Gemericik air mengalir secara konstan terdengar lumayan kencang ketika kita menginjakkan kaki di bekas lokasi longsor Kampung Pasir Kuda dan Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Suara itu berasal dari air yang mengalir mengikuti pola pergerakan material longsor dari Gunung Burangrang yang terjadi pada 24 Januari 2026 lalu. Tak terlalu besar, namun jelas terlihat.
Di beberapa titik, bahkan aliran air yang jatuh dari ketinggian menyerupai air terjun. Hal itu terjadi karena adanya lubang yang tersisa selama operasi pencarian korban tertimbun longsor yang menewaskan 80 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu enggak ada sungainya, sekarang setelah longsor tiba-tiba ada aliran air di tengahnya. Airnya dari gunung, mungkin mata air," kata Iman Rahmat, warga setempat, Kamis (26/2/2026).
Hamparan material longsor dengan lebar kurang lebih 40 meter yang sudah mengering kini mulai bisa dilintasi warga. Di atasnya, banyak bertebaran mahkota-mahkota bunga berwarna-warni. Bahkan ada nisan yang sengaja dipasang warga bertuliskan nama anggota keluarga yang belum ditemukan.
"Ya sebisa-bisanya saja motor lewat sini, cari jalan yang rata terus yang aliran airnya enggak terlalu besar. Harus cari yang berbatu biar tanahnya enggak lembek," kata Iman.
Iman sendiri merupakan salah satu penyintas longsor Cisarua. Rumahnya rata dengan tanah, saudaranya ada yang meninggal tertimbun material longsor. Beruntung, anak dan istrinya selamat.
"Kalau dibilang trauma, ya jelas sampai sekarang masih. Apalagi kalau hujan deras, itu saya pasti ingat waktu kejadian," kata Iman.
Saat ini ia masih menanti kepastian rencana relokasi yang dijanjikan pemerintah. Ia diberi bekal uang Rp5 juta untuk kebutuhan hidup selama dua bulan kedepan. Namun uang itu pasti segera habis, terlebih saat ini ia tak punya sumber penghasilan.
"Ya inginnya segera dipindahkan dari sini, saya bingung juga tapi karena enggak ada kerjaan. Lahan kebun sayur saya 150 tumbak habis tertimbun," kata Iman.
Penyebab Longsor Menurut PVMBG
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkap jika longsor mematikan yang menerjang Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu (24/1), bukanlah peristiwa alam biasa.
Bencana yang menewaskan 80 orang itu merupakan hasil dari rangkaian faktor geologi, morfologi, hidrologi, hingga jejak alam lama berupa bekas aliran sungai yang kembali "diaktifkan" oleh limpasan material longsor.
Plh Kepala PVMBG Badan Geologi, Edi Slameto, menjelaskan hasil resume tim tanggap darurat mencatat bahwa peristiwa di Cisarua merupakan bencana pergerakan tanah yang dipicu curah hujan ekstrem di kawasan dengan kondisi alam yang sangat rentan.
"Faktor pengontrol utama gerakan tanah di lokasi ini meliputi kondisi morfologi curam, geologi berupa batuan gunung api tua yang telah mengalami pelapukan lanjut, hidrologi/keairan, penggunaan lagan serta keberadaan struktur geologi berupa rekahan dan sesar. Faktor pemicu utama adalah curah hujan tinggi," ujar Edi.
Ia mengungkapkan, hujan dengan intensitas lebih dari 220 milimeter per hari mengguyur kawasan tersebut sebelum kejadian. Kondisi itu menyebabkan peningkatan tekanan air pori, menurunnya kuat geser tanah, hingga akhirnya memicu kegagalan lereng dalam skala besar.
"Gerakan tanah berkembang ketika material longsoran bercampur sengan air membentuk aliran bahan rombakan/debris yang bergerak mengikuti lembah, kemudian tersebar pada area landasan pada bawah lereng," katanya.
"Proses longsoran berasosiasi dengan aliran material dan potensi suplai air yang sangat besar pada bagian hulu," sambungnya.
Menurut Edi, material longsor berasal dari endapan piroklastik tua Gunung Burangrang yang telah mengalami pelapukan sangat lanjut. Dalam kondisi jenuh air, tanah kehilangan kekuatan gesernya dan berubah menjadi material plastis yang mudah mengalir.
"Tingkat pelapukan yang tinggi menyebabkan penurunan kuat geser tanah dan batuan, sehingga lereng menjadi rentan terhadap kegagalan," ujarnya.
Meski curah hujan ekstrem menjadi pemicu utama, Edi menegaskan bencana longsor Cisarua tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Kombinasi berbagai kondisi alam dan aktivitas manusia menjadi pemicu terjadinya bencana besar ini.
"Penyebab Longsor Cisarua ini multifaktor, gak ada faktor tunggal di sini. Batuan yang sudah lapuk, lereng curam, curah hujan tinggi dan tata guna lahan, itu yang menyebabkan semua ini terjadi," tegasnya.
"Karena kalau dari empat ini saja tidak terpenuhi salah satunya saja tidak terjadi, misal batuan lapuk, lereng curam, tata guna lahan tidak tepat tapi tak ada hujan terus menerus gak terjadi longsor, kalaupun longsor ya sedikit-sedikit," lanjut Edi.
(dir/dir)