Misteri Tanggal Pertama Kalender Masehi yang Tercatat, Benarkah 6 Februari?

ADVERTISEMENT

Misteri Tanggal Pertama Kalender Masehi yang Tercatat, Benarkah 6 Februari?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Minggu, 31 Mei 2026 20:00 WIB
Ilustrasi kalender Maret 2026
Foto: Getty Images/shironagasukujira/Ilustrasi kalender.
Jakarta -

Pernahkah kalian menuliskan tanggal di buku harian atau sekadar mencoret-coret tembok? Kebiasaan mencatat waktu secara rinci ternyata sudah ada sejak zaman kuno. Namun, tahukah kalian kapan pertama kali sebuah tanggal lengkap ditulis dalam sejarah?

Jawabannya ternyata datang dari sebuah coretan atau grafiti kuno di dinding rumah peninggalan Romawi yang telah lama terbengkalai di Pompeii, Italia, yakni Casa delle Nozze d'Argento. Di antara berbagai coretan di sana, terdapat satu tulisan kuno yang mencatat tanggal dan hari yang sangat spesifik. Ini menjadikannya sebagai catatan tanggal lengkap pertama yang pernah ditemukan.

Penemuan Catatan Tanggal Pertama

Dalam grafiti tersebut, tertulis kalimat Latin yang merujuk pada masa jabatan konsul Nero Caesar Augustus dan Cossus Lentulus. Dari nama-nama tokoh tersebut, para sejarawan berhasil melacak tahun penulisannya, yaitu 60 Masehi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut peneliti, orang Romawi kuno memiliki cara yang unik dalam menghitung hari. Alih-alih menghitung maju dari tanggal satu seperti yang kita lakukan saat ini, mereka menghitung mundur menuju tiga titik tetap dalam sebulan, yakni Nones (tanggal 5 atau 7), Ides (tanggal 13 atau 15), dan Kalends (tanggal pertama bulan berikutnya).

Dari perhitungan matematis Romawi yang cukup rumit tersebut, ditemukanlah sebuah tanggal pasti, yakni 6 Februari. Menariknya, sang penulis grafiti juga menambahkan kalimat "dies Solis" yang berarti hari Matahari (Minggu). Jadi, tanggal lengkap pertama dalam sejarah yang tercatat adalah Minggu, 6 Februari 60 Masehi.

ADVERTISEMENT

Hari Minggu atau Rabu?

Meski terdengar sebagai penemuan yang luar biasa, ternyata ada satu masalah. Dua peneliti dari University College London, Ilaria Bultrighini dan Sacha Stern, pada tahun 2017 menyadari sebuah kejanggalan dalam penanggalan tersebut.

Menurut perhitungan kalender modern yang akurat, tanggal 6 Februari pada 60 Masehi seharusnya jatuh pada hari Rabu, bukan hari Minggu.

Lalu, kenapa penulis kuno tersebut menuliskannya sebagai hari Minggu?

Para ahli sendiri belum sepenuhnya yakin. Namun, penjelasan paling masuk akal datang dari filolog Kanada, Pierre Brind'Amour.

Menurutnya, sang penulis grafiti mungkin menggunakan definisi "hari" yang sedikit berbeda dari yang kita kenal sekarang, yang erat kaitannya dengan ilmu astrologi pada masa itu.

Asal Usul Penamaan Hari dan Astrologi

Penamaan hari-hari dalam seminggu sejatinya terinspirasi dari benda-benda langit dan dewa-dewa Yunani-Romawi seperti Matahari, Bulan, Mars (dewa perang), Merkurius, Jupiter (dewa petir), Venus, dan Saturnus.

Orang zaman dahulu menggunakan astrologi untuk menyusun urutan hari. Para ahli astrologi kuno membagi 24 jam dalam sehari ke dalam tujuh objek langit tersebut dalam urutan siklus tertentu berdasarkan pergerakannya. Planet yang ditugaskan pada jam pertama setiap hari akan menjadi nama hari itu.

Namun, orang Romawi terkadang memiliki sistem perhitungan yang berbeda. Menurut Brind'Amour, ada kalanya mereka memutuskan untuk mulai menghitung perputaran planet pada saat Matahari terbenam, bukan pada saat Matahari terbit.

Pergeseran waktu awal mula "hari" inilah yang paling mungkin menjelaskan mengapa tanggal 6 Februari 60 Masehi saat itu ditulis dan diyakini sebagai hari Minggu, sementara secara perhitungan kalender modern adalah hari Rabu.

Makna Pencatatan Waktu

Terlepas dari apakah perbedaan itu disebabkan oleh perhitungan astrologi yang rumit atau sekadar kesalahan sang penulis grafiti dalam mengingat hari, hal tersebut bukanlah inti utamanya. Coretan di Pompeii itu tetaplah sebuah tonggak sejarah.

Grafiti tersebut menjadi contoh paling awal yang diketahui tentang tanggal yang dilengkapi dengan nama hari dalam satu minggu. Penemuan ini menandai perubahan penting tentang bagaimana peradaban manusia di masa lalu mulai mengonseptualisasikan waktu dan mengubahnya menjadi sebuah sistem pencatatan peristiwa.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads