Plagiarisme merupakan salah satu pelanggaran serius dan tindakan tercela dalam dunia akademik. Masalah ini mengguncang salah satu universitas paling prestisius di dunia yang memiliki reputasi panjang dalam dunia keilmuan.
Kali ini, tudingan plagiarisme menimpa seorang profesor sosiologi di University of Cambridge, Inggris. Sosok tersebut bukan akademisi biasa. Ia dikenal sebagai salah satu bintang dalam dunia akademik Inggris dan bahkan mencatatkan sejarah di kampusnya.
Jason Arday tercatat sebagai profesor kulit hitam termuda dalam sejarah University of Cambridge, universitas yang telah berdiri sejak 1209. Pencapaian tersebut membuat namanya mendapat perhatian luas di lingkungan akademik Inggris, seperti dilaporkan The Guardian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Popularitas Arday di dunia akademik juga terlihat ketika ia mendapat panggung khusus dalam peringatan 75 tahun British Sociological Association yang digelar di University of Manchester pada April 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Arday menyampaikan pidato ilmiah berjudul Wanted Dead or Alive: the Playbook.
Tudingan Plagiarisme
Tudingan plagiarisme terhadap karya akademik profesor sosiologi pendidikan itu pertama kali mencuat melalui laporan The Telegraph pada akhir Juli 2026 lalu.
Media tersebut menyebut hasil analisis menemukan lebih dari 100 bagian dalam disertasi doktoral Arday yang memiliki kemiripan dengan tesis karya Paula Zwozdiak-Myers, mahasiswa Brunel University London. Tesis tersebut diketahui telah dipublikasikan enam tahun sebelum karya Arday.
Jason Arday, guru besar bidang sosiologi pendidikan yang mundur dari University of Cambridge, Inggris Foto: Dok. University of Cambridge/Jason Arday |
Laporan tersebut muncul setelah unggahan di Substack oleh Nathan Cofnas. Cofnas bukan sosok asing di lingkungan akademik Cambridge. Ia pernah menjadi akademisi di universitas tersebut sebelum diberhentikan oleh Emmanuel College pada 2024 setelah muncul tuduhan terkait pandangan rasis.
Sebelumnya, Cofnas menulis dalam sebuah unggahan blog bahwa dalam sistem yang sepenuhnya meritokratis, jumlah profesor kulit hitam di Harvard akan "hampir nol".
Cambridge kemudian melakukan penyelidikan terhadap pandangan tersebut. Hasilnya, universitas menyatakan bahwa pendapat Cofnas tidak melanggar hukum maupun aturan kampus yang berkaitan dengan perlindungan kebebasan berpendapat.
Dalam kasus Arday, Cofnas mengklaim menggunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme untuk memeriksa disertasi doktoralnya.
Menurut dia, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya sejumlah bagian yang diduga disalin dengan perubahan yang sangat minim. Bahkan, beberapa bagian disebut masih mempertahankan kesalahan penyuntingan yang terdapat dalam sumber aslinya.
Kritikus Arday lainnya adalah Dr David Harris, profesor emeritus di Universitas Plymouth Marjon, Devon. Harris melaporkan dua artikel ilmiah Arday yang masing-masing diterbitkan pada 2018 dan 2020. Namun, Harris juga dikenal sebagai akademisi yang memiliki pandangan kontroversial mengenai isu ras.
Latar belakang dua kritikus tersebut membuat University of Cambridge sebenarnya mengambil posisi membela Arday. University of Cambridge menyatakan dukungannya kepada Arday dan menggambarkan tudingan yang beredar sebagai "kampanye fitnah keji untuk merusak kredibilitasnya".
Cambridge mengatakan telah meneruskan laporan tersebut ke universitas tempat Arday menyelesaikan gelar PhD-nya, Liverpool John Moores, yang telah meninjau karya tersebut dan menemukan bahwa ia tidak melakukan plagiarisme.
"Kami menanggapi tuduhan pelanggaran etika akademik dengan sangat serius," kata juru bicara Cambridge. "Sesuai prosedur universitas, investigasi dilakukan oleh institusi tempat penelitian dilakukan. Ini adalah praktik standar di sektor ini karena institusi tersebut memiliki akses ke informasi untuk memastikan investigasi yang menyeluruh dan adil."
Arday sendiri mengatakan kepada The Guardian bahwa dirinya mendukung sepenuhnya proses investigasi yang adil terhadap setiap laporan yang memang memiliki dasar dan layak diperiksa.
Ia menambahkan, "Untuk klarifikasi, telah ada beberapa investigasi menyeluruh di beberapa institusi sebagai akibat dari tuduhan tersebut, dan pengawasan yang sangat ketat, termasuk oleh panel pelanggaran akademik yang menyimpulkan bahwa tidak ada plagiarisme atau pelanggaran akademik."
Putuskan Mundur dari Cambridge
Belakangan Jason Arday akhirnya memutuskan mundur. Keputusan tersebut diambil setelah kampus mengumumkan penyelidikan terhadap dirinya menyusul munculnya "informasi baru" mengenai kualifikasi akademik dan sejumlah jabatan kehormatan yang disandangnya.
Ia lantas mengakui adanya sejumlah kesalahan dalam karya akademiknya. Namun, ia membantah tuduhan dirinya sengaja berbohong. Ia juga mengaku menghadapi tekanan publik dan serangan personal yang terus-menerus seperti dikutip dari BBC.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan Good Law Project pada Rabu (5/8/2026), Arday mengatakan pengangkatannya sebagai profesor Cambridge pada usia 37 tahun pada 2023 lalu merupakan "tanpa diragukan lagi, kehormatan profesional terbesar dalam hidup saya".
Ia mengungkapkan, menjadi profesor di Cambridge merupakan pencapaian yang nyaris tidak pernah ia bayangkan ketika masih kecil. Karena dirinya tumbuh dengan diagnosis autisme dan baru dapat berbicara ketika berusia 11 tahun.
Pengangkatannya pada 2023 menurutnya bahkan dirayakan sebagai simbol keberhasilan menghadapi berbagai hambatan. Ribuan orang, menurut Arday, tidak hanya merayakan dirinya sebagai individu, tetapi juga melihat kisah tersebut sebagai gambaran bahwa bakat, ketekunan, dan harapan dapat mengalahkan kesulitan.
Ia pun mengaku sangat menikmati perannya sebagai pengajar. "Mengajar mahasiswa, belajar bersama mereka, serta menyaksikan rasa ingin tahu, kebaikan, dan ambisi mereka merupakan kehormatan terbesar dalam hidup saya," tulisnya.
Arday mengatakan tahun-tahun setelah pengangkatannya di Cambridge diwarnai pengawasan publik dan serangan personal yang "tak kunjung berhenti".
Menurutnya, kritik merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan akademik. Namun, apa yang ia alami telah melampaui perbedaan pendapat ilmiah.
"Tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang terus-menerus telah memberikan tekanan yang sangat berat, bukan hanya kepada saya, tetapi juga kepada orang-orang yang saya cintai," tulis Arday.
Ia menyadari tekanan yang dihadapinya telah mencapai titik tertentu. "Ada saat ketika dampak terhadap kehidupan pribadi menjadi terlalu besar," ujarnya.
Arday secara khusus menegaskan pengunduran dirinya tidak boleh ditafsirkan sebagai hilangnya kepercayaan terhadap dunia akademik.
Ia juga mengatakan keputusannya jangan dianggap sebagai pengakuan terhadap berbagai narasi dan tuduhan yang selama ini diarahkan kepadanya. "Keputusan ini juga tidak boleh dianggap sebagai pengakuan terhadap berbagai narasi yang selama ini diarahkan kepada saya," tulisnya.
Arday bahkan menutup suratnya dengan keyakinan bahwa dirinya akan kembali. "Ketika waktunya tiba, saya akan kembali," katanya.
Simak Video "Video Survei KPK: Kasus Menyontek Ditemukan di 78% Sekolah dan 98% Kampus"
[Gambas:Video 20detik] (pal/nwk)











































