Lulus S3 di UGM Cuma 2 Tahun! Stanley Bocorkan Rahasia Selesaikan Studi Doktoralnya

ADVERTISEMENT

Lulus S3 di UGM Cuma 2 Tahun! Stanley Bocorkan Rahasia Selesaikan Studi Doktoralnya

Cicin Yulianti - detikEdu
Senin, 04 Mei 2026 09:30 WIB
Stanley, doktor lulusan UGM
Stanley, doktor lulusan UGM. Foto: UGM
Jakarta -

Meraih gelar doktor atau S3 merupakan hasil dari pendidikan yang panjang. Namun, lulusan UGM terbaru ada yang menuntaskannya hanya dalam waktu 2 tahunan.

Umumnya, mahasiswa S3 akan dituntut untuk konsisten dan andal dalam melakukan riset sebagai hasil akhirnya. Biasanya, rata-rata lulusan S3 di Universitas Gadjah Mada (UGM) menempuh doktor dalam waktu 4 tahun 10 bulan, tetapi pria satu ini dapat menamatkannya hanya dalam 2 tahun 5 bulan.

Ia adalah Stanley Evander Emeltan Tjoa. Lulusan Doktor Biologi UGM yang baru diwisuda pada 22-23 April 2026. Bagaimana kisah Stanley meraihnya?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tertarik dengan Biologi Sejak SMA

Stanley mengaku sudah senang dengan dunia biologi sejak ia duduk di bangku SMA. Walau begitu, ia juga sempat tak menyukai mata pelajaran IPA.

ADVERTISEMENT

"Dulu iseng-iseng coba masuk program science class, ternyata lolos. Dari sana, saya mulai penasaran dengan biologi," katanya, dikutip dari laman UGM, Minggu (3/5/2026).

Saat S3, Stanley melakukan riset mengenai bidang molekuler. Ia menelitinya dengan menyatukan aspek dunia kerja dan akademisi.

"Ketertarikan saya pada dunia molekuler semakin dalam saat bekerja. Waktu itu, Prof. Budi (Budi Daryono) mendiskusikan pengembangan kit ekstraksi miliknya dengan perusahaan kami. Perusahaan pun tertarik untuk mengembangkan lebih lanjut," jelasnya.

Inovasi Riset Stanley

Stanley mengembangkan DNA kita yang dapat mempersiapkan bahan sebelum dilakukan Polymerase Chain Reaction (PCR). Ia memanfaatkan teknologi nanopartikel magnetik untuk meningkatkan efisiensi.

"Disertasi saya fokus pada pengembangan kit ekstraksi DNA. Didukung oleh tim promotor dari lintas disiplin, yaitu Biologi, Kimia, dan Fisika, agar produk ini dapat menjadi satu kit yang utuh," katanya.

Selain itu, Stanley menggunakan nanopartikel untuk membuktikan bahwa Indonesia juga mampu memproduksi kt mandiri tanpa harus impor.

"Saat ini, kit ekstraksi DNA di Indonesia dibanjiri oleh produk impor. Di samping harga yang tinggi akibat bea masuk, waktu distribusi juga memakan waktu yang lama. Melalui disertasi ini, saya mencoba mengatasi tantangan tersebut dengan menyesuaikannya dengan Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) hingga 2035," tuturnya.

Kiat Lulus Doktor Cepat

Salah satu alasan yang membuat Stanley dapat merampungkan pendidikan doktor dengan cepat, menurutnya, adalah karena biaya pendidikan ditanggung perusahaan. Sehingga ia bisa fokus pada riset dan kuliah.

Selain itu, kunci lulus cepat lainnya adalah menyusun proposal sejak awal kuliah. Sehingga pada semester 2, Stanley sudah bisa mengikuti ujian komprehensif.

"Karena saya melalui jalur by research, Prodi Biologi mengakomodasi agar prosesnya bisa lebih cepat. Sejak semester satu, saya sudah mulai menyusun proposal, lalu pada awal semester dua sudah ujian komprehensif. Jadi, penelitian bisa lebih panjang dan terfokus," ungkapnya.




(cyu/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads