Sejumlah peristiwa terjadi di wilayah Sukabumi dan Cianjur dalam sepekan terakhir. Mulai dari aksi child grooming guru SD di Sukabumi hingga persalinan dramatis ibu muda di jalur 'neraka' Cianjur.
Berikut rangkuman berita Sukabumi-Cianjur pekan ini.
1. Elang Nyasar Tabrak Kaca Rumah Warga
Suara pecahan kaca menggema dari salah satu rumah warga di Kampung Nyangegeng, Desa Babakan Panjang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Warga sempat mengira suara itu muncul dari benda keras. Namun setelah dilihat, ada seekor burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang terjatuh usai menabrak kaca rumah warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Warga sempat panik karena suara benturan cukup keras. Setelah dicek, ternyata ada burung yang menabrak kaca rumah sampai pecah," kata Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Nagrak Winda Tri Sutrisno, Senin (2/2/2026).
Menyadari satwa tersebut dilindungi, warga melaporkan kejadian itu ke P2BK Nagrak. Pihak P2BK kemudian berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC), Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK), serta petugas Resor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
"Karena Elang Jawa adalah satwa dilindungi, penanganannya harus sesuai prosedur dan melibatkan instansi terkait," ujarnya.
Relawan Jaga Satwa bersama unsur setempat, termasuk Kepala Dusun Nyangegeng, mengevakuasi elang yang terluka di bagian paruhnya itu. Langkah ini diambil untuk mencegah risiko lanjutan terhadap keselamatan warga maupun kondisi satwa.
"Setelah dievakuasi, Elang Jawa langsung mendapat perawatan pada lukanya dan dikarantina sementara," tambahnya.
Rencana, burung pemangsa itu akan dibawa ke PPSC. Petugas juga tengah memantau kondisinya secara berkala untuk memastikan kesehatan satwa selama masa karantina.
"Selanjutnya akan direhabilitasi dan diserahkan ke Pusat Konservasi Elang Kamojang di Bandung," pungkas Winda.
P2BK Nagrak mengimbau masyarakat tidak menangani sendiri satwa liar yang masuk ke permukiman. Warga diminta segera melapor kepada pihak berwenang demi keselamatan bersama serta kelestarian satwa dilindungi.
2. Gadis Sukabumi Jadi Korban Gang Rape
K (16), remaja perempuan di Kabupaten Sukabumi, menjadi korban pemerkosaan gang rape atau pemerkosaan berkelompok setelah dicekoki minuman keras. Dari empat pelaku pemerkosaan, dua di antaranya masih berstatus anak di bawah umur.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, membenarkan peristiwa tersebut. Pihaknya telah menangani kasus ini setelah menerima laporan dari pihak keluarga dan sekolah korban.
"Betul, kami menangani kasus dugaan tindak pidana pemerkosaan dan perbuatan cabul yang dilakukan secara bersama-sama atau gang rape. Total ada empat tersangka, dua dewasa dan dua lainnya Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH)," jelas Hartono kepada detikJabar, Minggu (25/1/2026).
Identitas tersangka dewasa adalah YS (27) dan M (22). Sedangkan dua pelaku anak adalah AR (17) dan W (16).
Peristiwa bermula pada Desember 2025. Salah satu pelaku, AR, menjemput korban dengan dalih mengajak jalan-jalan menikmati matahari terbenam (sunset) di Pantai Muara Tegal Buleud.
Karena korban mengenal AR, ia pun mengiyakan ajakan tersebut tanpa curiga. Namun, sepulangnya dari pantai, AR tidak mengantar korban ke rumahnya.
"Pelaku AR justru membelokkan kendaraan ke rumah temannya, tersangka YS, di Kampung Cibereum, Desa Buniasih. Di sana, para pelaku lain sudah berkumpul," ungkap Hartono.
Sesampainya di lokasi, korban dibawa masuk ke dalam rumah. Di tengah obrolan, korban diduga dipaksa atau dibujuk untuk meminum minuman energi kemasan yang diduga telah dicampur dengan minuman keras (miras).
"Akibat minuman tersebut, korban merasa pusing dan lemas. Dalam kondisi tak berdaya itulah, para pelaku membawa korban ke dapur dan melakukan aksi bejatnya secara bergantian," tambah Hartono.
Kasus ini akhirnya terbongkar pada akhir Januari 2026. Korban mendapatkan kiriman pesan singkat dari nomor tak dikenal yang memperlihatkan rekaman kejadian tersebut. Hal ini kemudian diketahui oleh pihak sekolah.
Wali kelas korban saat itu segera memanggil korban untuk meminta klarifikasi. Setelah korban mengakui peristiwa traumatis itu, pihak sekolah langsung memanggil orang tua korban dan mendampingi pelaporan ke kepolisian.
Para pelaku kini dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 473 Ayat (4) UU RI No 1 Tahun 2023 dan Pasal 414 serta 415 UU KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal.
3. Persalinan Dramatis Ibu Muda di Jalur 'Neraka'
Risma (23), ibu muda asal Kampung Cisalada, Desa Mekarlaksana, Kecamatan Cikadu, Cianjur, terpaksa melahirkan di jalan usai mobil yang ditumpanginya ke puskesmas mogok akibat akses jalan yang rusak parah. Beruntung, bayi perempuan dari ibu muda itu berhasil lahir dengan selamat.
Momen perjalanan Risma yang hendak melahirkan melalui jalan rusak pada Minggu (1/2/2026) malam itu bahkan sempat diabadikan dan diunggah di media sosial.
Terlihat dalam video tersebut beberapa orang berjalan menyusuri jalan rusak yang dipenuhi lumpur tebal. Bahkan sepeda motor tampak kesulitan untuk melintasi lumpur tersebut.
Surjana (49), ayah Risma, mengatakan video yang beredar di media sosial itu merupakan momen saat anaknya bersama keluarga mencoba untuk berjalan kaki menuju puskesmas lantaran mobil yang digunakan mogok.
"Karena jalannya rusak parah, mobil sampai mogok. Jadinya kami sekeluarga mencoba berjalan kaki supaya tiba ke puskesmas untuk proses persalinan anak saya," kata dia, Kamis (5/2/2026).
Namun setelah beberapa saat berjalan, Risma mengalami kontraksi sedangkan perjalanan ke puskesmas masih 30 menit jika menggunakan kendaraan bermotor.
Beruntung tak jauh dari lokasi tersebut terdapat rumah seorang warga. Setelah didatangi, pemilik rumah pun mempersilakan rumahnya untuk digunakan proses persalinan.
"Pakai mobil tidak mungkin karena mogok, kalau naik motor juga tidak bisa. Jadi ke rumah warga. Alhamdulillah pemiliknya baik, mempersilakan proses persalinan anak dan cucu saya," kata dia.
Bayi perempuan dari pasangan Risma dan Ridwan (27) itu pun lahir dengan selamat, setelah dua jam proses persalinan dengan dibantu dua orang bidan.
"Dari awal memang ditemani dua orang bidan. Makanya begitu keadaan darurat harus melahirkan di jalan dan akhirnya dialihkan ke rumah warga, dibantu bidang hingga bayi atau cucu saya lahir dengan selamat," kata dia.
Menurutnya, cucu pertamanya itu kini dalam keadaan sehat. "Cucu saya sehat meskipun lahir dalam keadaan darurat. Sekarang sudah dikasih nama Rayha Azzalea Zalfa," tuturnya.
Dia menjelaskan, peristiwa ibu hamil melahirkan di jalan sudah beberapa kali terjadi di jalur tersebut. Bahkan pada 2021 lalu, keponakannya sampai mengalami keguguran lantaran tak sempat dibawa ke puskesmas.
"Sudah puluhan tahun jalan ini rusak parah. Kejadian ibu hamil melahirkan di jalan sudah beberapa kali. Karena yang harusnya bisa dibawa cepat ke puskesmas, terkendala akses jalan yang rusak. Bahkan keponakan saya sampai keguguran," kata dia.
Surjana berharap pemerintah segera memperbaiki jalan kabupaten tersebut, sehingga tidak terjadi peristiwa serupa.
"Kami mohon segera diperbaiki ruas jalan Desa Mekarlaksana agar kejadian yang dialami anak saya atau keponakan saya tidak terulang lagi. Selain demi menyelamatkan ibu dan anak, jalan ini juga jadi akses pendidikan serta ekonomi. Semoga rencana Pemkab yang kabarnya membangun jalan di tahun ini bisa terealisasi," pungkasnya.
4. Viral! Guru SD di Sukabumi Diduga Lakukan Child Grooming ke Siswi
Dugaan praktik child grooming yang menyeret seorang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, menjadi sorotan publik usai sejumlah kontennya viral di media sosial TikTok. Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi pun angkat bicara dan menyatakan tengah mendalami kasus tersebut.
Pantauan detikJabar, Kamis (5/2/2026), akun TikTok milik guru laki-laki itu sudah tidak lagi muncul di laman pencarian. Namun, sejumlah kontennya telanjur tersebar luas melalui unggahan ulang akun-akun media sosial komunitas.
Dalam beberapa video yang beredar, guru tersebut terlihat menyuapi kue kepada seorang siswi kelas VI SD. Pada video lainnya, ia tampak memegang tangan siswi itu saat jam pulang sekolah. Tak hanya itu, momen foto ijazah pun turut dijadikan konten dengan keterangan yang memicu kemarahan warganet.
"Hari ini foto ijazah dulu yak, nanti kita foto bareng di KUA ya, Una," ucap guru tersebut dalam salah satu unggahannya.
Pada potongan video lain, tertulis keterangan, "POV jodohku adalah muridku," sambil memperlihatkan guru tersebut memegang tangan sang siswi dan menahannya agar tidak langsung pulang.
Unggahan-unggahan itu memicu dugaan adanya child grooming dan menuai kecaman publik. Salah satu warganet bahkan secara terbuka mempertanyakan langkah penindakan aparat dan lembaga terkait.
"Murka banget, ada guru SD konten2nya mengarah ke child grooming gini. Yang beginian bisa ditindak ga sih?," ucap salah satu warganet @magenta sambil menyebut Kemendikdasmen dalam postingannya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepala sekolah tempat guru tersebut mengajar untuk melakukan klarifikasi awal.
"Informasi ini sudah kami tindak lanjuti. Kami berkoordinasi langsung dengan kepala satuan pendidikannya. Kepala sekolah sudah melakukan klarifikasi terkait kejadian yang hari ini viral," kata Deden.
Menurut Deden, berdasarkan laporan awal dari pihak sekolah, siswi yang bersangkutan merupakan murid yang memiliki catatan prestasi baik dan kegiatannya diketahui orang tua. Ia menyebutkan anak tersebut merupakan siswa kelas VI yang pernah aktif dalam perlombaan di tingkat kabupaten.
"Anak tersebut berprestasi, bahkan di tingkat kabupaten meraih juara ketiga. Namun anaknya memang pendiam. Dari laporan kepala sekolah, pendekatan guru itu disebut sebagai upaya melihat potensi anak dan perlakuannya disebut tidak dibedakan dengan siswa lain karena yang bersangkutan juga merupakan wali kelasnya," ujarnya.
Deden juga menyampaikan, pihak sekolah dan orang tua disebut mengetahui adanya perubahan karakter pada anak tersebut, yang dinilai menjadi lebih komunikatif dan periang dibandingkan sebelumnya.
"Orang tua, pihak sekolah, bahkan keluarga merasa bersyukur karena anaknya sekarang bisa berkomunikasi seperti anak-anak lainnya. Prestasinya pun disebut tetap terjaga," jelasnya.
Meski demikian, Dinas Pendidikan menegaskan bahwa klarifikasi awal tersebut belum menjadi kesimpulan akhir. Pihaknya akan mendalami motif di balik tindakan guru tersebut untuk memastikan apakah terdapat unsur child grooming atau tidak.
"Ini akan kami dalami motifnya seperti apa, apakah murni metode pembelajaran untuk mengubah karakter anak atau memang ada unsur child grooming. Dalam satu atau dua hari ke depan akan kami tindak lanjuti langsung di lapangan," tegas Deden.
5. Fenomena 'Lautan Kopi Susu' di Teluk Palabuhanratu
Hujan deras selama beberapa hari terakhir membuat air di kawasan pesisir Sukabumi, khususnya di sepanjang jalur sabuk estuari Loji hingga Sangrawayang, Kabupaten Sukabumi, berubah menjadi cokelat pekat, menyerupai hamparan 'kopi susu' raksasa.
Perubahan warna air laut ini terlihat sangat mencolok, membentang dari muara hingga menyebar luas ke tengah Teluk Palabuhanratu. Gradasi warna yang kontras antara air laut yang masih biru di kejauhan dengan air cokelat pekat di bibir pantai menciptakan pemandangan yang unik, namun sekaligus mengundang tanda tanya.
Jalur Loji - Sangrawayang sendiri dikenal sebagai gerbang favorit menuju kawasan Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGGp). Tak heran, fenomena ini langsung menyita perhatian para pelintas. Sejumlah kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, tampak menepi di bahu jalan.
Para wisatawan turun, menatap ke arah muara Cibutun yang tampak memuntahkan debit air keruh dalam jumlah besar ke lautan.
Rian (35), seorang wisatawan asal Bogor yang kebetulan melintas, mengaku sempat bingung dengan pemandangan tersebut. Ia mengira telah terjadi longsor besar atau bencana alam di sekitar lokasi, mengingat pekatnya warna air.
"Awalnya saya kira ada longsoran tebing yang jatuh ke laut, soalnya warnanya pekat sekali, cokelat kemerahan. Kirain bencana alam, tapi kalau dilihat-lihat kok airnya tenang saja. Agak ngeri juga sih melihatnya, tapi di satu sisi unik kayak gradasi warna," ungkap Rian saat ditemui detikJabar di pinggir jalan raya Loji, Jumat (6/2/2026).
Pemandangan serupa juga menarik perhatian Deni (28), seorang pengendara motor yang sedang touring menuju kawasan Geopark. Ia dan rombongannya sengaja berhenti sejenak untuk mengabadikan momen langka tersebut.
Bagi mereka yang kerap melintas di jalur ini, pemandangan laut yang berubah warna secara drastis adalah hal yang tak biasa.
"Saya lumayan sering lewat jalur Loji kalau mau ke Geopark, biasanya kan biru bersih, enak buat cuci mata. Pas lewat tadi kaget, kok jadi cokelat semua sampai ke tengah. Kirain lagi ada pengerukan atau apa, ternyata alami ya. Jadi spot foto dadakan sih, unik buat update status," ujar Deni.
Warna cokelat pekat ini rupanya membawa jejak cerita dari hulu. Fenomena ini merupakan dampak langsung dari meluapnya Sungai Cisereuh dan beberapa sungai lain yang bermuara ke kawasan Teluk Palabuhanratu.
Beberapa waktu lalu, sungai yang bermuara di kawasan ini sempat mengamuk akibat curah hujan tinggi, membawa dampak kerusakan yang cukup signifikan di wilayah hulu.
Arus liar Sungai Cisereuh sendiri dilaporkan merusak sejumlah petak sawah warga dan menyebabkan pergeseran lahan. Material tanah dari sawah yang porak-poranda dan tebing sungai yang tergerus inilah yang kemudian terbawa arus hingga ke muara, mengubah wajah laut Loji menjadi keruh.
Mang Udon, warga Kecamatan Simpenan, memberikan penjelasan untuk menenangkan para pelintas yang bertanya-tanya. Ia memastikan bahwa warna keruh tersebut bukanlah pencemaran limbah, melainkan material tanah akibat luapan sungai.
"Ini mah imbas dari hulu. Kan kemarin Sungai Cisereuh sempat naik (meluap), itu sawah-sawah di atas pada kena, tanahnya kegerus sampai ada lahan yang geser. Istilahnya 'banjir kiriman' yang bawa material tanah merah," jelas Mang Udon.
Menurutnya, kondisi ini akan kembali normal seiring berjalannya waktu dan siklus pasang surut air laut.
"Pas ketemu air laut, warnanya jadi cokelat begini karena debit air tawarnya lagi banyak dan bawa lumpur bekas longsoran tadi. Nanti juga kalau hujan reda dan arus laut pasang, warnanya bakal didorong balik dan jadi biru lagi," pungkasnya.
6. Bocah Perempuan di Sukabumi Tertembak Senapan Angin
Seorang anak berinisial SH (6) di Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, mengalami luka tembak serius akibat senapan angin. Insiden tersebut terjadi saat senapan angin jenis PCP kaliber 4,5 mm yang tengah dibersihkan ayah tirinya tiba-tiba meletus dan mengenai kepala korban.
Kapolsek Kadudampit Ipda Suhendar menjelaskan peristiwa itu terjadi pada Jumat (6/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di Desa Gedepangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.
"Korban anak perempuan saat ini masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU RS Betha Medika Cisaat dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri," kata Suhendar saat dikonfirmasi detikJabar, Sabtu (7/2/2026).
Menurut Suhendar, insiden bermula ketika ayah tiri korban, S (35), sedang membersihkan dan memperbaiki senapan angin di depan rumah sekitar pukul 13.00 WIB. S diduga tidak menyadari bahwa di dalam laras senapan masih terdapat peluru.
"Pada saat membongkar bagian popor, senapan angin tersebut tiba-tiba meletus. Di depan laras senapan saat itu terdapat korban, sehingga peluru mengenai bagian atas pelipis dan menembus ke belakang kepala," jelasnya.
Melihat kondisi anaknya yang terluka parah, S langsung memanggil istrinya dan membawa korban ke Puskesmas Kadudampit. Namun, karena luka yang cukup serius, korban kemudian dirujuk ke RS Betha Medika Cisaat untuk penanganan lebih lanjut.
"Saat ini korban masih dirawat di ICU. Pihak rumah sakit belum bisa memberikan keterangan medis karena menunggu dokter spesialis," ucap dia.
Polisi kini telah mengamankan ayah tiri korban beserta barang bukti berupa senapan angin untuk dimintai keterangan lebih lanjut oleh petugas.
"Terduga pelaku sudah diamankan dan sedang dilakukan pemeriksaan. Perkara ini kami limpahkan ke Sat Reskrim Polres Sukabumi Kota untuk penanganan lebih lanjut," tambahnya.
Pihak kepolisian juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sementara itu, pemerintah desa setempat tengah membantu proses pengurusan BPJS Kesehatan bagi keluarga korban.
