Diduga Keracunan Tahu Berjamur MBG, Bocah 9 Tahun Dirujuk ke RSUD Palabuhanratu

Diduga Keracunan Tahu Berjamur MBG, Bocah 9 Tahun Dirujuk ke RSUD Palabuhanratu

Siti Fatimah - detikJabar
Kamis, 29 Jan 2026 09:59 WIB
Suasana Puskesmas Simpenan saat menangani kasus keracunan MBG
Suasana Puskesmas Simpenan saat menangani kasus keracunan MBG (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Seorang bocah berusia 9 tahun yang diduga menjadi korban dugaan keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, terpaksa dirujuk ke RSUD Palabuhanratu untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Diketahui, para siswa dan guru itu mengalami gejala keracunan usai menyantai tahu yang berjamur pada menu MBG.

Dokter Puskesmas Simpenan, Egi mengatakan, hingga Rabu (28/1/2026) malam jumlah pasien yang tercatat mengalami gejala keracunan mencapai 19 orang. Dari jumlah tersebut, sebagian sudah diperbolehkan pulang, sementara satu pasien harus dirujuk ke rumah sakit rujukan.

"Update terkini jumlah pasien ada 19 orang. Yang sudah pulang ada tiga, hari ini ada satu yang dirujuk. Yang dirujuk itu pasien dengan indikasi thalasemia," ujar Dokter Egi di lokasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasien yang dirujuk tersebut merupakan anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun dengan inisial L. Saat ini, pasien telah dibawa ke RSUD Palabuhanratu untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

"Satu orang dirujuk ke rumah sakit Palabuhanratu. Yang masih ditangani di sini ada 15 pasien," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi menegaskan, bahwa fokus utama pihaknya adalah penanganan cepat terhadap para korban keracunan.

"Prinsipnya ketika ada kejadian keracunan makanan seperti ini, tugas kami melalui puskesmas adalah penanganan pasien. Ada tahapan-tahapan yang dilakukan," kata Masykur.

Ia menjelaskan, setiap pasien yang datang ke fasilitas kesehatan langsung menjalani proses triase untuk menentukan tingkat keparahan kondisi masing-masing. "Pasien datang ke faskes, kemudian dilakukan triase, dipilah-pilih sesuai kondisi. Prinsip utama kami adalah life saving atau penyelamatan nyawa," tegasnya.

Menurut Masykur, setelah dilakukan stabilisasi di puskesmas, pasien akan dirujuk apabila dinilai membutuhkan penanganan lanjutan. Koordinasi dengan rumah sakit rujukan pun telah dilakukan sejak awal.

"Kalau menurut dokter perlu dirujuk, maka dirujuk. Saya sudah koordinasi dengan faskes tingkat rujukan di Palabuhanratu, saya sudah kontak direkturnya dan mereka siap siaga," ungkapnya.

Meski jumlah korban terus bertambah, Masykur menegaskan pihaknya belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Namun langkah antisipatif tetap disiapkan apabila terjadi lonjakan pasien.

"Kita belum bicara dulu KLB atau bukan. Intinya kesehatan ditangani secepatnya. Kami juga berpikir antisipatif, kalau misalnya datang lagi pasien dalam kondisi terburuk, kita siapkan tempat. Kalau tidak cukup, kami juga koordinasi dengan Kodim dan Basarnas untuk peminjaman tempat tidur," ujarnya.

Terkait pengawasan Program Makan Bergizi Gratis, Masykur menyebut dinas kesehatan memiliki kewajiban melakukan monitoring setelah dapur MBG mendapatkan rekomendasi laik sehat.

"Prosedurnya, ketika MBG sudah mendapatkan SLHS, itu otomatis menjadi kewajiban Dinas Kesehatan untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Rekomendasi SLHS itu juga dari kami, jadi pengawasannya melekat," jelas Masykur.

"Diagnosanya kemungkinan muntaber, gastritis atau enteritis akut. Jadi dari lambungnya juga, diduga akibat keracunan," katanya.

Terkait penyebab utama keracunan, pihak Dinas Kesehatan menegaskan hingga kini masih dalam proses penelusuran. "Untuk penyebab utama belum bisa dipastikan. Dugaan sementara memang dari makanan," tutupnya.

Hingga pukul 22.30 WIB suasana di Puskesmas Simpenan masih dipenuhi warga dan keluarga pasien. Terlihat petugas kesehatan berjibaku menangani pasien dengan gejala keracunan tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Agus salah satu keluarga korban mengatakan, keponakannya mengalami gejala serius setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah. Menu tersebut terdiri dari nugget, jeruk, sayur wortel, dan tahu yang diduga sudah tidak layak konsumsi.

"Pagi tadi langsung dibawa ke puskesmas karena sudah muntah sampai enam kali. Sempat dibawa pulang, tapi muntah lagi, akhirnya sekarang dibawa kembali ke sini," kata Agus.

Selain itu, Rahayu, seorang guru SD juga menemukan tahu berjamur dengan rasa asam dan benda asing. Dia mulai curiga saat mencicipi MBG sebelum didistribusikan kepada para siswa.

"Pas dicek ompreng berikutnya, tahunya sudah berjamur. Saya buka lagi satu, selain berjamur, ada hekter (staples)-nya," ujar Rahayu dengan nada prihatin.

Kasi Trantib Kecamatan Simpenan, Jamjuri juga telah melakukan inspeksi mendadak ke SPPG dan menemukan bahan makanan yang tidak higienis. Dalam pengecekan tersebut, ditemukan sebagian stok tahu dalam kondisi berjamur serta buah jeruk yang mulai membusuk.

"Memang benar ada tahu yang sudah berjamur. Saya langsung minta agar makanan itu tidak disalurkan karena tidak layak dikonsumsi," ujar Jamjuri.




(tya/tey)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads