Alih-alih Kerja di AS, Alumnus LPDP Ini Pilih Pulang untuk Bangun Papua

ADVERTISEMENT

Alih-alih Kerja di AS, Alumnus LPDP Ini Pilih Pulang untuk Bangun Papua

Cicin Yulianti - detikEdu
Senin, 23 Feb 2026 16:30 WIB
Deky
Deky. Foto: LPDP
Jakarta -

Medelky Anouw, pria asal Papua yang akrab disapa Deky, kini menghabiskan hari-harinya di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire. Ia menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan.

Di balik aktivitasnya sebagai aparatur daerah, tersimpan latar belakang pendidikan yang tak banyak diketahui publik. Deky merupakan alumnus kampus ternama luar negeri, Arizona State University. Ia meraih gelar magister (S2) bidang Kimia melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Kisah Deky menarik perhatian karena pilihannya tersebut. Saat banyak lulusan luar negeri memilih berkarier dan menetap di negara studi, Deky justru memutuskan pulang. Ia menegaskan komitmen untuk mengabdikan ilmu dan pengalamannya bagi pembangunan pendidikan di tanah kelahirannya, Papua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sarjana Pertama di Keluarga

Deky lahir di Beoga, sebuah distrik terpencil di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara.

ADVERTISEMENT

Masa kecil Deky dihabiskan di lingkungan yang belum menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Banyak teman sebayanya lebih akrab dengan kebiasaan negatif seperti nge-lem dan mabuk ketimbang buku dan cita-cita.

Untungnya ia memiliki orang tua yang memberi dukungan penuh pada pendidikan. Berkat dorongan tersebut, Deky berhasil mencatatkan diri sebagai sarjana pertama di keluarganya.

Perjalanan akademiknya juga ditopang sang paman yang membantu Deky menyelesaikan studi strata satu. Usai lulus, ia mengawali pengabdian sebagai guru kimia di sebuah sekolah swasta bernama SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura.

Dapat Beasiswa LPDP dan Lanjut S2

Sebagai guru, Deky ingin sekali menyalurkan ilmunya lebih luas kepada masyarakat Papua, tak cuma siswanya. Namun ia menyadari kapasitas akademiknya masih perlu ditingkatkan.

Kesadaran itu mendorongnya mendaftar studi magister melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Prosesnya tidak mudah. Salah satu kendala utama adalah kemampuan bahasa Inggris, dengan skor IELTS yang belum memenuhi syarat.

Deky tidak menyerah. Ia mengintensifkan belajar dan dalam waktu tiga bulan berhasil mencapai skor yang dibutuhkan. "Yang paling penting saya tidak menyerah," ujarnya, dikutip dari laman LPDP, Senin (23/2/2026).

Upaya tersebut membuahkan hasil. Putra Papua itu diterima di program master Hydrothermal Organic Geochemistry di Arizona State University, Amerika Serikat. Selama studi, Deky melihat peluang karier yang luas. Ia juga sempat menjadi teaching assistant di laboratorium berteknologi canggih.

Namun, pengalaman akademik di luar negeri justru memunculkan pergulatan batin. Saat mengoreksi laporan praktikum digital, rasa rindu pada kampung halaman muncul. Ia teringat kondisi Papua yang masih minim fasilitas laboratorium dan akses buku bagi anak-anak.

"Di momen itu, saya seperti Tuhan memperlihatkan perbandingan langit dan bumi. Kamu mau kerja di sini, tapi di Papua masih sangat jauh. Dan saya menangis," katanya.

Tak Menyesal Pulang Lagi ke Indonesia

Delky mengaku tak pernah menyesal dengan keputusannya untuk kembali ke tanah Papua. Di samping, kembali ke tanah air adalah tanggung jawab setiap awardee beasiswa LPDP.

Ia melihat masih banyak masyarakat Indonesia yang membutuhkan pertolongan. Itu yang menjadi alasannya memilih pekerjaan di garda terdepan kampungnya.

"Saya lihat sekolah-sekolah yang ada di daerah konflik, sekolah-sekolah yang terbakar, sekolah-sekolah yang tidak ada guru," tuturnya.

Deky kini mengurus penyalur beasiswa untuk anak-anak di Papua. Deky ingin anak-anak Papua bisa merasakan indahnya menimba ilmu.

Ribuan beasiswa berusaha ia salurkan kepada penerima yang layak. Ia menyalurkannya kepada siswa yang masih kesulitan bersekolah.

"Hati saya hancur ketika lihat anak-anak harus naik turun gunung, jalan kaki tanpa alas, ke sekolah yang bukan sekolah mereka," kata Deky.

Deky menyampaikan harapannya untuk 10-20 tahun kemudian. Ia hanya ingin melihat anak-anak Papua bisa menjadi versi terbaik sesuai kemampuan mereka.

"Dengan keputusan yang saya ambil, hari ini saya balik ke Papua saya tidak menyesal dengan apa yang aya lakukan. Turun ke kampung-kampung sampai dari pelosok hati saya bergetar. Saya bisa lakukan hal-hal kecil saja buat anak-anak ini, itu udah kepuasan terbesar sih buat saya. Itu sudah kehormatan yang besar buat saya, itu sih yang paling utama. Bukan nilai uangnya," ungkapnya Deky.




(cyu/cyu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads