Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengenalkan praktik baik dari budaya sekolah aman dan nyaman di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu wilayah yang ikut memamerkan inovasi praktik baik tersebut adalah Tuban, Jawa Timur.
Mewakili UPT SDN Sokosari Tuban, Jawa Timur, Endang Saptarina menjelaskan jika sekolahnya memiliki alat bernama roda emosi. Roda emosi merupakan alat berbentuk bulat dengan tulisan berbagai macam emosi.
Alat ini dilengkapi dengan penunjuk seperti dalam jam untuk menunjuk suatu emosi. Roda emosi ini dibuat untuk melatih para siswa mengenal dan meregulasi emosi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Endang mencontohkan situasi di mana seorang anak lupa membawa alat tulis dan ingin meminjam punya temannya. Namun teman itu tidak mau meminjamkan.
"Ternyata enggak dipinjami. Emosi apa yang kamu rasakan? Nah itu macam-macam. Nah itu nanti bisa diputar sini anak-anak. Mungkin marah, tapi ada juga yang enggak marah tapi sedih saja," jelas Endang kepada detikEdu dalam Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Terkait Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jalan Pintu Satu Senayan, No. 1, Jakarta pada Selasa (2/6/2026).
Endang menekan jika setiap orang boleh merasakan semua emosi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana mengelola emosi tersebut dengan bijak.
"Nah kita boleh merasakan semua emosi itu. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kalian mampu mengelola emosi marah, sedih sehingga memunculkan sikap yang bijak. Jadi kita melatih anak bijak," tuturnya.
Setelah mengetahui emosi yang dirasakan, guru bisa mengakarkan cara mengelola emosi. Salah satunya adalah dengan teknik pernafasan.
"Biasanya awal-awal itu suka guru yang beritahu kalau ada anak yang cek cok, ada yang marah, ayo tarik nafas. Sekarang sudah menjadi pembiasaan," ujarnya.
Cerita Anak yang Dulu Mudah Tantrum
Endang menceritakan dulu pernah ada salah satu siswa yang sering marah atau tantrum. Setelah ditelusuri, sikap ini bukan karena masalah di sekolah, tapi di rumah. Siswa tersebut disebut sering melampiaskan amarah pada teman-temannya.
"Nah, kita telusuri ternyata ada kasus seperti itu. Tapi dengan treatment-treatment seperti ini, alhamdulillah sekarang anak itu bisa lebih tenang. Lebih bisa menerima. Kemudian dia juga mampu untuk mengelola emosinya," ujarnya.
Dulu siswa tersebut juga sempat terisolir di sekolah. Namun, siswa itu tidak menyadari jika alasannya karena ia membawa masalah dari rumah yang dilampiaskan ke teman-temannya.
"Selain itu temannya juga kita beri pengetahuan bahwa sebetulnya seperti ini. Sehingga mereka juga tidak salah sangka. Nah, sehingga keduanya ini saling bisa memahaminya," katanya.
(pal/pal)










































