faz/faz)










































