Tidak semua orang beruntung bisa menamatkan sekolah pada usia yang seharusnya. Ada yang harus bekerja lebih awal, ada yang terkendala biaya, dan ada pula yang terhenti karena tekanan keluarga. Di titik inilah program pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) memegang peran.
Di sejumlah kecamatan di Kabupaten Sukabumi, PKBM menjadi ruang kembali bagi warga yang ingin menuntaskan pendidikan. Mereka datang dengan alasan yang berbeda-beda, tapi dengan tujuan yang sama: mengambil kembali kendali hidupnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dipahami sebagai jalur tunggal. Ruang belajar, katanya, harus tetap tersedia bahkan ketika seseorang sudah terputus dari sekolah formal.
"Pendidikan tidak berhenti hanya karena seseorang sempat berhenti sekolah. PKBM memberikan kesempatan kedua bagi warga untuk menuntaskan pendidikan dan membangun kemandirian," kata Deden dalam keterangan tertulis kepada detikJabar.
Di beberapa PKBM, suasananya jauh dari kesan ruang kelas konvensional. Ada yang belajar setelah pulang bekerja. Ada ibu-ibu rumah tangga yang membawa anaknya karena tak ada yang menjaga. Ada remaja yang memutuskan kembali belajar setelah sempat menganggur.
Materi yang diberikan pun tidak melulu soal akademik. PKBM di Sukabumi banyak mengembangkan pelatihan keterampilan yang berkaitan dengan kebutuhan hidup sehari-hari, menjahit, pemasaran digital sederhana, pengolahan makanan, hingga layanan servis kendaraan rumahan. Pendekatannya bukan teoritis, tetapi praktis dan dekat dengan kenyataan.
Menurut Deden, pendekatan keterampilan ini penting karena pendidikan harus memiliki dampak langsung terhadap kehidupan peserta didik.
"PKBM tidak hanya memberikan ijazah kesetaraan. Ia juga membuka jalan kemandirian ekonomi. Itu yang membuat program ini relevan dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Bagi warga yang kembali belajar, kehadiran PKBM bukan hanya soal ijazah. Ada rasa percaya diri yang pulih. Ada perasaan bahwa hidup masih bisa dikendalikan. Ada kesempatan untuk menata ulang hal-hal yang dulu sempat terlewat.
Namun, program ini tetap menghadapi tantangan. Pengelolaan lembaga yang beragam, keterbatasan fasilitator, serta kebutuhan pembinaan berkelanjutan menjadi pekerjaan yang tidak kecil.
Deden menyadari hal itu. Ia menyebut bahwa penguatan kapasitas tutor dan pengelola PKBM masih harus terus berjalan.
"Yang kami dorong adalah penjaminan mutu yang konsisten. PKBM harus menjadi ruang belajar yang aman, terarah, dan dapat dipertanggungjawabkan," tuturnya.
Meski demikian, di banyak tempat, hasilnya mulai terlihat. Ada peserta yang kembali bekerja dengan bekal keterampilan baru.
"Ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ada yang berdiri sebagai penggerak di lingkungannya sendiri," pungkasnya.
(sya/sud)