Siswa SMA LabSchool Cibubur Raih 14 Penghargaan di Pameran Inovasi Thailand

ADVERTISEMENT

Siswa SMA LabSchool Cibubur Raih 14 Penghargaan di Pameran Inovasi Thailand

Tim detikEdu - detikEdu
Rabu, 14 Jan 2026 18:34 WIB
Siswa SMA LabSchool Cibubur Raih 14 Penghargaan di Pameran Inovasi Thailand
Foto: (Dokumentasi SMA Labschool Cibubur)
Jakarta -

Siswa SMA LabSchool Cibubur meraih 14 penghargaan di ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition atau IPITEx 2026 di Bangkok, Thailand. Ini dia ragam inovasinya.

Capaian ini terjadi ketika pemerintah menempatkan penguatan pendidikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul. Inovasi yang lahir dari ruang kelas dan laboratorium sekolah kini mampu bersaing di forum internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IPITEx atau yang dikenal dengan nama Thailand Inventors' Day 2026 ini berlangsung pada 5-9 Januari 2026 di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand. Ajang ini diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand dan diikuti oleh inovator dari berbagai negara dengan latar belakang riset terapan.

Volcalert, inovasi pendeteksi erupsi gunung api karya Amira, Naryama, Daffa, Jeenan, Tyas, dan Amina, berhasil meraih medali emas, demikian dilansir dari rilis SMA Labschool Cibubur, Rabu (14/1/2026).

ADVERTISEMENT

Empat medali perak diperoleh melalui karya inovasi:

  • Atroofsphere karya Keisha, Qadhira, Fito, Arrisa, Delano, dan Diandra;
  • Duree karya Aisyah, Aulia, Quinsha, Lingga, Riffat, dan Khatir;
  • Palmora Biogrease karya Wira, Nara, Nauval, Hannan, Mazaya, dan Dhia;
  • Snap-Coffee karya Sabrina, Axelle, Kiarra, Alagani, Clarissa, dan Nio.

Sementara itu, Bite Block karya Sheza, Kheyra, Danish, Myshabira, Rachel, dan Arif meraih medali perunggu.

Selain medali, para siswa juga memperoleh tiga penghargaan presentasi dari National Research Council of Thailand serta lima special award dari institusi di Malaysia, Filipina, dan Rusia.

"Selain mengasah kemampuan riset dan presentasi ilmiah, siswa juga harus didorong untuk membangun jejaring internasional dengan peserta dan institusi luar negeri. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran STEM yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kesiapan generasi muda Indonesia untuk berkolaborasi dan berkontribusi dalam konteks global," ujar Kepala SMA Labschool Cibubur Dr Ali Chudori.

Capaian tersebut tidak hadir secara instan. Selama sekitar empat bulan, para siswa menjalani pembinaan riset secara intensif di luar jam pelajaran dengan pendampingan guru-guru profesional, yakni Ageung Rayi Pamungkas, guru tersertifikasi STEM oleh Direktorat Dikdasmen dan Monash University; Vinati Qurroti Ayuninaa dari tim akademik sekolah; serta guru bidang STEM Slamet Maulana, Heroniaty, dan Mia Tanti Annisa.




(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads