Jalan Ahmad Yani Sempit, Warga Khawatir BRT Picu Kemacetan Baru

Jalan Ahmad Yani Sempit, Warga Khawatir BRT Picu Kemacetan Baru

Adi Mukti - detikJabar
Kamis, 15 Jan 2026 19:30 WIB
Spanduk himbauan pembangunan koridor BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung
Spanduk himbauan pembangunan koridor BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung. (Foto: Satria/detikJabar)
Bandung -

Sebuah spanduk berlatar biru membentang di sisi Jalan Ahmad Yani, tepatnya setelah perlintasan kereta api. Spanduk ini menandakan lokasi koridor Bus Rapid Transit (BRT).

Proyek BRT memang jadi salah satu proyek transportasi massal yang sudah dicanangkan pemerintah sejak lama. Jalan Ahmad Yani, tempat spanduk itu terpasang, merupakan salah satu titik yang rencananya akan dibangun koridor BRT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spanduk bertuliskan 'Sepanjang Jalur Ini Akan Dibangun Koridor/Fasilitas BRT' tampak mencolok dan mudah dilihat pengendara.

Keberadaan spanduk tersebut jadi pertanda dimulainya proyek tersebut. Kendati demikian, muncul kekhawatiran warga terkait pemberlakuan BRT tersebut.

ADVERTISEMENT

Salah satunya Ajat Suderajat. Dia mendukung proyek BRT tersebut. Akan tetapi, dia mempertanyakan pelaksanaan BRT lantaran kondisi jalan yang sempit.

"Menurut saya ada baiknya. Namun di sisi lain jalanan ini sempit sehingga menimbulkan kemacetan lagi, kecuali ada solusi lain," ujar Ajat saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (15/1/2026).

Kondisi Jalan Ahmad Yani (kawasan Kosambi)Kondisi Jalan Ahmad Yani (kawasan Kosambi) Foto: Satria/detikJabar

Suderajat menuturkan Jalan di sekitar Pasar Kosambi selalu dipadati kendaraan pribadi, baik mobil atau motor. Bahkan jalanan menjadi sangat padat ketika terjadi perlintasan kereta. Akibatnya, ia belum bisa membayangkan bagaimana kondisi lalu lintas saat BRT mulai beroperasi. Ia tetap menyambut positif rancangan BRT. Namun, ia menekankan perlunya solusi konkret untuk menangani potensi kemacetan.

"Karena di sini rawan terjadi macet ketika kereta lewat, jalan menjadi susah dilewati. Selanjutnya, lalu lintas akan dialihkan secara otomatis ke sini (Jalan Terate). Sedangkan di jalan tersebut ada gereja. Tentu saja, ini demi perbaikan Jabar sendiri, kalau bisa jangan terlalu padat. Kecuali ada imbauan dari pemerintah untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, baru ini (BRT) bisa berjalan," kata Suderajat.

Senada dengan Suderajat, Nono warga lainnya pun turut meminta solusi terkait kepadatan arus lalu lintas saat BRT dioperasikan.

"Ya bagaimana. Jalan sudah padat terus katanya nanti ini ada jalur khusus, apakah akan diperluas lagi jalannya. Kendaraan yang lain juga pada kosong, angkot juga kosong. Maaf ya, saya mendukung, tapi bagaimana caranya," ujar Nono.

Rancangan BRT ini memberikan opsi baru bagi warga dalam memilih transportasi umum. Namun di sisi lain, warga meminta penjelasan agar BRT ini tidak menjadi sumber baru kemacetan di jalan.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads