Orang Miskin di Eropa Lebih Rentan Cuaca Ekstrem, Ini Sebabnya

ADVERTISEMENT

Orang Miskin di Eropa Lebih Rentan Cuaca Ekstrem, Ini Sebabnya

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Minggu, 21 Jun 2026 06:00 WIB
A homeless man sleeps in his sleeping bag on The Strand in central London on October 1, 2022, as campaigners gather in the city to protest against the cost of living crisis. (Photo by JUSTIN TALLIS / AFP) (Photo by JUSTIN TALLIS/AFP via Getty Images)
Foto: Justin Tallis/AFP/Getty Images/Potret Gelandangan di Inggris.
Jakarta -

Cuaca ekstrem ternyata tidak berdampak sama bagi semua orang. Sebuah studi besar di Eropa menemukan bahwa kondisi ekonomi dan sosial sangat memengaruhi risiko kematian akibat suhu panas maupun dingin.

Riset yang dipimpin Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal) menunjukkan masyarakat di wilayah dengan ketimpangan sosial yang lebih tinggi cenderung lebih rentan saat menghadapi gelombang panas maupun cuaca dingin ekstrem. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Health dan menganalisis lebih dari 161 juta data kematian di 32 negara Eropa sepanjang 2000-2019.

Peneliti menyebut perubahan iklim kini menjadi salah satu faktor besar yang memengaruhi kesehatan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir saja, lebih dari 180 ribu kematian terkait panas tercatat di Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena perubahan iklim tidak memengaruhi semua populasi secara setara, hasil kami membantu menilai dan memperkuat bagaimana faktor sosial-ekonomi dimasukkan ke dalam kebijakan adaptasi," jelas koordinator studi Joan Ballester, dilansir dari Phys.org.

ADVERTISEMENT

Wilayah Miskin Lebih Berisiko saat Cuaca Ekstrem

Penelitian menemukan bahwa daerah dengan tingkat kemiskinan dan ketimpangan sosial tinggi mengalami risiko kematian lebih besar akibat suhu ekstrem.

Faktor seperti rumah yang kurang layak, sulit menghangatkan rumah saat musim dingin, akses layanan kesehatan terbatas, hingga rendahnya pemahaman kesehatan ikut memperburuk dampak cuaca.

Peneliti menggunakan beberapa indikator sosial-ekonomi, seperti:

- ⁠Ketimpangan pendapatan (Gini index)
- Kesulitan menjaga rumah tetap hangat
- Deprivasi sosial dan material

Hasilnya, ketidakmampuan menghangatkan rumah diperkirakan berkaitan dengan lebih dari 300 ribu kematian terkait suhu di Eropa. Sementara ketimpangan ekonomi dikaitkan dengan sekitar 177 ribu kematian.

Menurut peneliti utama Blanca Paniello-Castillo, kondisi sosial ternyata menjadi faktor penting yang menentukan seberapa kuat seseorang menghadapi perubahan suhu.

"Daerah dengan GDP per kapita lebih tinggi menunjukkan mortalitas lebih rendah akibat dingin, tetapi lebih tinggi selama cuaca panas," ungkap peneliti.

Daerah Kaya Lebih Aman dari Dingin tapi Rentan Panas

Menariknya, wilayah dengan ekonomi lebih maju justru memiliki pola berbeda. Daerah dengan pendapatan tinggi dan harapan hidup lebih panjang cenderung lebih aman saat cuaca dingin. Hal ini diduga karena kualitas rumah lebih baik, sistem kesehatan lebih kuat, dan angka kemiskinan energi lebih rendah.

Namun, wilayah kaya juga tercatat memiliki angka kematian lebih tinggi saat gelombang panas. Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan urbanisasi yang padat.

Kota besar menyerap panas lebih banyak melalui aspal, gedung, dan minimnya ruang hijau. Fenomena ini dikenal sebagai "urban heat island" atau pulau panas perkotaan, yang membuat suhu kota terasa lebih panas dibandingkan dengan wilayah sekitarnya.

Perubahan Iklim Buka Hanya Soal Cuaca

Penelitian ini menegaskan bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya persoalan suhu, tetapi juga berkaitan erat dengan ketimpangan sosial. Orang yang hidup di lingkungan dengan fasilitas lebih buruk memiliki risiko kesehatan lebih besar ketika cuaca ekstrem datang.

Blanca mengatakan penelitian ini penting karena mencakup wilayah urban dan rural sekaligus sehingga mewakili populasi Eropa secara lebih menyeluruh.

"Kami menganalisis data kematian harian di 32 negara Eropa, termasuk lebih dari 161 juta kematian antara tahun 2000 dan 2019," jelasnya.

Hasil studi ini dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan adaptasi iklim yang lebih adil. Sebab, perlindungan terhadap cuaca ekstrem tidak cukup hanya lewat peringatan panas atau dingin, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang paling rentan.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads