Cerita El, Atlet Paralimpik Tunanetra yang Lulus Unesa-Dapat Beasiswa S2 dari Rektor

ADVERTISEMENT

Cerita El, Atlet Paralimpik Tunanetra yang Lulus Unesa-Dapat Beasiswa S2 dari Rektor

Devita Savitri - detikEdu
Minggu, 03 Mei 2026 14:00 WIB
El Panta Tarigan, Atlet Paralimpik Lulusan Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Unesa.
Foto: Unesa/El Panta Tarigan, Atlet Paralimpik Lulusan Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Unesa.
Jakarta -

Keterbatasan bukan sebuah alasan untuk menyerah dan mengejar impian, bak sebuah mantra yang dipegang erat oleh El Panta Tarigan. El panggilan akrabnya berhasil menjadi mahasiswa berprestasi dan lulus dari program studi Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (PLB FIP Unesa).

Tak sekadar menjadi mahasiswa dengan prestasi di bidang akademik, El juga terkenal sebagai seorang atlet paralimpik tunanetra. Ia aktif sebagai atlet di bidang tolak peluru hingga catur.

Prestasi dan kegigihan El ini mendapat perhatian Rektor Unesa, Dr Nurhasan. Saat momen wisuda, El dipanggil ke atas panggung dan diberikan beasiswa lanjut studi jenjang S2.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi Pak Rektor memberi kesempatan, tentu saya terima dengan penuh tanggung jawab. Rencana saya adalah mendalami bidang pendidikan inklusif di jenjang S2," ujar El dikutip dari laman resmi Unesa.

ADVERTISEMENT

Atlet Tolak Peluru, Goalball, dan Catur

Diceritakan, El kehilangan penglihatan pada usia 12 tahun. Momen itu sempat menjadi titik terberat dalam hidupnya.

Kendati demikian, ia berhasil bangkit dan melawan keterbatasan yang ada. Ketika lulus SMA, El memilih merantau dari Medan ke Surabaya untuk mengejar impiannya.

Ia menempuh pendidikan tinggi S1 di Unesa. Di kampus ini, El mengaku menemukan ekosistem inklusif yang mendukung mobilitasnya selama menempuh studi, termasuk hadirnya budaya saling bantu yang kuat.

Masa kuliah dimanfaatkan El dengan sangat baik. Kesehariannya dihabiskan di perpustakaan dan lapangan. Ya, lapangan lantaran ia merupakan atlet paralimpik yang penuh prestasi.

Jejak prestasi El dimulai dari raihan medali tolak peluru pada Pekan Paralimpik Pelajar pada 2017. Dua tahun kemudian, ia juga berhasil meraih juara pertama di bidang olahraga goalball pada kejuaraan tingkat provinsi.

Tidak berhenti di situ, ia terkenal berprestasi sebagai atlet catur. Ia aktif pada berbagai kejuaraan catur.

Postur tubuhnya yang menjulang, mencapai 215 sentimeter sangat mendukung aktivitasnya sebagai atlet dan tentu kerap mencuri perhatian. Kondisi ini kerap mendatangkan tantangan tersendiri dalam mencari ukuran pakaian dan sepatu.

Kendati demikian, El tidak mengeluh. Ia justru menganggap keunikannya ini sebagai bagian dari identitas yang harus disyukuri.

Selesaikan Skripsi dengan Bantuan Teknologi Screen Reader

Proses menyelesaikan tugas akhir atau skripsi memang menjadi masa paling diingat bagi seluruh mahasiswa. Meski dengan keterbatasannya, El disebut mandiri ketika menjalani skripsi.

Berkaca pada kondisinya, skripsi El membahas peran Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) dalam meningkatkan keterampilan sosial disabilitas di Lamongan. Proses riset ia selesaikan dengan bantuan teknologi screen reader (pembaca layar) pada laptopnya.

"Teknologi membantu saya tetap mandiri dalam membaca materi hingga menyusun skripsi. Saya ingin menunjukkan bahwa dengan aksesibilitas yang tepat, kami mampu bersaing secara setara," tegasnya.

Dengan bantuan teknologi ini, El berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu. Riset yang ia lakukan juga disebut memiliki kualitas yang patut diacungi jempol.

Setelah perjalanan studinya di Surabaya, El ingin kembali ke kampungnya Sumatera Utara sebagai pendidik. El ingin menjadi jembatan bagi anak-anak disabilitas di Medan agar mendapat akses pendidikan yang layak seperti yang ia rasakan di Unesa.




(det/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads