AI Bikin CV Kurang Bernilai, Pakar Saran Andalkan Wawancara dan Video

ADVERTISEMENT

AI Bikin CV Kurang Bernilai, Pakar Saran Andalkan Wawancara dan Video

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Minggu, 28 Jun 2026 09:00 WIB
AI Bikin CV Kurang Bernilai, Pakar Saran Andalkan Wawancara dan Video
Ilustrasi wawancara kerja. Foto: Getty Images/Wormphoto
Jakarta -

Artificial intelligence (AI) kini semakin banyak digunakan dalam proses melamar kerja. Sementara perusahaan memanfaatkan AI untuk menyaring kandidat, para pencari kerja juga mengandalkan teknologi tersebut untuk menyusun CV dan surat lamaran.

Fenomena ini membuat proses rekrutmen berubah cukup drastis. Terlebih, CV yang dibuat dengan AI membuat perekrut sulit mengandalkannya untuk benar-benar meyakini keunggulan pelamar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AI Bikin CV Terlihat Sama

Berdasarkan laporan 2026 Talent Trends dari perusahaan rekrutmen Michael Page, sekitar 67 persen pencari kerja menggunakan AI untuk memperbaiki bahasa, menyesuaikan CV dengan lowongan, hingga merangkum keterampilan yang dimiliki.

Senior Managing Director Michael Page, David George, mengatakan kondisi tersebut membuat perekrut kesulitan menemukan kandidat terbaik.

ADVERTISEMENT

"Yang kami temukan saat AI digunakan untuk lamaran kerja adalah orang-orang melamar secara massal dan semua CV terlihat sama," ujarnya, dikutip dari ABC.

Wawancara Jadi Tahap Penting

Menurutnya, saat ini membedakan CV yang baik dan buruk menjadi semakin sulit. Karena itu, proses wawancara justru menjadi tahap penting untuk melihat kemampuan asli pelamar.

Opsi lainnya, video lamaran bisa disyaratkan agar kandidat bisa menjelaskan capaian, pengalaman, dan skill masing-masing.
"AI tidak bisa merangkum apa yang benar-benar Anda capai dalam pekerjaan, itu harus datang dari diri Anda sendiri. Anda boleh menggunakan AI untuk memoles CV, tetapi sentuhan personal tetap harus ada," tuturnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Deputi Komisioner Jobs and Skills Australia, Megan Lilly, bagi penggunaan AI dalam seleksi berkas. Dalam artikelnya, ia menilai AI memang akan terus mempercepat proses rekrutmen, tetapi sistem tersebut bisa gagal mengenali potensi seseorang jika hanya bergantung pada kata kunci.

Ia berpandangan, algoritma seharusnya menilai seseorang berdasarkan kemampuan nyata yang dimiliki, bukan hanya hal-hal yang mudah dibaca mesin.

Guru Besar Data Science dari University of Queensland, Prof Gianluca Demartini, menilai penggunaan AI dalam perekrutan telah menjadi "permainan" antara pelamar dan perusahaan karena kedua pihak sama-sama memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi.

Menurutnya, ada risiko hilangnya identitas pribadi pelamar ketika AI menghasilkan dokumen dengan pola yang seragam.

"Di sisi pelamar, kita kehilangan karakter unik dan kepribadian karena semua alat ini menghasilkan tipe CV yang sangat mirip," ujar Demartini.

Ia juga mengingatkan, AI yang digunakan perusahaan saat merekrut pelamar berpotensi membawa bias tertentu apabila tidak diawasi manusia.

"Sangat penting memastikan bahwa manusia yang menggunakan AI tetap memegang kendali dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat atau direkomendasikan oleh alat AI," ujar Demartini.

Karena itu, banyak perekrut kini mulai memberi perhatian lebih pada kemampuan yang sulit digantikan mesin, seperti komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, hingga kemampuan bekerja sama dalam tim.

Skill Lebih Penting daripada Gelar

Jobs and Skills Australia menilai dunia kerja mulai bergerak menuju pendekatan skills-based hiring atau perekrutan berbasis keterampilan. Pendekatan ini tidak hanya melihat gelar atau jabatan seseorang, tetapi juga kemampuan nyata yang dimiliki.

Menurut Megan, keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah menjadi modal penting di tengah perkembangan AI dan otomatisasi.

Ia juga menegaskan pentingnya membangun bahasa keterampilan yang sama antara dunia pendidikan dan dunia kerja agar kemampuan seseorang lebih mudah dikenali.

"Mari kita pastikan algoritma menilai kita berdasarkan apa yang bisa kita lakukan, bukan berdasarkan apa yang tidak bisa mereka lihat," tutupnya.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads