Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan, Indonesia harus melakukan reformasi pendidikan jika ingin menjadi negara maju. Hal tersebut ia sampaikan saat orasi ilmiah yang dihadiri secara online pada Dies Natalis Fakultas Vokasi Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (18/5).
Sebelumnya,AHY menyoroti kemajuan yang telah diraih oleh Korea Selatan dan Cina. MenurutAHY, kedua negara ini berhasil memperkuat fondasi pendidikan dan human capital hingga menjadi salah satu negara dengan kemajuan ekonomi terbaik di dunia.a
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita belajar dari sejarah transformasi ekonomi di Asia, kita akan menemukan satu pola yang sama bahwa tidak ada negara industri maju tanpa pendidikan vokasi yang kuat," tegasnya.
Berkaca pada kedua negara tersebut, AHY ingin agar Indonesia bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan negara.
"Jika Indonesia ingin menjadi negara yang maju pada tahun 2045 dan keluar dari middle income trap, maka reformasi pendidikan dan pemuatan vokasi tidak bisa ditunda lagi," tegasnya.
Rekomendasi untuk Reformasi Pendidikan
AHY melihat masih adanya mismatch yang cukup besar antara kebutuhan industri nasional dengan output pendidikan di Indonesia. Sektor-sektor seperti manufaktur, pertanian, perikanan, pertambangan, konstruksi, dan industri menyumbang lebih dari 50% terhadap PDB nasional. Akan tetapi, kebutuhan tenaga kerja teknis dan vokasional di sektor-sektor tersebut belum mampu dipenuhi oleh sistem pendidikan Indonesia.
"Tantangan kita hari ini bukan hanya meningkatkan akses pendidikan, tetapi memastikan pendidikan menghasilkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman," tegasnya.
Oleh karena itu, AHY melihat jika pendidikan vokasi harus menjadi salah satu tujuan strategis nasional di Indonesia ke depan.
"Di era industrialisasi modern, great economy, dan digital economy, pendidikan vokasi adalah tulang punggung pembangunan nasional," ujarnya.
Untuk melakukan reformasi pendidikan, AHY memberikan beberapa rekomendasi, yaitu:
1. Memperkuat link and match antara kampus vokasi dan dunia industri
2. Memperkuat pendidikan di bidang science, technology, engineering, mathematic, dan medicine, terutama yang berkaitan langsung dengan pendidikan vokasi
3. Memperluas resapan dan innovation-based vocational education
4. Memperkuat sertifikasi kompetensi global agar jurusan vokasi Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional
5. Memperkuat kolaborasi internasional agar institusi vokasi Indonesia
menjadi world-class vocational school with global impact.
Sebagai Menko, AHY meyakini pembangunan infrastruktur tidak hanya sebuah jalan, bendungan, pelabuhan atau bandara. Namun, infrastruktur juga merupakan alat untuk membangun kualitas manusia.
"Karena itu, pembangunan infratruktur ke depan harus semakin terintegrasi dengan pembangunan pendidikan, pengembangan kawasan industri, pusat inovasi dan ekosistem vokasi nasional. Kita harus memastikan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia melahirkan kesepatan kerja yang berkualitas bagi generasi muda Indonesia sendiri," pungkasnya.
(nir/nah)










































