Ashanty Gaet Gelar Doktor Unair, Teliti Nasib Musisi Senior di Era Digital

ADVERTISEMENT

Ashanty Gaet Gelar Doktor Unair, Teliti Nasib Musisi Senior di Era Digital

Cicin Yulianti - detikEdu
Jumat, 15 Mei 2026 13:00 WIB
Ashanty
Ashanty sabet doktor dari Unair. Foto: Instagram @ashanty_ash
Jakarta -

Penyanyi tanah air yakni Ashanti Hastuti atau lebih dikenal Ashanty baru saja lulus program doktor (S3) dari Universitas Airlangga (Unair). Ia resmi lulus setelah mengikuti Ujian Terbuka Doktoral pada Rabu (13/5/2026) lalu.

Ashanty mengaku banyak tantangan yang hadir hingga akhirnya ia bisa melewati ujian tersebut. Seperti karena perannya sebagai seorang ibu hingga praktisi musik.

"Jujur, saya setakut dan sepanik itu. Setiap kali mau ujian, saya sering stres seharian," ungkap Ashanty dikutip dari laman Unair, Jumat (15/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Topik Riset S3 Ashanty

Disertasi yang mengantarkannya lulus S3 memiliki judul "Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia".

ADVERTISEMENT

Penelitian itu juga diterbitkan di jurnal Frontiers pada 7 April 2026 lalu dengan judul Reconfiguring agency under platform governance: Baby Boomer and Generation X singers negotiating identity, algorithms, and monetization.

Ashanty menyoroti bagaimana musisi senior menavigasi platformisasi dalam konteks Global South. Dalam risetnya, Ashanty mengkaji bagaimana penyanyi Baby Boomer (1940-1964) dan Generasi X (1965-1980) Indonesia menjalankan peran aktif dalam ekonomi musik platform dengan menavigasi identitas generasi/profesional, logika algoritmik, dan praktik mencari penghasilan.

Ashanty juga ingin membuat uraian yang peka terhadap perbedaan generasi tentang kerja budaya di bawah tata kelola platform. Serta juga menyoroti implikasi bagi kebijakan industri dan program pengembangan kapasitas dalam ekonomi musik berbasis platform.

Untuk mendapatkan hasil penelitian, Ashanty melakukan wawancara naratif hingga biografis kepada 12 informan. Kemudian data hasil wawancara tersebut dianalisis secara tematik.

Adapun hasil temuan dari Ashanty menunjukan bahwa seniman senior tidak mengalami penurunan agensi secara linier. Namun, agensi dikonfigurasi ulang menjadi kapasitas strategis, praktis, dan reflektif berlapis yang beroperasi di seluruh modalitas strukturisasi signifikasi, dominasi, dan legitimasi.

Selain itu, Ashanty melihat bahwa musisi senior yang bertahan pada era digital ini tak sepenuhnya tunduk pada sistem komputasi, mereka juga bisa menegosiasikan logika digital dengan esensi karya seni mereka.

"Adaptasi ini sangat ditentukan oleh kemampuan seorang seniman dalam bernegosiasi antara tuntutan sistem digital saat ini. Jadi bagaimana mereka bisa adaptasi, tapi mereka juga tidak harus benar-benar mengerti teknologi yang ada saat ini," jelasnya.

Akan Perjuangkan Hak Cipta Musisi Senior

Tak berhenti pada hasil riset, Ashanty berencana akan mengimplementasikannya sebagai bentuk hilirisasi riset. Menurutnya, hasil kerja kerasnya ini tak boleh dibiarkan begitu saja.

"Saya sudah berdarah-darah dan lelah berjuang sampai di titik ini. Saya tidak mau disertasi ini hanya menumpuk dan berdebu di perpustakaan. Kita harus berguna dengan apa yang sudah kita perjuangkan," kata Ashanty.

Ashanty akan mencoba mengusahakan terkait hak cipta untuk musisi Baby Boomers. Menurutnya, mereka perlu hak beserta transparansi yang jelas dari lembaga.

"Tapi kalau jangka pendek mungkin akan meminta pemerintah untuk hak cipta ya, karena hak cipta ini penting banget. Terutama Baby Boomers dan di atasnya, sampai hari ini memerlukan hak-hak dan transparansi dari lembaga. Bekerja sama dengan pemerintah untuk merealisasikan ini itu penting," pungkas Ashanty.




(cyu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads