Djoko Slamet Pudjoraharjo berhasil membuktikan semangat belajar sepanjang hayat. Di usia 68 tahun, Djoko berhasil meraih gelar Master Teknik Fisika dari UGM.
Ia menyelesaikan studi magisternya dalam waktu 1 tahun 11 bulan 29 hari.Djoko diwisuda pada 22-23 April 2026 di Graha Sabha Pramana UGM setelah menyelesaikan tesis berjudul Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp untuk Siklotron 30MeV.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesehariannya, Djoko merupakan peneliti di Pusat Riset Teknologi Akselerator (PRTA), Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Di tengah kesibukannya, Djoko mengungkapkan jika keputusannya untuk melanjutkan studi adalah untuk meningkatkan kompetensi diri.
"Saya termotivasi melanjutkan studi mengambil gelar magister di UGM karena saya berdomisili dan bekerja di Yogyakarta, kemudian ada kesempatan peningkatan kompetensi SDM dari tempat saya bekerja melalui program Degree by Research," ujarnya dalam laman UGM, Rabu (20/5/2026).
Ia juga mengambil Program Studi Magister Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM karena relevan dengan bidang pekerjaannya di BRIN yang berfokus pada teknologi akselerator atau pemercepat partikel.
"Bidang pekerjaan saya berkaitan dengan teknik fisika, maka saya memilih melanjutkan studi Magister Teknik Fisika," tuturnya.
Akui Merasa 'Gaptek' Selama Kuliah
Djoko mengaku menghadapi tantangan teknologi selama mengikuti perkuliahan. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi kini begitu cepat, bahkan pembelajaran di kampus juga sudah mengadopsi sistem digital.
"Tantangan selama studi di UGM adalah mahasiswa harus familiar dengan teknologi informasi yang digunakan di UGM, sehingga kadang saya merasa gaptek bila dibandingkan dengan mahasiswa lainnya yang rata-rata usianya lebih muda dari saya," ceritanya.
Djoko menceritakan beberapa mata kuliah juga mengharuskan mahasiswa menggunakan bahasa pemrograman dan berbagai aplikasi. Kendati demikian, Djoko berusaha beradaptasi dan mengikuti perkembangan teknologi.
"Mereka sangat menghormati mahasiswa senior. Kalau saya mengalami kesulitan, biasanya mereka dengan senang hati membantu,"ungkapnya.
Yakin Belajar Tidak Dibatasi Umur
Di usia yang mendekati masa purna tugas, Djoko menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk membuktikan jika semangat belajar tidak dibatasi umur. Ia ingin membuktikan jika dirinya bisa meningkatkan kompetensi melalui studi S2.
"Saya terdorong untuk bisa menyelesaikan studi dalam waktu yang ditentukan dan membuktikan bahwa saya masih bisa meningkatkan kompetensi melalui studi lanjutan," ujarnya.
Selain sebagai pencapaian akademik pribadi, gelar ini juga menjadi hadiah bagi dirinya sendiri menjelang masa pensiun. Gelar Magister menjadi bukti jika dirinya telah memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya untuk menempuh ilmu.
"Kelulusan ini merupakan hadiah besar menjelang purna tugas saya. Ini juga menjadi bukti bahwa saya telah berusaha memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan institusi untuk kuliah lagi," katanya.
Djoko berpesan kepada generasi muda dan para mahasiswa agar selalu menjaga semangat belajar dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Menurutnya, usia bukanlah penghalang untuk terus menuntut ilmu.
"Menuntut ilmu tidak terbatas oleh usia, selama kita masih mampu melaksanakannya," pungkasnya.
(nir/pal)










































