Seberapa penting filsafat di tengah gempuran artificial intelligence (Al)? Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof Stella Christie, menjelaskan bahwa sains modern seperti AI, lahir dari filsafat. Simak penjelasannya di bawah ini!
Prof Stella menjelaskan bahwa sejumlah gelar seperti ilmuwan kognitif dan ilmuwan fisika memiliki gelar PhD atau Doctor of Philosophy (Doktor Filsafat). Sebutan ini muncul karena sains berasal dari filsafat.
Dia mencontohkan sejarah lahirnya AI yang berawal dari pertanyaan mendasar seorang matematikawan, Alan Turing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artificial intelligence lahir dari pertanyaan filosofis matematikawan Alan Turing: 'Can Machines Think?' atau 'Apakah mesin bisa berpikir?'. Pertanyaan itu dipublikasikan oleh matematikawan Turing di jurnal 'Mind: A Quarterly Review of Psychology and Philosophy'," ujar Stella dalam akun Instagram resminya, Rabu (6/5/2026), dikutip Jumat (5/6/2026).
"Al lahir dari filsafat," imbuhnya.
Hakikat Sains
Prof Stella menjelaskan mengenai hakikat sains dengan membandingkan astronomi dan astrologi. la merujuk pada pemikiran Karl Popper mengenai prinsip falsifikasi dalam sebuah teori ilmiah. Ia juga membedah apa itu sains sebenarnya.
"Apa itu sains? Astronomi itu sama dengan sains. Kalau astrologi itu bukan sains. Karl Popper menjawab bahwa sains adalah teori yang bisa dibuktikan salah atau disanggah. Artinya ketika seorang ilmuwan mengajukan teori, dia juga harus bisa menjelaskan eksperimen yang membuktikan bahwa teorinya itu bisa salah," jelasnya.
Ia memberikan contoh nyata melalui teori relativitas yang diajukan oleh Einstein. Berbeda dengan astrologi yang cenderung menggunakan pernyataan umum sehingga selalu terasa benar bagi siapa saja.
"Einstein memprediksi bahwa cahaya bisa dibelokkan oleh Matahari saat terjadi gerhana. Jika ini tidak terjadi, kita bisa langsung tahu bahwa teorinya salah. Berbeda dengan astrologi yang selalu terasa benar. Saya bacain ya peruntungan zodiak hari ini: 'Emosi cenderung mudah terpancing pada hari ini'. Ya, pastilah, tiap hari juga emosi mudah terpancing, (itu jadi) selalu terasa benar. Astrologi ya, kan?" tambah Stella.
Stella juga menyinggung pernyataan filosofis dari Gödel yang menyatakan bahwa akan selalu ada hal yang benar yang tidak bisa manusia ketahui. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para ilmuwan untuk terus melakukan penemuan.
"Akan selalu ada hal yang benar, yang tidak bisa kita ketahui. Ini adalah pernyataan filosofis yang diajukan oleh Gödel, tetapi sudah dibuktikan secara matematika, artinya, gampangnya, untuk seorang ilmuwan seperti saya, tidak akan habis pekerjaan, karena selalu ada hal yang harus kita temui atau kita discover," tuturnya.
Namun, pesatnya perkembangan teknologi saat ini membuat Al mampu memproses pembuktian matematis dengan kecepatan yang melampaui kemampuan baca manusia. Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai definisi pengetahuan yang saat ini tengah diteliti oleh pakar matematika dunia.
"Tapi saat ini, Al memproduksi mathematical proof lebih cepat daripada yang manusia bisa baca. Ini membuat kita bertanya-tanya apakah kita bisa bilang kita tahu ketika kita tidak bisa membacanya. What is really is knowledge, pertanyaan inilah yang sedang diteliti secara matematis oleh Fields Medalist Nobel Prize-nya matematika, Michael Freedman yang kebetulan juga teman saya," ungkap Stella.
Ia menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari peran filsafat.
"Singkat kata, sains membutuhkan filsafat," tegasnya.
Mengapa Filsafat Disebut Induk dari Semua Ilmu?
Filsafat sendiri berasal dari kata philos yang berarti mencari dan mencintai, serta sophia yang artinya kebenaran dalam arti kebijaksanaan (hikmat).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Definisi ini menekankan penggunaan logika dan akal budi sebagai instrumen utama dalam berfilsafat.
Filsafat sering disebut sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan sejarah ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa setiap cabang ilmu sebenarnya berasal dari dan berkembang di rahim filsafat.
Mengutip dari buku 'Filsafat sebagai Induk Ilmu Pengetahuan' yang ditulis oleh Rina Rehayati, dijelaskan bahwa sebelum ilmu pengetahuan lahir, filsafat telah memberikan landasannya yang kuat bagi perkembangan pemikiran manusia.
Para filsuf Yunani klasik seperti Socrates, Plato, hingga Aristoteles, pada masanya telah membahas berbagai tema besar seperti atom, emosi, bilangan, hingga sistem pemerintahan. Pemikiran-pemikiran awal inilah yang kemudian berkembang menjadi disiplin ilmu mandiri seperti fisika, biologi, matematika, psikologi, hingga ilmu politik.
Keterkaitan ini juga didorong oleh sifat alamiah manusia yang memiliki rasa ingin tahu. Keingintahuan ini biasanya muncul karena rasa kagum, ragu-ragu, atau ketidakpahaman akan fenomena yang sedang dihadapi.
Melalui proses penyelidikan, baik secara mandiri maupun melalui informasi dari orang lain, rasa ingin tahu tersebut akhirnya terpenuhi. Hasil dari proses inilah yang kemudian membentuk sebuah pengetahuan.
Pengetahuan yang dimiliki manusia pun berkembang luas, mencakup pemahaman tentang dirinya sendiri, orang lain, hingga dunia di sekitarnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(crt/faz)










































