Perusahaan AI Punya Proyek Musnahkan Buku Fisik, Pakar Ungkap Bahayanya

ADVERTISEMENT

Perusahaan AI Punya Proyek Musnahkan Buku Fisik, Pakar Ungkap Bahayanya

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 07 Agu 2026 18:45 WIB
Ilustrasi tumpukan buku-buku.
Perusahaan AI Musnahkan Buku Langka. (Foto: Unsplash.com)
Jakarta -

Perusahaan AI asal Silicon Valley, Anthropic, memborong jutaan buku langka untuk kemudian dimusnahkan. Hal ini menuai beragam tanggapan secara global, baik dari publik maupun pakar.

Mengutip The Telegraph, Anthropic memborong buku langka untuk kemudian dipindai menggunakan teknologi berkecepatan tinggi. Setelah proses digitalisasi selesai, salinan fisik asli dihancurkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para penjual buku mengatakan fenomena ini dipicu oleh kondisi data wall, yakni perusahaan AI mulai kehabisan sumber data digital yang tersedia di internet. Perusahaan akhirnya mencari karya asli dari manusia yang belum pernah dipublikasikan dalam bentuk digital.

Setelah buku melalui proses digitalisasi, buku fisik dihancurkan untuk menghindari persoalan hak cipta.

ADVERTISEMENT

Sinyal Bahaya bagi Ilmu Pengetahuan

Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Dr Joko Santoso, M Hum, menilai praktik pemusnahan buku ini merupakan sinyal bahaya bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

"Jika informasi hanya mengandalkan hasil digitalisasi, siapa yang menjamin tidak ada perubahan isi? Oleh karena itu, tugas perpustakaan adalah memastikan sumber asli tetap dapat ditelusuri," ujar Joko dalam laman UMY, dikutip Jumat (7/8/2026).

Joko menegaskan bahwa buku cetak edisi pertama merupakan representasi autentik dari penulis. Oleh karena itu, keberadaan naskah fisik asli harus dipertahankan sebagai rujukan utama.

Potensi Monopoli Data

FPDI juga menyoroti potensi monopoli data oleh perusahaan. Jika naskah fisik musnah dan data digital hanya dikuasai perusahaan, masyarakat bisa kehilangan akses informasi secara gratis.

"Jika seluruh pengetahuan beralih ke digital dan dikuasai perusahaan AI, masyarakat bisa bergantung pada layanan berbayar. Padahal, perpustakaan menjamin hak masyarakat untuk memperoleh informasi secara gratis. Jangan sampai akses pengetahuan tidak lagi bebas karena dikuasai pihak tertentu," tegasnya.

FPDI menegaskan bahwa digitalisasi memiliki peran penting. Namun, dengan catatan tujuan utamanya adalah pelestarian (preservation) dan perluasan akses publik (accessibility).

Oleh karena itu, FPDI mendorong agar isi naskah kuno dihidupkan melalui berbagai media modern, seperti multimedia, komik, dan animasi. Dengan cara tersebut, naskah kuno tetap relevan bagi generasi muda.



(nir/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads