Mengapa Belakangan Ini Sering Pemadaman Listrik? Ini Kata Pakar ITB

ADVERTISEMENT

Mengapa Belakangan Ini Sering Pemadaman Listrik? Ini Kata Pakar ITB

Cicin Yulianti - detikEdu
Selasa, 16 Jun 2026 08:00 WIB
Pedagang menggunakan penerangan darurat saat terjadi pemadaman listrik di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (23/5/2026). PT PLN (Persero) menyatakan pemadaman listrik massal (blackout) di sejumlah wilayah Sumatera dipicu gangguan pada sistem transmisi interkon
Pemadaman listrik. Foto: ANTARA FOTO/Akramul Muslim
Jakarta -

Belakangan ini pemadaman listrik kerap dijumpai di wilayah Pulau Jawa dan Bali. Hal ini tentunya memancing rasa penasaran masyarakat.

Apakah tengah ada gangguan listrik atau memang sengaja dilakukan? Pemadaman listrik ini menurut pakar tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Ir Kevin Marojahan Banjar Nahor dapat terjadi karena dua kemungkinan.

Mengutip unggahan resmi ITB, Kevin menyebut faktor pertama adalah force outage, yakni gangguan mendadak yang terjadi di luar perencanaan. Sementara faktor kedua adalah derating, yaitu penurunan kapasitas produksi pembangkit listrik yang dilakukan secara sengaja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Upaya Amankan Cadangan Bahan Bakar

Menurut Kevin, salah satu alasan dilakukannya pengurangan kapasitas pembangkit adalah untuk menjaga ketersediaan cadangan bahan bakar. Pasalnya, stok batu bara maupun minyak yang digunakan untuk operasional pembangkit listrik saat ini mengalami penurunan.

Dalam kondisi tersebut, operator pembangkit memilih menurunkan daya operasi hingga sekitar 60 % dari kapasitas maksimal. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi agar pasokan bahan bakar tidak habis sepenuhnya.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, apabila pembangkit dipaksa beroperasi pada kapasitas penuh sementara bahan bakar habis, maka Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) membutuhkan waktu hingga dua hari untuk kembali beroperasi secara normal.

"Jika dipaksa 100% dan bahan bakar itu habis, maka Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) membutuhkan dua hari untuk menyala kembali," ujar Kevin seperti dikutip dari akun Instagram resmi ITB, Senin (15/6/2026).

Kevin melanjutkan, menurut teori operasi sistem tenaga listrik, setiap jaringan kelistrikan harus memiliki cadangan daya untuk mengantisipasi gangguan yang tidak terduga. Ketika permintaan listrik berada pada titik tertinggi atau beban puncak, pemadaman bergilir kerap menjadi pilihan yang terpaksa diambil.

Langkah ini dilakukan untuk menekan beban sistem, menjaga ketersediaan cadangan daya, serta mencegah terjadinya pemadaman listrik secara menyeluruh (total blackout).

Tantangan Sumber Listrik saat Fenomena El Nino Godzila

Fenomena El Nino yang diperkirakan membawa musim kering berkepanjangan menjadi tantangan baru bagi sektor ketenagalistrikan nasional. Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada sistem listrik dari dua sisi sekaligus, yakni peningkatan permintaan dan penurunan pasokan energi.

Di satu sisi, suhu udara yang lebih panas diperkirakan akan mendorong lonjakan konsumsi listrik akibat meningkatnya penggunaan pendingin ruangan (AC) di rumah tangga maupun sektor bisnis.

Di sisi lain, berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan penurunan debit air pada waduk-waduk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Kondisi tersebut berisiko menurunkan kapasitas produksi listrik, termasuk pada PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat yang menjadi salah satu penopang pasokan listrik di Pulau Jawa.

"Debit air menyusut tajam, mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat," ujar Kevin.

Pemadaman Listrik Segera Dipulihkan

Mengutip detikBali, pemadaman listri di Bali pada 12 Juni 2026 lalu memang bertujuan untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan sekaligus menjaga kualitas pasokan listrik kepada pelanggan.

"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan pelayanan kami," tulis PLN UID Bali dalam akun Instagram resmi PLN UID Bali.

Kementerian ESDM dan PT PLN telah menyampaikan bahwa pemerintah akan melakukan percepatan pemulihan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa permasalahan stok batu bara seperti pada tahun 2022 tidak terjadi kembali.

"Kemarin memang ada, belum maksimal. Ini kita lakukan percepatan untuk pemulihan," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026) lalu dikutip dari detikFinance.




(cyu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads