Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengungkapkan sebaran data akreditasi perguruan tinggi di Indonesia. Bagaimana rinciannya?
"Kalau kita lihat dari sebaran data akreditasi perguruan tinggi dan akreditasi program studi di Indonesia sampai akhir 2025 kemarin itu, untuk perguruan tinggi yang terakreditasi Unggul itu hanya sekitar enam persen," kata Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Mukhamad Najib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data ini Najib, dalam kegiatan Forum Diskusi Denpasar 12 yang digelar secara daring di Jakarta, Rabu dikutip dan ditulis dari Antara, Kamis (7/5/2026).
Ia mengungkapkan enam persen perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki akreditasi "Unggul" atau "A" dari total 4.416 perguruan tinggi terdaftar. Ia turut merinci, sebanyak 67 persen perguruan tinggi justru masih tertahan pada akreditasi "Baik" atau C.
Akreditasi adalah kegiatan penilaian untuk menentukan kelayakan Program Studi dan Perguruan Tinggi. Aturan akreditasi ini masih merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 5 Tahun 2020 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi. Menurut Permendikbud itu Peringkat Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat terdiri atas:
a. Baik (C)
b. Baik Sekali (B)
c. Unggul (A)
Selain memaparkan peringkat akreditasi kampus, Najib juga mengungkapkan akreditasi pada kategori program studi (prodi). Baru sekitar 22 persen dari total 33.741 prodi yang terakreditasi "Unggul".
"Bahkan ada program studi yang tidak terakreditasi, yang menurut undang-undang tentu program studi yang tidak terakreditasi itu tidak memiliki hak untuk mengeluarkan ijazah," imbuhnya.
Dorong Lulusan STEM Sambut Bonus Demografi
Fenomena akreditasi ini juga diperberat dengan temuan bahwa lulusan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di Indonesia baru mencapai angka 18,47 persen.
Sementara di negara-negara maju, jumlah lulusan STEM sudah melampaui 30 persen. Imbasnya, angkatan kerja di Indonesia yang masuk dalam golongan pekerja berkeahlian tinggi (highly-skilled worker) masih tergolong sedikit.
"Kita sering mendengar ya, ketika ada investasi masuk kemudian industri baru terbuka, kemudian masyarakat kita hanya menjadi penonton, karena industri baru itu mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri," kata mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Australia ini.
Dilansir dari situs Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), World Bank merilis data sampai tahun 2020, jumlah mahasiswa lulusan dari prodi STEM di Indonesia baru mencapai 18,47%, jauh tertinggal dibanding Vietnam (23,38%), Thailand (27,31%). Apalagi bila dibanding Malaysia yang sudah mencapai 37,19% dan Singapura (34,3%).
"Kemudian ada pejabat kita yang mengatakan 'oh karena memang sumber daya manusia kita tidak cukup untuk mengisi, tidak cukup memiliki keahlian untuk mengisi sektor-sektor tersebut'," tambahnya.
"Nah ini harus kita jawab bahwa industrialisasi kita itu bisa diisi oleh anak negeri kita, oleh anak bangsa kita dengan kita juga membekali mereka, memperkuat mereka dengan keahlian yang dibutuhkan untuk memperkuat industrialisasi kita," pungkasnya.
(nwk/nwk)










































