Peneliti IPB Ungkap Evolusi Buatan Kini Sudah Dipakai di Dunia Nyata, Kok Bisa?

ADVERTISEMENT

Peneliti IPB Ungkap Evolusi Buatan Kini Sudah Dipakai di Dunia Nyata, Kok Bisa?

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 27 Mei 2026 06:00 WIB
Humanoid robot finger and children finger meets in front of blackboard. Shot in studio with a full frame mirrorless camera.
Ilustrasi robot. Foto: iStock
Jakarta -

Dulu, gagasan tentang makhluk buatan yang bisa berkembang sendiri hanya muncul dalam cerita fiksi ilmiah seperti Frankenstein atau I, Robot. Namun kini, konsep evolusi buatan mulai diterapkan dalam dunia nyata lewat teknologi komputer, robotika, hingga bioteknologi.

Ahli Genetika Ekologi IPB University, Ronny Rachman Noor, menjelaskan evolusi buatan merupakan proses ketika sistem buatan meniru mekanisme evolusi biologis seperti seleksi alam, mutasi, dan adaptasi.

"Sebagai contoh, algoritma genetika dalam bidang komputasi dan robotika evolusioner memungkinkan robot belajar bergerak," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Frankenstein di Dunia Nyata

Konsep evolusi buatan sebenarnya sudah lama hadir dalam budaya populer. Novel Frankenstein yang terbit pada 1818 mengangkat kisah penciptaan makhluk hidup lewat eksperimen ilmiah. Sementara film I, Robot banyak membahas hubungan manusia dan robot cerdas.

Menurut Prof Ronny, karya-karya tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cara manusia membayangkan masa depan teknologi.

ADVERTISEMENT

"Evolusi buatan dalam karya fiksi ilmiah sering menampilkan penciptaan atau simulasi evolusi yang melampaui batas-batas evolusi biologis alami," ujarnya.

Ia mengatakan ide-ide dalam fiksi ilmiah kini mulai diwujudkan dalam berbagai teknologi modern. Salah satunya lewat algoritma evolusi yang dipakai untuk mencari solusi optimal secara otomatis.

Robot Bisa "Belajar" Sendiri

Ronny menjelaskan evolusi buatan kini sudah digunakan dalam pengembangan robot adaptif. Dalam robotika evolusioner, robot mampu belajar bergerak dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa diprogram secara detail satu per satu.

"Dalam robotika evolusioner, robot mempelajari cara bergerak dan beradaptasi dengan lingkungan melalui proses simulasi evolusi, tanpa perlu pemrograman yang rinci," katanya.

Selain robotika, konsep ini juga dipakai dalam pengembangan obat, desain material, hingga simulasi ekosistem digital.

Dalam bioteknologi, teknik directed evolution bahkan dimanfaatkan untuk menciptakan enzim baru yang lebih efisien untuk industri biofuel dan farmasi.

Ronny menambahkan pendekatan evolusi buatan juga membantu ilmuwan merancang bentuk material atau struktur yang lebih optimal.

"Pendekatan ini membantu kita menciptakan material baru atau struktur arsitektur yang lebih kuat dan efisien," jelasnya.

Tetap Perhatikan Risiko

Di balik potensinya, evolusi buatan juga memunculkan berbagai tantangan etis dan sosial, mulai dari pertanyaan soal tanggung jawab pencipta teknologi hingga kekhawatiran kecerdasan buatan menggantikan tenaga manusia.

Menurut Ronny, selain sebagai inovasi, evolusi buatan juga merupakan cara manusia membayangkan kemungkinan masa depan.

"Jadi, evolusi buatan bukan hanya sebuah konsep dalam cerita fiksi ilmiah, tetapi juga sudah diterapkan secara nyata di berbagai bidang," tutupnya.

Hal ini menunjukkan bahwa ide yang dulu hanya ada dalam cerita fiksi kini mulai hadir dalam kehidupan nyata. Akan tetapi, pemanfaatannya tetap perlu dibarengi pengawasan dan pertimbangan etis agar teknologi berkembang secara bertanggung jawab.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads