Aphelion Terjadi Hari Ini 6 Juli 2026, Benarkah Bikin Cuaca Lebih Dingin?

ADVERTISEMENT

Aphelion Terjadi Hari Ini 6 Juli 2026, Benarkah Bikin Cuaca Lebih Dingin?

Cicin Yulianti - detikEdu
Senin, 06 Jul 2026 15:00 WIB
ilustrasi matahari, ilustrasi kiamat
Matahari. Foto: unsplash/james day
Jakarta -

Banyak informasi yang beredar di media sosial bahwa hari ini, 6 Juli 2026, Bumi disebut tengah berada pada titik terjauh dari Matahari. Fenomena tersebut kemudian dinamakan aphelion.

Aphelion ini terjadi di tengah musim panas. Banyak yang mengira, akibat jarak Bumi yang jauh dari Matahari membuat cuaca lebih dingin dari biasanya. Apakah hal tersebut benar?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aphelion Terjadi Satu Tahun Sekali

Mengutip penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam laman resminya, aphelion adalah fenomena astronomis yang terjadi satu tahun sekali pada kisaran bulan Juli.

Selama aphelion, posisi Matahari berada pada titik terjauh Bumi. Meski demikian, kondisi itu tak berpengaruh pada atmosfer atau cuaca di permukaan bumi.

ADVERTISEMENT

Dilansir Earthsky, aphelion terjadi sekitar pukul 12.30 siang CDT (17.30 UTC) pada 6 Juli 2026. Saat itu, Bumi akan berjarak sekitar 94.502.961 mil (152.087.774 km) dari Matahari.

Jarak antara Bumi dan Matahari berubah karena orbit Bumi hampir atau tidak sepenuhnya berbentuk lingkaran. Perubahan jarak antara bumi dan matahari pun tak banyak berubah yakni hanya sekitar di atas 3%.

Mengapa dinamakan aphelion? Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani, yakni apo yang artinya jauh, lepas, terpisah, dan helios untuk dewa matahari Yunani. Artinya terpisah dari Matahari.

Penyebab Cuaca Lebih Dingin

Selama aphelion ini, ada yang menyebut bahwa suhu bumi menjadi lebih dingin karena jarak Bumi dan Matahari yang menjauh. Apakah hal itu benar?

Adapun penyebab cuaca terasa lebih dingin merupakan fenomena alami yang umum terjadi pada puncak musim kemarau, yakni Juli-September. Saat itu, dari Jawa hingga Nusa Tenggara Timur ada pada musim kemarau.

Selama periode tersebut, pergerakan angin dari arah timur ke tenggara berasal dari Benua Australia. Selama Juli ini, wilayah Australia tengah dalam musim dingin.

Tekanan udara tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia ke Indonesia atau Monsoon Dingin Australia. Moonson tersebut bertiup ke Indonesia melalui Samudra Indonesia yang punya suhu relatif lebih dingin.

Oleh karena itu, suhu di beberapa wilayah Indonesia, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, lebih dingin. Tak hanya itu, berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa turut berpengaruh terhadap suhu pada malam hari.




(cyu/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads