Syarifah Naura (16), siswi SMAN 91 Jakarta ini tak menyangka idenya bisa menjadi juara 1 di tingkat ASEAN. Mengalahkan ide dari 119 siswa-siswi ASEAN lainnya.
Dengan persiapan sekitar sebulan, Syarifah nekat maju sendiri mengikuti Youth ESG (Environmental, Social, Governance) in Maritime Innovation Challenge 2026 yang digelar Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bersama Blue Ocean Strategy Fellowship (BOSF). Ini adalah lomba lelang ide untuk menjaring pemimpin muda dari kalangan pelajar SMA dan mahasiswa S1 dari seluruh kawasan Asia Tenggara agar melahirkan inovasi nyata dalam melindungi ekosistem laut, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ide Syarifah yang menang adalah mengenai Smart Bronjong, bronjong anyaman bambu yang melindungi mangrove muda calon pelindung pantai agar tak rusak terkena ombak. Syarifah menambahkan teknologi internet of things (IoT) dalam Smart Bronjong-nya ini.
Smart Bronjong dari bambu Foto: (Dok Syarifah Naura) |
"Kenapa nggak pakai kayu jati atau kayu-kayu lainnya, karena bambu banyak tersedia di wilayah Indonesia. Bambu ini memang pernah digunakan di beberapan daerah bisa proteksi mangrove ekosistemnya. Namun di sistem aku itu gimana nerapin IoT sensornya, selain bambunya proteksi barrier-nya, IoT sensornya bisa menganalisis pH, temperatur, fitur-fitur ini bisa dirangkum datanya, dikirimkan ke sentral dashboard data proteksinya," ujar Syarifah saat berbincang dengan detikEdu, Kamis (11/6/2026).
Selain itu, bambu sebagai bahan alam bisa terurai secara alami bila mangrove sudah tumbuh besar. Kemudian juga lebih tahan dengan lingkungan air laut yang asin.
Siswa kelas 2 SMA jurusan IPA ini sejak April 2026 sudah riset ide, dibantu dengan guru hingga mentor. Idenya dikirimkan dalam bentuk video yang diunggahnya di TikTok.
Syarifah tak menyangka dia masuk babak Top 8, Top 3 dan akhirnya menjadi pemenang. Mengalahkan 119 peserta siswa-siswi ASEAN lainnya yang mayoritas maju dalam tim, sementara Syarifah maju sebagai individu.
"Memang dipilih berdasarkan video di Tiktok. Masuk Top 8 untuk diundang presentasi di Kemenlu pada 2 Juni 2026, itu pun maju urutan 8. Selanjutnya Top 3 ada semacam break dulu, urutan ketiga majunya," jelas gadis kelahiran Agustus 2009 ini.
Dalam Top 8 dan Top 3, dia harus menghadapi 7 dan 5 menit panel pertanyaan dewan juri, yang salah satunya adalah Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno.
"Kalau di Top 8 ditanya bagaimana mekanisme mengenai impact Smart Bronjong, untuk kalangan siapa aja, mekanisme seandainya rusak apa yang harus dilakukan," tuturnya.
Berhubung ini adalah lomba pitching ide, Syarifah mengatakan memang masih perlu dilakukan uji lapang dulu. Uji lapang ini mestilah bekerja sama dengan komunitas masyarakat pesisir hingga perizinannya. Gadis yang bercita-cita masuk prodi Teknik Geologi atau Oseanografi ITB atau Undip ini berharap suatu saat dia bisa menguji idenya ini.
Sebagai Top 8, Syarifah diundang menghadiri workshop 3 hari yang digelar Kemenlu dari 1 hingga 3 Juni 2026. Selama workshop bersama dengan peserta lain yang datang dari Tailan hingga Filipina, Syarifah diajak ke Muara Angke hingga Pulau Kelor Kepulauan Seribu.
"Kita bersihkan pantai, menanam mangrove dan belajar sejarah Pulau Kelor. Hari kedua presentasi di Kemenlu dan hari hari ketiganya kita ke ASEAN Secretariat belajar history Asean," jelas Syarifah yang menerima hadiah uang senilai Rp 10 juta saat menjuarai kompetisi ini.
"Sebenernya pengen banget riset, karena banyak keterbatasan. Seandainya diberikan fasilitas lebih uji coba pengen implementasikan ide aku ini," harap Syarifah.
Kompetisi Youth ESG Maritime 2026 ini dibagi menjadi kategori SMA dan Universitas, yang masing-masing menerima 120 peserta. Melalui platform Youth ESG in Maritime Innovation Challenge, para peserta ditantang merumuskan solusi berbasis Environmental, Social, dan Governance (ESG). Environmental (E) bermakna melindungi lingkungan maritim dari berbagai kerusakan, Social (S) untuk melindungi kesejahteraan masyarakat yang hidup dan bergantung pada kesehatan laut, dan Governance (G) untuk membangun kepercayaan melalui sistem tata kelola pemerintahan yang kuat.
Syarifah menjadi juara 1 kategori SMA, sedangkan juara 1 kategori Universitas dimenangkan oleh peserta dari Chulalongkorn University, Tailan. Berikut urutan lengkap juara 1 hingga 3 dari 2 kategori serta inovasi ide mereka yang diganjar hadiah Rp 10 juta, Rp 7,5 juta hingga Rp 5 juta.
Top 3 Kategori SMA
Juara 1 SMART Bronjong
SMA Negeri 91 Jakarta
Smart Bronjong, sebuah inovasi teknologi bambu yang mengatasi meningkatnya risiko banjir pesisir di Asia Tenggara dengan memperkuat penghalang biologis alami di area hutan bakau peredam gelombang. Bronjong anyaman bambu dapat terurai alami, mengurangi erosi dengan sistem pemantauan IoT bertenaga surya. Nilai ESG-nya dengan memungkinkan kredit karbon wilayah pesisir, mengurangi biaya asuransi melalui peningkatan perlindungan pesisir, dan memberdayakan kebijakan keberlanjutan yang didukung pemerintah.
Juara 2 welovedugong
SCiUS PSU, PSU Wittayanusorn School
Smart Bio-Hex Mesh System, menyediakan inovasi struktur ramah lingkungan baru yang mengatasi ekosistem lamun Asia Tenggara yang menurun cepat dengan memanfaatkan struktur sarang lebah heksagonal yang dapat terurai alami untuk penambatan yang stabil dan hidrogel nutrisi pelepasan lambat dengan sistem sensor lingkungan berbasis data terintegrasi. Nilai ESG yang diberikan oleh proyek ini berfokus pada peningkatan ketahanan pesisir, pemulihan keanekaragaman hayati laut, dan mendukung mata pencaharian masyarakat yang berkelanjutan seperti perikanan dan ekowisata.
Juara 3 VSCO Girls
SMAK 5 PENABUR Jakarta
SMART (Silvofishery, Mangroves, & Artificial Reefs Technology), sebuah ide inovasi berbasis sistem yang mengatasi erosi pantai dan banjir pasang surut yang parah di Indonesia dengan mengganti pemecah gelombang tradisional yang merusak dengan sistem pertahanan tiga lapis yang menggabungkan terumbu buatan peredam gelombang, sabuk mangrove penyerap karbon, dan kolam budidaya perikanan terintegrasi. Terlibat dengan prinsip-prinsip ESG dengan menyediakan perlindungan lingkungan, menghasilkan pendapatan sosial yang berkelanjutan untuk memberdayakan pembangunan ekonomi masyarakat setempat, dan mendukung tata kelola yang baik melalui pemantauan berkelanjutan dan integrasi pengetahuan pesisir lokal ke dalam kebijakan praktis.
Top 3 Kategori Universitas
Juara 1 Hackin1Day
Chulalongkorn University
StarTrap (Plastic Microplastic Capture System), ide inovasi menciptakan inovasi filtrasi pasif berbiaya rendah yang mengatasi polusi mikroplastik kritis di lingkungan pesisir dan dasar laut. Ide ini memanfaatkan sistem jaring dan serat multi-lapisan yang terinspirasi oleh bintang laut untuk menangkap partikel melalui aliran air alami tanpa memerlukan energi eksternal. Proyek ini sangat menekankan nilai-nilai ESG yang berfokus pada memerangi polusi plastik di laut untuk melindungi ekosistem laut, memberdayakan masyarakat pesisir dan LSM dengan alat pembersihan yang mudah diakses, dan mendukung tata kelola berbasis data dan transparansi melalui sensor pemantauan opsional.
Juara 2 COMPASS Team
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
COMPASS, ide inovasi dasbor berbasis AI yang mengatasi operasi pelabuhan Indonesia yang terfragmentasi, dengan fokus pada contoh pelabuhan Tanjung Priok, menyoroti biaya logistik yang tinggi, dan limbah karbon yang menumpuk dari kapal dan pelabuhan dengan mengintegrasikan pembelajaran mesin, jaringan sensor IoT, dan analitik prediktif untuk menyatukan koordinasi kapal, peralatan, dan lalu lintas secara real-time.
Prinsip-prinsip ESG-nya dapat dilihat dari bagaimana platform ini memberikan pengurangan karbon yang terukur dan mengurangi polusi udara bagi masyarakat pesisir, mempercepat efisiensi perdagangan, dan menyediakan data yang dapat diaudit yang selaras dengan kerangka kerja pemerintah seperti Ekosistem Logistik Nasional untuk transformasi pelabuhan yang cerdas dan ramah lingkungan.
Juara 3 Under the Sea
Universitas Riau
GearLoop Merah Putih, ide inovasi ekonomi sirkular berbasis komunitas dan preventif yang mengatasi polusi plastik laut dan kerusakan ekologis di Indonesia yang disebabkan oleh alat tangkap ikan yang hilang. Sistem ini mengintegrasikan mekanisme pengembalian deposit alat tangkap yang dapat dilacak menggunakan peralatan kode QR dengan daur ulang alat tangkap yang rusak menjadi produk sekunder. Ide bisnis ini memberikan nilai ESG dengan mengurangi polusi laut untuk memastikan akuntabilitas lingkungan, menciptakan nilai ekonomi dan melindungi mata pencaharian masyarakat pesisir melalui insentif keuangan, dan menegakkan tata kelola melalui pelacakan kepatuhan, patroli lokal, dan integrasi strategis dengan program pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih.
Simak Video "Dukung Aksi Iklim, Gerakan Indonesia ASRI Ajak Warga Kelola Sampah"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nah)











































