Rahasia Lebah Tak Kepanasan Saat Terbang, Begini Cara 'Kipas Alami' Mereka Bekerja

ADVERTISEMENT

Rahasia Lebah Tak Kepanasan Saat Terbang, Begini Cara 'Kipas Alami' Mereka Bekerja

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Minggu, 14 Jun 2026 18:00 WIB
Ilustrasi lebah
Ilustrasi lebah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Robby_Holmwood
Jakarta -

Ketika terbang, terutama saat melayang di satu titik (hovering), tubuh lebah bisa memanas dengan cepat karena otot sayapnya bekerja sangat keras. Namun, riset baru menunjukkan lebah memiliki sistem pendingin alami yang sangat efisien. Dengan hanya mengepakkan sayapnya, lebah ternyata mampu menciptakan arus udara yang menurunkan suhu tubuhnya secara signifikan.

Dilansir oleh Phys.org, tim peneliti internasional ini mempelajari cara lebah mempertahankan diri di udara melalui gerakan sayapnya. Mereka menggunakan kamera berkecepatan tinggi dan pemodelan komputer untuk menganalisis aliran udara yang terbentuk di sekitar tubuh lebah saat terbang.

Sayap Lebah Bekerja Seperti Kipas Pendingin

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan mengamati lebah saat melayang di ruang tertutup yang suhunya diatur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menemukan bahwa setiap kepakan sayap lebah tidak hanya menciptakan daya angkat untuk tetap terbang, tetapi juga menggerakkan udara di sekitar dada dan perutnya. Udara yang berputar ini berfungsi seperti kipas mini yang membantu membuang panas berlebih dari tubuh lebah.

Ketika sayap lebah bergetar dengan kecepatan tinggi (sekitar 200 kali per detik) tercipta arus udara turbulen di sekitar thoraks (bagian dada) yang bisa menurunkan suhu hingga beberapa derajat Celsius. Bagi hewan kecil seperti lebah, perbedaan suhu sekecil itu sudah cukup besar untuk mencegah kerusakan jaringan akibat panas.

ADVERTISEMENT

Para peneliti juga menghitung bahwa hampir 30 persen energi yang dikeluarkan lebah saat terbang digunakan untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh. Jika tidak memiliki mekanisme ini, lebah akan mengalami overheating dalam hitungan menit saat terbang di bawah sinar matahari.

Sistem ini menunjukkan betapa efisiennya evolusi serangga kecil ini. Dengan memanfaatkan energi gerakan yang sudah ada, lebah tidak perlu mengeluarkan tenaga tambahan untuk menurunkan suhu tubuhnya.

Bagaimana Dampak terhadap Kelangsungan Hidup Lebah

Meski mekanisme pendinginan alami ini sangat efektif, para peneliti menemukan bahwa sistem tersebut juga memiliki batas.

Saat suhu lingkungan turun, arus udara yang diciptakan oleh kepakan sayap bisa membuat panas tubuh lebah justru cepat hilang. Dalam kondisi ini, lebah harus menyesuaikan pola geraknya agar tidak kehilangan terlalu banyak energi.

Temuan ini menunjukkan betapa sensitifnya keseimbangan suhu tubuh lebah terhadap perubahan kondisi udara di sekitarnya. Mekanisme pendinginan yang berguna pada saat udara panas, bisa berubah menjadi tantangan ketika suhu menurun.

Peneliti juga menekankan bahwa pemahaman tentang proses ini penting untuk melihat bagaimana lebah mempertahankan kestabilan fisiologinya dalam berbagai kondisi cuaca. Dengan sistem yang begitu presisi, lebah pada dasarnya memiliki pengatur suhu alami yang memungkinkan mereka tetap aktif dan efisien selama penerbangan.

Selain itu, hasil penelitian ini membuka kemungkinan penerapan praktis di bidang sains terapan. Cara lebah mengatur sirkulasi udara di sekitar tubuhnya dapat menjadi acuan dalam desain sistem ventilasi dan pendinginan buatan berukuran kecil, seperti pada robot terbang mini atau perangkat mikro lainnya yang memerlukan efisiensi energi tinggi.

Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan di prosiding Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences dengan judul "Induced airflow cools hovering bumble bees", 18 Februari 2026.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads