Apakah Heat Dome Bisa Terjadi di Indonesia? Pakar UB Jelaskan Kemungkinannya

ADVERTISEMENT

Apakah Heat Dome Bisa Terjadi di Indonesia? Pakar UB Jelaskan Kemungkinannya

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 07 Jul 2026 16:30 WIB
Heat dome membakar Eropa
Heat dome di Eropa. Foto: ESA
Jakarta -

Sejumlah negara di Eropa belakangan ini dilanda heat dome. Suhu udara di beberapa negara bahkan mencapai di atas 40 derajat Celsius.

Seperti yang sempat tercatat di Jerman, suhu di sana mencapai 41,7 derajat Celsius. Kemudian juga sempat tercatat di Polandia, suhu mencapai 40,5 derajat Celsius.

Menurut guru besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof Drs Ir Adi Susilo, MSi, PhD, heat dome adalah fenomena ketika panas terperangkap di suatu wilayah karena tekanan udara tinggi yang menghambat sirkulasi udara. Kondisi tersebut lantas mengakibatkan panas terus terakumulasi, sehingga suhu permukaan meningkat ekstrem.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Heat dome dapat diibaratkan seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap sehingga terus memantul kembali ke permukaan bumi. Mekanismenya hampir menyerupai efek rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal pada wilayah tertentu," jelas Prof Adi, melalui keterangan tertulis pada Selasa (7/7/2026).

ADVERTISEMENT

Bagaimana Kemungkinannya di Indonesia?

Prof Adi menerangkan, heat dome umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga lintang tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara. Hal itu dipengaruhi oleh karakteristik sirkulasi atmosfer dan luas daratan yang memungkinkan panas bertahan lebih lama, jika dibandingkan dengan wilayah kepulauan.

"Di Eropa daratannya sangat luas. Panas menjadi lebih mudah terakumulasi dan sulit dilepaskan. Karena itu, heat dome lebih mungkin terjadi di wilayah seperti Eropa dan Amerika dibandingkan dengan negara kepulauan seperti Indonesia," bebernya.

Ia mengatakan, fenomena heat dome tidak mudah diprediksi lantaran dipengaruhi oleh berbagai kondisi atmosfer yang dinamis. Walau begitu, wilayah dengan karakteristik lintang tinggi dan daratan yang luas mempunyai potensi lebih besar untuk mengalami heat dome.

Ia menegaskan kemungkinan heat dome terjadi di Indonesia sangatlah kecil. Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan, Indonesia mempunyai mekanisme alami yang membantu melepaskan panas melalui sirkulasi udara dan penguapan dari permukaan laut.

"Indonesia akan sangat sulit mengalami heat dome karena wilayah kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan sehingga tidak terperangkap seperti di kawasan dengan daratan yang luas," ungkapnya.

Heat Dome Berbeda dengan Heat Wave

Prof Adi juga menekankan heat dome tidaklah sama dengan heat wave atau gelombang panas. Fenomena heat wave merupakan peningkatan suhu udara dalam periode tertentu, sedangkan heat dome disebabkan oleh lapisan tekanan tinggi yang memerangkap udara panas, sehingga suhu menjadi jauh lebih tinggi.

"Dalam heat dome, panas tidak bisa keluar sehingga terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya dengan gelombang panas biasa," sebutnya.

Meskipun kemungkinan Indonesia mengalami heat dome sangatlah sulit, Prof Adi mengingatkan agar masyarakat tetap waspada terhadap paparan panas matahari, khususnya saat intensitas radiasi meningkat pada musim kemarau. Ia menyebut risiko yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah dampak paparan sinar ultraviolet yang dapat membahayakan kesehatan, ketika seseorang beraktivitas di luar ruangan terlalu lama.

Ia mengingatkan supaya masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan saat cuaca sangat terik, juga tidak lupa mengenakan topi, pakaian pelindung, dan tabir surya untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat sinar matahari.

Prof Adi turut mengimbau agar masyarakat lebih bijaksana dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Ia menilai banyak informasi tentang cuaca ekstrem yang belum tentu benar, maka dari itu perlu diverifikasi melalui sumber resmi seperti BMKG atau instansi pemerintah terkait.

"Masyarakat perlu bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya karena justru dapat menimbulkan kepanikan," ucapnya.




(nah/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads