Asal-usul Bangkai Kapal di Tengah Gurun Pasir, Bawa Kepingan Emas

Kabar Internasional

Asal-usul Bangkai Kapal di Tengah Gurun Pasir, Bawa Kepingan Emas

Anggoro Suryo - detikJabar
Rabu, 28 Jan 2026 19:00 WIB
Kapal harta karun
Kapal Bom Jesus (Foto: Dieter Noli)
Bandung -

Para pekerja tambang berlian di kawasan terpencil Sperrgebiet, Namibia, mengalami penemuan tak terduga saat mengeruk pasir gurun. Bukan batu mulia yang mereka temukan, melainkan sisa-sisa kapal niaga Portugis berusia setengah milenium yang sarat dengan muatan bernilai tinggi.

Kapal itu kemudian dikenali sebagai Bom Jesus, sebuah kapal abad ke-16 yang tercatat hilang pada tahun 1533 dalam pelayaran menuju India. Bangkai kapal tersebut ditemukan di wilayah konsesi pertambangan dekat Oranjemund yang dijaga sangat ketat. Sejak pertama kali terungkap pada 2008, lokasi ini segera menarik perhatian para arkeolog bawah air dan sejarawan dari berbagai negara.

Keadaan bangkai kapal dinilai sangat istimewa. Lingkungan kering Gurun Namib berperan besar dalam menjaga keutuhan struktur kapal beserta isinya. Dari dalam kapal, para peneliti menemukan lebih dari dua ribu keping emas, sekitar 22 ton tembaga batangan, serta puluhan gading dari Afrika Barat yang masih tertata rapi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini bukan sekadar situs arkeologi, melainkan kapsul waktu ekonomi dari era penjelajahan," kata Bruno Werz, Direktur African Institute for Marine and Underwater Research, Exploration and Education, dikutip dari The Daily Galaxy.

Susunan kargo tersebut memberikan gambaran nyata tentang jaringan perdagangan global awal yang menghubungkan Eropa, Afrika, dan Asia. Analisis menunjukkan sebagian besar batangan tembaga memiliki segel keluarga perbankan Fugger dari Jerman, menandakan dukungan pendanaan lintas negara dalam ekspedisi Portugis ke Samudra Hindia. Keberadaan koin emas Spanyol dalam jumlah besar juga mengindikasikan peran investor Spanyol yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Berbeda dari kebanyakan bangkai kapal bersejarah yang ditemukan di dasar laut, Bom Jesus justru berada jauh di daratan. Para peneliti menduga kapal ini terseret badai besar di sekitar Tanjung Harapan, keluar jalur, lalu kandas. Selama berabad-abad, perubahan garis pantai dan kondisi iklim ekstrem Gurun Namib membuat kapal tertimbun pasir dan terlindungi dari air laut maupun organisme perusak.

Sebuah studi ilmiah pada 2014 menyebut kombinasi kekeringan ekstrem dan stabilitas lingkungan gurun menciptakan kondisi pengawetan yang sangat langka. Bahkan sisa kayu dan kain kapal masih dapat diidentifikasi.

Soal kepemilikan, bangkai kapal ini tidak pernah menjadi sengketa. Berdasarkan Konvensi UNESCO 2001, Bom Jesus secara hukum menjadi milik Namibia. Pemerintah Namibia kini berencana membangun museum maritim di Oranjemund untuk menyimpan artefak kapal tersebut.

"Beginilah seharusnya kerja sama internasional dijalankan," ujar sejarawan maritim Alexandre Monteiro dalam wawancara terpisah.

Artikel ini telah tayang di detikINET

(asj/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads