Menjelang sepuluh malam terakhir Ramadan 2026, suasana di Masjid Habiburrahman mulai terasa berbeda. Masjid yang berada di kawasan Kecamatan Cicendo ini kembali bersiap menyambut ribuan umat Islam yang akan menjalani i'tikaf, sebuah tradisi ibadah yang setiap tahun selalu memadati area masjid.
Bagi banyak jemaah, i'tikaf di Masjid Habiburrahman bukan sekadar berdiam diri di masjid pada malam-malam terakhir Ramadan. Kegiatan ini sudah berkembang seperti pesantren Ramadan yang berlangsung selama 24 jam, dengan berbagai rangkaian ibadah, kajian, hingga interaksi intens dengan Al-Qur'an.
Ketua Panitia Ramadan Masjid Habiburrahman, Satya Krisnawan, mengatakan tradisi i'tikaf tetap dipertahankan seperti tahun-tahun sebelumnya. Konsepnya dibuat menyerupai pesantren Ramadan yang memungkinkan jemaah menginap di area masjid selama sepuluh malam terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tetap menjaga tradisi itikaf di 10 hari terakhir. Jadi semacam pesantren Ramadan yang menginap ya, kita tetap seperti itu dan sekarang kita menghadirkan ustadz dan penceramah yang memang lagi disenangi anak-anak muda ya," ujar Satya, Rabu (11/3/2026).
Ibadah 24 Jam dengan Interaksi Al-Qur'an
I'tikaf tahun ini dijadwalkan berlangsung pada 10-20 Maret 2026. Panitia mengusung tema "Membumikan Al-Qur'an", yang menekankan bagaimana kitab suci umat Islam itu bisa dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Satya, rangkaian kegiatan ibadah dirancang berlangsung sepanjang hari tanpa jeda panjang.
"Kita 24 jam full kegiatan dengan tema membumikan Al Qur'an, bagaimana menghadirkan Al Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari Magrib buka puasa bersama, isya ada penceramah atau kajian pendek sebelum taraweh," katanya.
Setelah itu, jemaah akan melaksanakan salat tarawih dengan target membaca satu juz Al-Qur'an setiap malam.
Suasana I'Tikaf di Masjid Habiburahman Bandung Foto: Istimewa |
"Setelah itu taraweh 1 juzz dari jam 8 sampai setengah 10 malam. Setelah itu jemaah diharapkan istirahat, kemudian dibangunkan jam 12 malam persiapan melakukan salat malam di jam setengah 1 sampai setengah 4 itu 2 Juzz," lanjutnya.
Rangkaian ibadah dilanjutkan dengan sahur, salat Subuh, serta kajian Subuh. Setelahnya jemaah diberi waktu beristirahat sebelum kembali mengikuti kajian pada waktu siang hari.
Jemaah Dirikan Ratusan Tenda
Antusiasme jemaah untuk mengikuti i'tikaf di Masjid Habiburrahman selalu tinggi setiap tahun. Tidak sedikit peserta yang datang bersama keluarga dan memilih menginap dengan mendirikan tenda di area masjid.
Satya menjelaskan, hingga saat ini sudah ratusan tenda terdaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut.
"Yang sudah terdaftar ke kami ada 500 tenda, memang ada sebagian yang belum datang karena belum libur juga. Biasanya di malam 23 makin banyak jemaah itu," katanya.
Satu tenda biasanya diisi beberapa anggota keluarga, sehingga jumlah jemaah yang mengikuti i'tikaf bisa mencapai ribuan orang setiap malam.
"500 tenda itu membawa keluarganya, ada istri, anak, suami dan belum lagi yang gak mendirikan tenda, dia datang dan pulang itu juga banyak. Jadi di hari-hari pertama 1000-2000 orang, nanti di 23-25 bisa sampai 4000-7000 orang yang ikut itikaf di Masjid Habiburrahman," ujar Satya.
Menariknya, jemaah yang datang tidak hanya berasal dari Bandung. Sejumlah peserta bahkan menempuh perjalanan jauh dari luar daerah hingga luar Pulau Jawa.
"Jemaah yang itikaf terjauh itu ada dari Bandar Lampung, itu paling jauh. Kemudian ada dari Bogor, Jakarta, Purwakarta, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya, Sumedang dan Subang itu yang di luar Bandung Raya," katanya.
Fasilitas Masjid Ditambah
Mengantisipasi lonjakan jemaah, pengelola masjid menyiapkan berbagai fasilitas tambahan demi menjaga kenyamanan selama i'tikaf berlangsung.
Panitia memperbanyak toilet dan memperbaiki fasilitas penunjang lainnya, termasuk tempat wudhu dan area bagi jemaah yang menginap.
"Banyaknya jemaah kita tambah fasilitas seperti toilet kita tambah 10 unit, kemudian tempat wudhu kita tambah juga dan fasilitas lain kita perbaiki demi menunjang kenyamanan jemaah," kata Satya.
Jemaah yang ingin menginap juga difasilitasi untuk mendirikan tenda di area selasar dan ruang serbaguna masjid, sementara ruang utama tetap difokuskan untuk kegiatan salat.
"Jadi konsepnya membumikan, interaksi dengan Al Qur'an 24 jam penuh makanya kita fasilitasi jemaah untuk mendirikan tenda di selasar masjid dan ruang serbaguna ya, tidak di ruang utama untuk salat," jelasnya.
(bba/dir)

