Stafsus Mendikdasmen: Kebiasaan Anak Tak Bisa Hanya Dibangun di Sekolah

ADVERTISEMENT

Stafsus Mendikdasmen: Kebiasaan Anak Tak Bisa Hanya Dibangun di Sekolah

Siti Nur Salsabilah Silambona - detikEdu
Rabu, 12 Nov 2025 20:30 WIB
Stafsus Mendikdasmen: Kebiasaan Anak Tak Bisa Hanya Dibangun di Sekolah
Stafsus Mendikdasmen Arif Jamali Muis menekankan pentingnya kerja sama pihak sekolah dan orang tua dalam pendidikan karakter untuk anak di sekolah maupun rumah. Foto: Usman Hadi/BeritaKlik
Jakarta -

Staf Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Arif Jamali Muis, M.Pd mengatakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat (KAIH) tak bisa hanya dibangun di sekolah. Ia menekankan, pembentukan karakter anak ini butuh pembiasaan dari rumah yang melibatkan peran orang tua.

Hal ini disampaikan Arif saat menjawab pertanyaan peserta breakout session konferensi internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) 2025 di hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (12/11/2025).

Pada sesi tersebut, salah satu peserta mempertanyakan pendidikan karakter masa kini yang menurutnya lebih baik tidak berubah-ubah dan mengikuti pendidikan karakter di masa lalu. Kelebihan pendidikan karakter masa lalu menurutnya terbukti dengan siswa di masa lalu yang lebih santun. Perbandingan ini menurutnya kian kontras dengan adanya peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Merespons pandangan ini, Arif mengatakan pendidikan karakter pada dasarnya tidak berubah. Namun, pola pendidikannya yang berubah mengikuti zaman.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, pelibatan semua guru sebagai sosok pembimbing siswa dan keluarga di rumah masih tetap berperan penting terhadap pembentukan kebiasaan baik dan karakter anak. Dengan begitu, tugas pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab pihak sekolah, melainkan juga orang tua, dan juga masyarakat.

"Sepakat, tidak mungkin tujuh kebiasaan itu hanya di sekolahan. Karena kalau lihat dari tujuh itu yang bisa di sekolahan hanya belajar," ucapnya.

Butuh Ruang Dialog Sekolah-Orang Tua

Ia mencontohkan, sebuah sekolah di Bali membuat aplikasi yang memungkinkan orang tua dan sekolah berkoordinasi dalam memantau perkembangan anak.

"Jam berapa dia bangun, bermasyarakat apa tidak. Wali kelas bisa kemudian memantau dan mendiskusikan Dengan orang tua tentang apa kegiatan-kegiatan anak-anak ini," ucapnya.

Di sisi lain, ia mengakui ada ruang dialog sekolah-orang tua yang bergeser menjadi ruang dialog bisnis di masa kini. Dalam hal ini, dengan menyekolahkan anak, semua tanggung jawab karakter anak kini ada di pihak sekolah.

"Padahal pendidikan itu adalah ruang dialog. Nah ini yang menurut saya butuh kerja sama untuk membangun ruang dialog antara sekolah, guru dengan orang tua,"

"Menurut saya penting, menurut saya, bareng-bareng untuk memunculkan itu lagi Sehingga tujuh kebiasaan ini bisa kita laksanakan teknisnya. Bisa sekolah punya macam-macam. Kalau di TK, mungkin dengan Buku Penghubung Jurnal, ada yang menggunakan aplikasi. Jadi ada teknis, bisa. Tapi, intinya, ruang dialog ini harus terus digelorakan sehingga sekolah dan orang tua bisa membangun bersama-sama," ucapnya.




(twu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads