Ruang Kelas di Singapura Bakal Pakai Kipas Angin Kencang, Kok Bukan AC?

ADVERTISEMENT

Ruang Kelas di Singapura Bakal Pakai Kipas Angin Kencang, Kok Bukan AC?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Jumat, 06 Mar 2026 08:00 WIB
Kipas angin gantung di ruangan.
Ilustrasi kipas angin Foto: Freepik/mrsiraphol
Jakarta -

Kementerian Pendidikan Singapura akan memasang kipas tambahan yang lebih kuat di seluruh ruang kelas paling lambat 2027. Bagian luar gedung sekolah juga akan dilapisi cat penahan panas untuk menekan suhu dan membuat suasana belajar lebih nyaman.

Hal ini disampaikan Menteri Negara Pendidikan Jasmin Lau di Parlemen pada 4 Maret seperti dikutip dari The Straits Times. Menurutnya, Kementerian Pendidikan akan bekerja sama dengan sekolah untuk mengidentifikasi lokasi yang rentan mengalami ancaman panas akibat terbatasnya lahan, kondisi bangunan, atau minimalnya aliran angin alami.

la menambahkan jika langkah yang ada belum efektif, pemerintah akan menyiapkan solusi pendinginan tambahan. Upaya ini bertujuan memastikan siswa dan guru tetap bisa belajar dan mengajar dengan nyaman di tengah cuaca yang kian panas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun opsi penggunaan pendingin udara (AC) selain memasang kipas dan melapisi bangunan dengan cat penahan panas dipertimbangkan untuk kelas yang harus tertutup lama akibat debu atau kebisingan proyek konstruksi di sekitar sekolah.

ADVERTISEMENT

Menteri Negara Pendidikan Jasmin Lau menyampaikan kebijakan ini saat menjawab pertanyaan parlemen tentang dampak suhu tinggi terhadap proses belajar. la merujuk studi 2024 dari National University of Singapore (NUS) yang menunjukkan kinerja kognitif menurun ketika suhu melampaui ambang tertentu.

"Namun hal ini tidak berarti semua sekolah memerlukan cara pendinginan yang sama. Kami akan terus meninjau kondisi sekolah-sekolah dan memfokuskan langkah tersebut pada sekolah yang siswanya mengalami tingkat ketidaknyamanan lebih tinggi," katanya.

Strategi Pendinginan Hemat Energi di Sekolah

Studi tersebut dipesan Kementerian Pendidikan (MOE) pada 2020 untuk menentukan penerapan mixed-mode cooling atau sistem pendinginan campuran yang optimal di ruang kelas. Pendekatan ini menggabungkan ventilasi alami dan mekanis guna mencapai suhu nyaman dengan tetap mempertimbangkan dampak lingkungan.

Menteri Negara Senior untuk Pendidikan, David Neo, sebelumnya menegaskan pemerintah tidak terburu-buru memasang AC di semua sekolah karena dinilai lebih boros energi.

Sebagai gantinya, kementerian menambah jumlah dan kapasitas kipas serta melapisi gedung dengan cat penahan panas. Selain itu, sekolah juga didorong menggunakan seragam berbahan ringan dan mudah menyerap keringat.

Sistem mixed-mode cooling juga diterapkan di aula sekolah untuk mencapai suhu target tanpa sepenuhnya bergantung pada pendingin udara.


Desain Sekolah Baru yang Hemat Energi

Seluruh sekolah baru di Singapura dirancang untuk meraih sertifikasi Green Mark Platinum Super Low Energy.

Standar ini menekankan desain pasif untuk mengurangi akumulasi panas, memaksimalkan ventilasi alami, dan meminimalkan kebutuhan pendinginan mekanis. Fasad bangunan diorientasikan utara-selatan untuk meningkatkan aliran angin silang, dilengkapi perlindungan dari sinar matahari langsung, serta bukaan jendela yang besar untuk optimalisasi sirkulasi udara.

Selain itu, MOE mendorong penambahan ruang hijau dan teduh di sekitar sekolah untuk menurunkan suhu lingkungan sekitar sehingga suasana belajar dapat lebih kondusif.

Lau menekankan kebijakan ini adalah bagian dari pendekatan lebih luas dalam menghadapi kenaikan suhu dan variabilitas iklim jangka panjang. MOE kini aktif bekerja dengan lembaga riset dan instansi lain untuk mengumpulkan data lokal terkait dampak suhu terhadap kesejahteraan dan prestasi siswa. Hasil kajian ini akan terus memandu penyesuaian kebijakan agar solusi yang diterapkan tidak hanya efektif tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan.

"Seiring kami mengumpulkan semakin banyak bukti tentang dampak suhu yang meningkat terhadap siswa, kami akan terus menyempurnakan pendekatan kami untuk mencapai kenyamanan termal yang optimal di semua sekolah secara ramah lingkungan," kata Lau.

Penulis adalah peserta program MagangHub Kemenaker di BeritaKlik




(crt/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads