Seorang ibu bernama Melsi Sinara merasa bahagia sekaligus bangga saat mengetahui anaknya, seorang siswa Tuli, Zhafira Luthfiadinda berhasil lolos masuk ke Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). Sang anak yang akrab disapa Dinda ini berhasil lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Di balik keberhasilan itu, Melsi berupaya membentuk mental Dinda agar mampu bersaing di lingkungan umum. Upaya tersebut dilakukan dengan membiasakan Dinda mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional sejak usia dini.
"Sejak kecil Dinda kami ikutkan dalam lomba-lomba lukis untuk umum, bersaing dengan anak pendengaran normal. Awal-awal tentu Dinda banyak mengalami kekalahan, dari situ mentalnya terlatih dan dapat menerima bahwa menang kalah adalah hal biasa," ungkapnya ketika diwawancara detikEdu secara tertulis, ditulis Jumat (17/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penasaran dengan perjuangan Melsi Sinara? Simak berikut ini.
Menempa Dinda Terpapar Lingkungan Umum Sejak Dini
Sejak dini, Melsi tidak membatasi ruang gerak Dinda. Di tengah tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas, ia justru mendorong putrinya untuk berani berkompetisi.
"Saat SMA pun Dinda kami tantang untuk mengikuti lomba-lomba desain yang diselenggarakan oleh kampus dan produsen minuman. Hal ini selain untuk mengasah kreativitas, juga agar Dinda lebih percaya diri bahwa dia mampu bersaing dengan teman dengar sebaya," jelasnya.
Tak hanya dalam kompetisi, kemandirian dalam keseharian juga menjadi kunci. Dinda didorong untuk berani berbaur, mulai dari menggunakan transportasi umum seperti MRT dan Transjakarta secara mandiri hingga menjalani magang di perusahaan.
Pengalaman ini membentuk Dinda menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri dalam berinteraksi dengan orang Dengar.
Dari Ragu Jadi Yakin
Sebagai orang tua anak berkebutuhan khusus, Melsi menilai penerimaan sebagai kunci utama dalam pendampingan. Ia menekankan pentingnya bagi orang tua untuk segera melewati fase penolakan (denial) agar dapat fokus pada masa depan anak.
"Pertama, segera masuk ke fase penerimaan, lampaui fase denial. Karena dengan menerima, kita akan berpikir selangkah lebih maju, fokus pada apa yang bisa kita berikan untuk anak agar survive ke depannya. Gali kelebihan dan bakat anak sedini mungkin, lalu fokuslah pada satu kecerdasan itu dan kembangkan," tegasnya.
Setelah menerima kondisi anak, Melsi mulai fokus mengembangkan potensi utama Dinda di bidang seni. Ia memfasilitasi bakat tersebut melalui berbagai kegiatan dan sarana pendukung hingga Dinda berhasil meraih sejumlah prestasi tingkat nasional sebagai bekal masuk ITB.
Beri Kebebasan Memilih
Meskipun sang kakak, Daffa, merupakan alumni Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Melsi mengaku tidak pernah memaksakan Dinda untuk mengikuti jejak yang sama. Ia memberikan kebebasan penuh bagi Dinda untuk menentukan pilihannya sendiri.
"Anak-anak diberikan kebebasan untuk memilih dan berpendapat, kami orang tuanya sebisa mungkin tidak memaksa. Kami mengarahkan dan berdiskusi sampai mereka memahami apa konsekuensi dari masing-masing pilihan. Sehingga ketika mereka memutuskan, mereka bisa menerima apapun hasilnya dengan lapang dada," ujarnya.
Melsi berperan sebagai fasilitator dengan membantu Dinda menggali berbagai informasi. Sebelum memilih ITB, mereka mengunjungi sejumlah kampus, seperti Telkom University, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), hingga Universitas Brawijaya (UB), untuk melihat langsung fasilitas dan suasananya.
Saat ini, Dinda tercatat sebagai siswa tuli pertama dari SLB Santi Rama yang diterima di ITB Kampus Ganesha. Pencapaian ini menegaskan pentingnya komunikasi yang intens dan dukungan penuh orang tua dalam mengantarkan anak meraih cita-cita.
"Berikan kebebasan pada anak untuk memilih jalan hidupnya karena bagaimanapun mereka yang akan menjalani. Dengan komunikasi intens insya Allah anak akan terbuka dengan kita dan sering berkonsultasi sehingga kita akan lebih mudah untuk mengarahkan," pungkasnya.
(nwk/nwk)










































