Sudah hampir 10 sekolah menengah di Singapura berencana memasang loker ponsel mulai 2026. Kebijakan ini mewajibkan pelajar menyimpan ponsel selama jam sekolah.
Kementerian Pendidikan Singapura atau Ministry of Education (MOE) memperketat aturan dengan melarang penggunaan gawai sepanjang hari sekolah.
Sebelumnya larangan hanya berlaku saat pelajaran, tetapi kini mencakup seluruh kegiatan di sekolah, termasuk istirahat, jeda antarmata pelajaran, dan ekstrakurikuler.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti Apa Loker Ponsel yang Dimaksud?
MOE menyatakan perangkat siswa harus disimpan di area penyimpanan yang telah ditentukan seperti loker atau di dalam tas selama jam sekolah. Meski begitu, beberapa sekolah memilih untuk menggunakan loker ponsel.
Berdasarkan dokumen tender di portal pengadaan pemerintah Singapura, pada akhir 2025 dan awal 2026 hampir 10 sekolah menyatakan ketertarikan untuk memasang loker ponsel. Sekolah-sekolah ini termasuk Cedar Girls' Secondary, Hai Sing Catholic, Admiralty Secondary, dan Hillgrove Secondary.
Menurut Wide-Links, pemasok perabot kantor, kepada The Sunday Times mereka mengataka telah memasok loker ponsel ke lebih dari 40 sekolah, termasuk sekolah dasar, pada 2025.
Springfield Secondary School menjadi contoh sekolah yang berhasil mengendalikan penggunaan perangkat gawai siswa melalui loker yang mereka sebut "handphone hotels". Sekolah ini sudah dua tahun menerapkan pembatasan ponsel selama sekolah.
Setelah pandemi pada 2023, sekolah mengamati siswa sering menghabiskan waktu dengan ponsel mereka. Namun, seperti yang diperkirakan, langkah ini awalnya menuai penolakan dari siswa ketika diumumkan pada awal Semester 2 tahun 2023, menurut Kepala Sekolah Springfield Secondary School, Eleanor Chia.
"Ada banyak keluhan dari siswa ketika kami mengumumkannya, tetapi mereka memahami 'alasannya'," katanya.
Sejak saat itu, para guru telah mencermati ada peningkatan fokus selama pelajaran. Mereka juga menghabiskan lebih sedikit waktu untuk manajemen kelas. Sementara interaksi sosial antarsiswa juga meningkat.
"Pada awal 2023, jika Anda pergi ke kantin, Anda akan melihat semua orang menundukkan kepala, mata tertuju pada perangkat mereka. Sekarang... semua orang mengobrol, membicarakan hari mereka," kata Chia.
Selain itu, ada lebih banyak kelompok siswa olahraga di lapangan sekolah. Sekolah pun melihat penurunan kasus disiplin, seperti siswa yang berkumpul di toilet untuk merokok atau merencanakan kenakalan.
"Mereka tidak bisa lagi berkoordinasi karena tidak ada telepon," katanya.
Respons Ortu-Siswa terhadap Aturan Loker HP
Orang tua pun menyambut aturan baru ini. Agnes Monica, salah satunya, menyebut sekolah menyediakan hotline untuk orang tua menghubungi anak dalam keadaan darurat.
"Jeda seharusnya saat untuk bersosialisasi dengan teman dan melepas penat dari gadget. Ini momen singkat untuk bernapas."
Siswa St Gabriel's Secondary, Lashaun G'haran, 13 tahun, mengaku merindukan penggunaan ponsel saat istirahat, tetapi kini menikmati menjelajah sekolah dan belajar sejarahnya.
"Kalau saya bawa ponsel, mungkin saya cuma duduk sama teman-teman main game," ujarnya.
(nah/nah)











































