Aktris Maudy Ayunda membagikan pengalamannya berkunjung ke Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu. Bukan sekadar tour kampus, Maudy ternyata mengajukan paten untuk sebuah inovasi produk yang berasal dari tanaman nyamplung atau tamanu (Calophyllum inophyllum).
Dalam unggahan Instagramnya, Maudy bercerita bahwa ia telah bekerja sama dengan Fakultas Farmasi ITB sejak 2023 silam. Dalam kerja sama riset itu, kedua pihak meneliti nyamplung yang dinilai memiliki potensi besar, termasuk untuk produk perawatan kulit.
"Dan dua minggu lalu, perjalanan itu mencapai satu milestone baru: kami mengajukan paten bersama!!" tulis unggahan Instagram @maudyayunda pada Selasa (7/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maudy sangat senang bisa bekerja sama dengan para profesor dari berbagai bidang keilmuan. Ia yakin para botanis Indonesia bisa menjadi pemimpin inovasi pada masa depan.
"Suatu kebahagiaan pribadi bagi saya untuk bekerja dengan para profesor luar biasa dari berbagai bidang dan spesialisasi akademik yang percaya bahwa ahli botani Indonesia dapat menjadi pemimpin inovasi," ungkap artis lulusan Oxford dan Stanford tersebut.
Kerja Sama Dunia Riset dengan Sektor Industri
Direktur Riset dan Inovasi (DRI) ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, menjelaskan bahwa kerja sama riset ini mencakup berbagai tahapan teknis. Mulai dari standardisasi bahan baku, metode ekstraksi, hingga pemurnian polifenol tamanu. Tim juga memanfaatkan calophyllolide sebagai bahan aktif utama dalam formulasi produk kecantikan.
Menurut laman resmi ITB, nyamplung atau tamanu adalah tanaman yang banyak tumbuh di pesisir Indonesia. Setelah genap tiga tahun bekerja sama, riset tersebut menghasilkan paten resmi terkait metode produksi polifenol dari biji nyamplung.
Prof. Elfahmi mengatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari misi DRI ITB untuk mendorong budaya hilirisasi. Ia yakin biodiversitas Indonesia perlu dikembangkan melalui sains agar dapat menjadi solusi bagi masyarakat dan menghasilkan produk berlevel global.
Dalam hilirisasinya, tim mengadakan identifikasi potensi, pengujian keamanan, hingga formulasi produk dan komersialisasi.
"Kerja sama ini telah menghasilkan paten resmi pada tahun 2026 terkait metode produksi polifenol dari biji nyamplung. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa hasil penelitian di lingkungan kampus dapat memiliki nilai ekonomi dan manfaat langsung bagi industri jika dikelola melalui tahapan pengembangan yang tepat," tulis pernyataan DRI ITB.
(nir/faz)











































