Dunia serangga kembali mengejutkan para peneliti dengan temuan spesies baru yang tak hanya unik secara fisik, tetapi juga memiliki cara berburu yang tergolong ekstrem.
Dilansir dari ABC, para ilmuwan baru-baru ini menemukan spesies serangga pembunuh baru bernama Larrakia feather-legged assassin bug di sebuah taman nasional dekat Darwin, Australia.
Penemuan ini bermula ketika ekolog asal Inggris, Daniel Bardey, tengah menyisir tumpukan daun kering setelah berminggu-minggu melakukan pencarian serangga tanpa hasil. Tak disangka, ia justru menemukan spesies baru yang langsung menarik perhatian karena bentuk tubuh dan perilakunya yang tidak biasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama "Larrakia" dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat adat Larrakia, pemilik tradisional wilayah tempat serangga tersebut ditemukan. Meski berukuran kecil, serangga ini dikenal sebagai predator ulung dengan teknik berburu yang sangat efektif.
Si Kaki Berbulu dengan 'Jebakan Parfum' Mematikan
Ciri paling mencolok dari spesies bernama ilmiah Ptilocnemus larrakia ini terletak pada kaki belakangnya yang dipenuhi bulu lebat. Penampilannya bahkan disebut menyerupai "sepatu bot berbulu". Para peneliti menduga bulu tersebut membantu melindungi tubuhnya dari serangan semut, yang menjadi mangsa utama serangga ini.
Namun, daya tarik utamanya bukan hanya pada bentuk fisiknya. Serangga pembunuh ini juga memiliki organ khusus yang mampu mengeluarkan cairan pemikat untuk menarik perhatian mangsa. Cairan tersebut bekerja layaknya umpan kimia yang membuat semut mendekat tanpa sadar sedang menuju perangkap.
Begitu mangsa berada dalam jarak dekat, serangga ini akan langsung menyerang dengan menusuk bagian tubuh semut menggunakan mulut tajam berbentuk jarum. Setelah itu, cairan tubuh mangsa dihisap hingga habis. Strategi berburu ini membuatnya dikenal sebagai salah satu predator kecil paling efisien di dunia serangga.
Penemuan Langka yang Bikin Ilmuwan Antusias
Serangga pembunuh jenis ini sebenarnya dikenal sangat sulit ditemukan karena hidup tersembunyi di antara dedaunan dan aktif di habitat tertentu. Oleh sebab itu, penemuan spesies baru ini menjadi kabar penting bagi dunia entomologi atau ilmu yang mempelajari serangga.
Menariknya, setelah penemuan pertama dilakukan, spesies yang sama kembali ditemukan di tiga lokasi berbeda di sekitar wilayah Darwin. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak keanekaragaman hayati yang belum terdokumentasi, bahkan di area yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat aktivitas manusia.
Saat ini, spesimen Larrakia feather-legged assassin bug sedang dipelajari lebih lanjut di Museum Sejarah Alam Universitas Oxford, Inggris.
Setelah proses penelitian selesai, spesimen tersebut direncanakan akan dipulangkan dan dipamerkan di Museum dan Galeri Seni Wilayah Utara Australia (MAGNT) agar dapat dilihat langsung oleh masyarakat.
Penulis merupakan peserta MagangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(nah/nah)










































