Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) akan segera membuka pendaftaran SMK Go Global pada 12 Agustus mendatang. Target kuota program ini adalah 40.000 pekerja di luar negeri.
Sebagai informasi, SMK Go Global adalah pelatihan kejuruan untuk memberikan kesempatan kerja di luar negeri kepada warga Indonesia berbakat yang memiliki keterampilan teknis khusus. Keterampilan tersebut akan diarahkan agar sesuai dengan sektor prioritas, termasuk perawatan, keperawatan, manufaktur, konstruksi, pengelasan, perhotelan, transportasi, dan pertanian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pendaftaran akan dimulai pada 12 Agustus, dan informasinya saat ini sedang disebarluaskan oleh pusat layanan kami (Pusat Layanan Perlindungan Pekerja Migran/KP3MI) di 23 provinsi," kata Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin dalam Antara dikutip Minggu (9/8/2026).
Negara Tujuan SMK Go Global
Para peserta yang berhasil menamatkan program akan dikirimkan untuk mengisi lowongan pekerjaan di:
1. Jepang
2. Jerman
3. Korea Selatan
4. Malaysia
5. Singapura
6. Taiwan
7. Turki
8. Polandia
9. Maladewa
10. Beberapa negara Eropa lainnya tergantung pada permintaan pasar tenaga kerja global.
Mukhtarudin menegaskan pemerintah telah mengamankan peluang kerja di negara-negara tujuan tersebut. Adapun keterampilan yang akan diajarkan juga sudah disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing negara.
"Kami sedangmemprofilkan negara-negara tujuan berdasarkan pesanan pekerjaan yang telah diverifikasi oleh perwakilan kami di luar negeri. Permintaan sudah ada. Berdasarkan permintaan yang telah diverifikasi ini, kami menentukan kompetensi yang dibutuhkan dan menyesuaikan pelatihan kami sesuai dengan itu," jelasnya.
Fokus SMK Go Global Paruh Kedua
Mengingat sudah memasuki paruh kedua tahun 2026, program kali ini akan berfungsi sebagai inisiatif hasil cepat yang berfokus pada peningkatan keterampilan peserta melalui pelatihan bahasa, instruksi teknis, dan sertifikasi profesional. Pelamar wajib memiliki setidaknya satu keterampilan khusus yang dibutuhkan oleh negara tujuan untuk berpartisipasi tahun ini.
"Karena ini adalah program yang memberikan hasil cepat, kami memulai dengan peningkatan keterampilan. Oleh karena itu, kami tidak memulai dari nol," kata Mukhtarudin.










































