Dolar Tembus Rp 17.800, Pakar Ekonomi Sarankan Masyarakat Hindari Kebiasaan Ini

ADVERTISEMENT

Dolar Tembus Rp 17.800, Pakar Ekonomi Sarankan Masyarakat Hindari Kebiasaan Ini

Nikita Rosa - detikEdu
Sabtu, 30 Mei 2026 14:00 WIB
Petugas memperlihatkan lembaran uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing PT Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026). Aktivitas jual beli valuta asing tampak berlangsung seperti biasa, namun perhatian tertuju pad
Foto: Pradita Utama / detikfoto/Ilustrasi rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS.
Jakarta -

Dolar sempat menyentuh angka Rp 17.800 pada Kamis (28/5/2026) lalu. Pakar menilai masyarakat perlu merespons kondisi melemahnya rupiah terhadap dolar dalam beberapa waktu terakhir. Bagaimana caranya?

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Budi Wahyu Mahardhika, menyebut masyarakat perlu mengatur kembali keuangannya. Salah satunya dimulai dari kebiasaan pengeluaran sehari-hari.

"Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengurangi ketergantungan pada utang konsumtif," ujarnya, dikutip dari laman UMSURA, Sabtu (30/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan bahwa pengeluaran kecil sering kali tidak disadari, namun bisa menguras pendapatan bulanan.

ADVERTISEMENT

Hindari Cicilan

Di tengah ekonomi yang tidak menentu, Budi mengimbau agar masyarakat menghindari cicilan barang yang tidak mendesak. Masyarakat harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

"Hindari cicilan untuk barang yang tidak penting. Cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik dan akhirnya mengorbankan kebutuhan yang lebih penting," ucapnya.

Alih-alih membeli barang yang belum dibutuhkan, dosen manajemen UMSURA tersebut menyarankan masyarakat untuk membangun dana darurat secara konsisten. Meski hanya menyisihkan nominal kecil, konsistensi akan membuahkan hasil.

Ia mengatakan, dana darurat sangat penting untuk melindungi keluarga dari kondisi yang tidak terduga. Masyarakat bisa mulai dari Rp 50-100 ribu per minggu.

"Fokus pada kebiasaan menabung rutin, meskipun kecil. Jangan menunggu krisis untuk mulai menyiapkan perlindungan finansial," kata Budi.

Untuk bisa lebih menghemat, lanjut Budi, masyarakat bisa memasak sendiri di rumah dan mengurangi kebiasaan nongkrong atau membeli kopi di kafe.

Punya Penghasilan Tambahan

Selain pekerjaan utama, Budi menyarankan masyarakat untuk mempunyai penghasilan tambahan. Menurutnya, ketergantungan pada satu sumber pendapatan membuat masyarakat lebih rentan saat terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) atau perlambatan ekonomi.

"Masyarakat bisa mulai dari langkah sederhana seperti membuka usaha kecil, pekerjaan lepas, atau jasa tambahan sambil belajar menyusun anggaran, memahami bunga utang, dan investasi dasar," jelasnya.




(nir/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads