Inovatif! Peneliti Unnes Ciptakan Alat yang Bisa Ubah Udara Jadi Air Bersih

ADVERTISEMENT

Inovatif! Peneliti Unnes Ciptakan Alat yang Bisa Ubah Udara Jadi Air Bersih

Siti Nur Salsabilah, Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 11 Mar 2026 05:00 WIB
Peneliti asal Unnes, Prof Samsudin Anis berhasil ciptakan teknologi yang bisa ubah udara jadi air bersih
Foto: Unnes/Peneliti asal Unnes, Prof Samsudin Anis berhasil ciptakan teknologi yang bisa ubah udara jadi air bersih
Jakarta -

Kelangkaan air bersih menjadi persoalan serius ketika kemarau melanda. Untuk mengatasi hal ini, peneliti dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengembangkan alat yang bisa menciptakan air bersih. Pakai apa?

Peneliti tersebut adalah Prof Samsudin Anis, ST, MT, PhD. Ia mengembangkan alat bernama Atmospheric Water Maker (AWM), sebuah mesin yang bisa mengubah udara menjadi air.

Ia memandang bahwa kelembapan udara memiliki potensi besar. Di atmosfer, diperkirakan ada sekitar 13.000 km³ air yang bisa dicoba dengan teknologi AWM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana Cara Kerja Alatnya?

Prof Anis menjelaskan bahwa teknologi AWM menggunakan prinsip kondensasi udara lembap yakni udara dihisap, didinginkan di bawah titik embunnya hingga uap air berubah jadi cairan. Kemudian air dikoleksi dan disucikan melalui filtrasi ke dalam kondisi siap minum.

"Keunggulan teknologi ini: bekerja paling optimal di kondisi panas dan lembap, sebab kadar uap air serta titik embun yang mendekati suhu udara memudahkan proses kondensasi," terangnya, dikutip dari laman Unnes, Selasa (10/3/2026).

ADVERTISEMENT

Alat ini memiliki komponen sistem pendingin (cycle vapor-compression refrigeration), coil dingin, kipas hisap udara, tangki koleksi, hingga unit filtrasi. Dalam hal ini, kualitas akhir air sangat bergantung pada performa tiap komponen dan keberadaan sistem filtrasi udara + air.

"Teknologi AWM telah melalui peta jalan pengembangan: Proto-1 (2019) riset dasar; Proto-2 (2021) pengujian performa; Proto-3 (2022) uji produksi air & kualitas; dan sejak 2023 mulai pemasyarakatan dan aplikasi lapangan," kata Prof Anis dalam "Simposium Air" yang diselenggarakan di FISIP Unnes, Oktober 2025 lalu.

Mesin ini juga bisa dirancang sebagai penyedia air minum pada sektor medis. Karena fasilitas pelayanan klinis seperti rumah sakit, membutuhkan air hasil kondensasi sebagai media terapi.

Inovasi untuk Penyediaan Air Minum Kala Krisis Melanda

Prof Anis memandang, alat ini akan relevan untuk kondisi yang mengalami kekeringan terutama di daerah Jawa. Di tengah eskalasi krisis air, misalnya di Jawa, yang diperkirakan pada 2040 hanya akan tersedia sekitar 476 m³ air per orang per tahun (dibandingkan 1.169 m³ saat ini).

Menurutnya, penerapan AWM dinilai berkontribusi pada beberapa aspek SDG 6 yakni menyediakan sumber baru di wilayah kering atau tercemar, menawarkan alternatif berkelanjutan terhadap sumber air konvensional yang makin menipis, serta memastikan ketersediaan air minum yang andal termasuk di situasi darurat maupun gangguan pasokan air.

Sementara itu, Pakar Geografi Fisik Unnes, Prof Dewi Liesnoor Setyowati menekankan pentingnya teknologi konservasi air bersih untuk menjaga ketahanan sumber daya air di tengah perubahan iklim. Ia menyebut, pentingnya melibatkan masyarakat dalam pengelolaan air secara berkelanjutan

Menurutnya, sains dan masyarakat harus menjadi kunci dalam menghadapi dampak pemanasan global, perubahan pola hujan, dan risiko kekeringan ekstrem akibat El Niño maupun La Niña.

"Teknologi seperti AWM dan sistem konservasi air pintar bukan hanya alat ilmiah, tetapi bagian dari strategi ketahanan nasional menghadapi krisis air," tutur Prof Dewi.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads