Wilayah selatan Mindanao, Filipina diguncang gempa dengan magnitudo (M) 7,7 pada Senin pagi sekitar pukul 07.37 waktu setempat. Berdasarkan pantauan United States Geological Survey (USGS), gempa terjadi pada kedalaman sekitar 35 kilometer.
Dikutip dari CNN World, menurut Philippine Institute of Volcanology and Seismology (Phivolcs), gempa ini terjadi di lepas pantai Kota General Santos di Provinsi Sarangani, ujung paling selatan Pulau Mindanao.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan daerah-daerah yang terancam dan mengeluarkan status peringatan dini tsunami berdasarkan hasil pemodelan dampak gelombang. Ada 25 wilayah berisiko, dengan 15 wilayah berstatus Siaga (ketinggian tsunami 0,5-3 meter) dan 10 wilayah berstatus Waspada (ketinggian tsunami <0,5 meter).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui pengamatan muka air laut, BMKG telah mendeteksi 9 wilayah yang terjadi tsunami. Sebagaimana dikutip dari detikSulsel, berikut daftar selengkapnya:
1. Bitung: Ketinggian 0,29 meter, pukul 07:51 WIB
2. Loloda-Halmahera Barat: Ketinggian 0,09 meter, pukul 07:20 WIB
3. Melonguane-Kepulauan Talaud: Ketinggian 0,32 meter, pukul 07:27 WIB
4. Paleleh: Ketinggian 0,45 meter, pukul 07:34 WIB
5. Tahuna: Ketinggian 0,30 meter, pukul 06:58 WIB
6. Talengan-Sulut: Ketinggian 0,75 meter, pukul 08:20 WIB
7. Tanjungsidupa: Ketinggian 0,32 meter, pukul 07:39 WIB
8. Ternate: Ketinggian 0,14 meter, pukul 07:51 WIB
9. Ulusiau-Sitaro: Ketinggian 0,18 meter, pukul 07:27 WIB.
Saat ini, BMKG sudah mengakhiri peringatan dini tsunami setelah melakukan pemantauan ketat dan evaluasi terhadap aktivitas gelombang air laut di sejumlah wilayah pesisir. Apabila dilihat dari data di atas, gelombang tertinggi terjadi di Talengan dengan ketinggian 0,75 meter.
Meski demikian, ketinggian tsunami kurang dari satu meter tidak dapat dianggap enteng. Bahkan, tsunami kurang dari setengah meter tetaplah sangat berbahaya, mengapa?
Mengapa Tsunami Kurang dari 1 Meter Tetap Berbahaya?
Pada Juli tahun lalu, Kamchatka di Rusia diguncang M 8,7. Pada saat itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG secara kompak mengimbau agar masyarakat yang wilayahnya terdampak tsunami akibat gempa tersebut, menjauhi pantai untuk sementara waktu.
Pada saat itu, BMKG memberi peringatan potensi tsunami di wilayah Indonesia berstatus Waspada, dengan ketinggian tsunami kurang dari 0,5 meter. Namun, hal ini tetap berbahaya karena pada kasus serupa tahun 2011, tsunami berstatus Waspada tetap menimbulkan korban jiwa.
"Sekali lagi, kalau kita bicara tsunami, tsunami 50 cm pun itu bisa membunuh. Kita bisa lihat pengalaman kita di 2011. Itu ada satu korban jiwa di Jayapura," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Dr Abdul Muhari, melalui konferensi pers secara daring saat itu, Rabu (30/7/2025).
Abdul Muhari kala itu mengatakan, formasi-formasi berbentuk teluk di sekitar pantai banyak terdapat di Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Papua, dan Papua Barat. Ia menjelaskan bahwa, terutama pada tsunami yang melintasi samudra, gelombang pertama tidak harus yang terbesar.
"Biasanya gelombang terbesarnya datang itu pada gelombang ketiga, gelombang keempat, gelombang kelima. Dan waktunya itu bisa periode jam. Jadi antara gelombang pertama dan gelombang kedua dan gelombang ketiga Itu bisa durasi jedanya satu hingga tiga jam," terangnya.
"Sehingga ini yang kita harus waspadai bahwa masyarakat tidak hanya menjauhi pantai pada saat estimasi waktu tsunaminya datang, tetapi juga tetap harus menjauhi pantai sampai beberapa waktu setelah peringatan dini tsunami atau waktu tiba tsunami itu datang, idealnya dua sampai tiga jam," imbuhnya.
Sementara, BMKG saat itu menyampaikan bahwa bentuk pantai, khususnya di wilayah teluk, bisa mengamplifikasi ketinggian tsunami. Maka dari itu, tsunami kurang dari satu meter tetap saja berpotensi mematikan.
"Kita belajar dari tsunami Tohoku 2011. Ini status ancamannya sama-sama Waspada, tapi saat itu tsunami itu menelan korban jiwa satu orang dan kita perlu mewaspadai," ujar mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr Daryono, SSi, MSi, saat itu.
"Kami minta kepada para stakeholder untuk fokus memberikan arahan untuk menjauh dari pantai untuk kawasan-kawasan yang berupa teluk sempit ya, karena ini bisa terjadi amplifikasi (ketinggian tsunami)," imbaunya.
(nah/faz)










































