Produktivitas dan Ekspresi di Balik Meja Coffee Shop Ala Gen Z

Produktivitas dan Ekspresi di Balik Meja Coffee Shop Ala Gen Z

Firyal Hanan Maulida - detikJabar
Rabu, 21 Jan 2026 12:30 WIB
Suasana salah satu coffee shop di Bandung.
Suasana salah satu coffee shop di Bandung (Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar).
Bandung -

Di sudut sebuah coffee shop yang tenang, layar laptop yang menyala menjadi pemandangan dominan di hampir setiap meja. Beberapa orang tampak serius bekerja, sementara di meja sebelah, sepiring camilan bersanding dengan segelas kopi susu kekinian. Ada yang duduk sendiri dengan headphone terpasang, ada pula yang sesekali tertawa kecil sambil menikmati minumannya.

Di salah satu sudut, Mutia (21) menjadi bagian dari pemandangan itu. Mahasiswi tingkat akhir ini sedang bergelut dengan draf skripsinya. Baginya, suasana coffee shop yang hidup namun tenang adalah resep utama agar otaknya tetap bisa diajak bekerja sama.

Mencari Fokus di Tengah Distraksi

Bagi Mutia, memilih coffee shop sebagai tempat mengerjakan tugas bukanlah tanpa alasan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman justru penuh gangguan yang menghambat produktivitasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau aku sendiri, kalau ngerjain sesuatu di rumah itu kurang fokus dan malah banyak distraksi. Jadi nyari coffee shop yang emang agak tenang gitu biar lebih fokus," ungkap Mutia saat ditemui detikJabar di sebuah coffe shop di Kota Bandung belum lama ini.

Suasana salah satu coffee shop di Bandung.Suasana salah satu coffee shop di Bandung. (Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar).

Namun, kenyamanan suasana saja tidak cukup bagi Mutia. Sebagai pengunjung, ia menaruh perhatian besar pada apa yang tersaji di atas mejanya.

ADVERTISEMENT

"Dua-duanya sih, rasa dan suasana. Soalnya kalau tempatnya enak tapi kopinya kurang, aku jadi kurang enjoy. Jadi aku nyari yang rasanya enak dan tempatnya juga nyaman," tambahnya.

Safe Place dan Budaya Photobox

Mutia juga menyoroti bagaimana coffee shop kini telah menjadi gaya hidup bagi generasinya, yakni Gen Z. Sebagai seorang yang mengaku introver, ia mencari ambience yang membuatnya merasa aman.

"Tergantung coffee shop-nya sih. Kalau aku kan introver ya, kalau lagi ke coffee shop sendiri, aku nyari tempat yang ambience-nya terasa safe buat aku sendiri," ungkapnya.

Kriteria itu bisa berubah saat Mutia datang bersama teman-temannya. Fokusnya beralih dari ketenangan menjadi keseruan. "Tergantung sih, kalau lagi sama teman-teman nyarinya pasti yang ada photobox-nya. Tapi kalau lagi sendiri, nggak masalah nggak ada photobox juga," jelasnya.

Healing dan Ajang Eksis

Tak jauh dari sana, Amel (21) juga tengah menikmati kunjungannya. Bagi Amel, suasana coffee shop yang hangat (warm) adalah sarana healing dari tekanan rutinitas.

"Menurut aku, karena tekanan, jadi butuh healing buat refreshing. Di sini vibes-nya itu warm, terus nyaman, nyari suasana juga biar nggak mumet. Kebanyakan yang WFC (Work From Cafe) sih kelihatannya, atau sekadar nongkrong dan first date," kata Amel.

Selain menjadi ruang tenang, Amel melihat sisi lain coffee shop sebagai panggung ekspresi diri. Sudut-sudut ruangan yang estetik ia manfaatkan untuk konten, seperti OOTD (Outfit of the Day). Baginya, suasana kafe juga membantu mereka yang pemalu untuk lebih berani berinteraksi dengan dunia luar.

Bagi Mutia dan Amel, coffee shop adalah ruang multifungsi. Tempat mereka bisa tetap produktif di depan laptop, menikmati hidangan, sekaligus menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Nongkrong Seru Tanpa Gadget, Mending Ngopi Sambil Photobox"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads