Mangrove Langka yang Jadi Habitat Bekantan Terancam Punah, Terdapat 527 Individu

ADVERTISEMENT

Mangrove Langka yang Jadi Habitat Bekantan Terancam Punah, Terdapat 527 Individu

Devita Savitri - detikEdu
Sabtu, 23 Mei 2026 20:02 WIB
Camptostemon philippinensis, mangrove langka asal Indonesia yang kini terancam punah.
Camptostemon philippinensis, mangrove langka asal Indonesia yang kini terancam punah. Foto: BRIN
Jakarta -

Kini terancam punah, Camptostemon philippinensis atau mangrove langka asal Indonesia masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Pada dasarnya, tumbuhan ini sudah terdata dalam jenis mangrove yang dilindungi pemerintah RI.

Namun, karena populasinya sangat terbatas dan tersebar di lokasi tertentu, kemungkinan punahnya tetap tinggi. Hal ini diketahui dari hasil penelitian yang didanai BRIN dan LPDP melalui skema Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi pada 2022 dan RIIM batch II pada 2023-2024.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

527 Individu Mangrove Telah Terdata

Penelitian dimulai dengan eksplorasi tim peneliti di wilayah Kalimantan untuk mengamati dan mendata jenis-jenis mangrove. Tim menyusuri sekitar 200 kilometer kawasan mangrove di Teluk Balik Papan, dari Sepaku hingga pesisir kota Balikpapan.

Pada survei awal, peneliti menemukan satu pohon C. philippinensis di Pulau Kowangan dan beberapa pohon lagi di Pantai Lango, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

ADVERTISEMENT

Survei itu dilanjutkan dengan penelusuran lain untuk mengetahui jumlah individu dalam populasi tersebut, tahap pertumbuhan, dan distribusi spesies di habitat alaminya.

Hasilnya, ditemukan 527 individu C. philippinensis di kawasan Pantai Lango. Populasi itu didominasi oleh semaian atau anakan muda sebanyak 452 individu, 49 pohon dewasa dan 26 pancang.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini mengatakan kondisi itu menunjukkan bila spesies ini masih memiliki kemampuan regenerasi alami yang cukup baik. Tapi, keberadaanya yang terbatas menjadi ancaman serius, sehingga perlu dijaga secara berkelanjutan.

"Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi," tuturnya dikutip dari laman resmi BRIN.

BRIN juga menjelaskan habitat C. philippinensis di Teluk Balikpapan berada pada zona mangrove lapis kedua. Mereka tumbuh di tekstur tanah dominan berpasir dan genangan air yang terjadi saat pasang tinggi.

Di kawasan itu, spesies ini tumbuh bersama sejumlah vegetasi mangrove lain seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Avicennia alba, Lumnitzera littorea, dan Xylocarpus granatum.

Aktivitas Manusia Jadi Ancaman Serius

Lebih lanjut, Istiana menekankan ancaman serius yang bisa mengakibatkan kelangkaan C. philippinensis justru datang dari aktivitas manusia. Aktivitas yang dimaksud termasuk, alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, dan pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dari temuan yang ada, spesies ini hadir di dekat dengan pemukiman penduduk. Oleh karena itu, setiap aktivitas manusia seperti yang disebutkan sebelumnya, dapat menyebabkan kerusakan kecil yang kemudian berimbas dengan meningkatnya potensi kepunahan.

"Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar," tegas Istiana.

Habitat Bekantan Kalimantan

Tidak hanya penting bagi ekosistem pesisir, mangrove langka ini diduga juga rumah bagi Bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang dilindungi. Dugaan ini bisa timbul usai peneliti menemukan bekas gigitan Bekantan pada daun mangrove.

Nelayan setempat yang mendampingi kegiatan tim, Darman, juga melaporkan adanya kelompok Bekantan di sekitar habitat mangrove. Melihat kondisi ini, tim peneliti BRIN menilai perlu langkah konservasi yang lebih kuat.

BRIN merekomendasikan beberapa upaya pelindungan, seperti restorasi kawasan mangrove yang rusak, penyimpanan material genetik, hingga pengembangan konservasi ex-situ dengan memperbanyak tanaman. Selain itu, diperlukan penelitian lanjutan dari studi utama ini.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui keragaman genetik dan peran ekologis sepesies ini. Pengetahun tersebut dinilai BRIN penting untuk mendukung strategi konservasi jangka panjang di Indonesia.




(det/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads