Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana pusat perbelanjaan di Kota Bandung mulai dipenuhi warga yang berburu kebutuhan lebaran. Salah satu tempat yang selalu menjadi tujuan masyarakat adalah pusat perbelanjaan di daerah Kepatihan.
Pusat perbelanjaan yang terletak di kawasan pusat kota ini setiap tahunnya menjadi saksi tradisi masyarakat Bandung dalam mencari baju terbaik untuk menyambut hari kemenangan.
Tradisi ini juga dirasakan oleh Naifah, warga Bandung yang sejak kecil sudah akrab dengan suasana berbelanja di Kepatihan menjelang lebaran. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar membeli pakaian baru, tetapi juga bagian dari kebiasaan keluarga yang terus dijaga hingga sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak kecil, Naifah mengaku selalu diajak oleh orang tuanya untuk membeli baju lebaran di sana. Kebiasaan itu pun masih ia lakukan hingga kini, seolah menjadi ritual tahunan yang tidak pernah terlewatkan setiap bulan Ramadan.
Mengenai jenis pakaian yang ia cari, Naifah mengatakan bahwa pilihannya tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia tetap menyukai gaya yang sederhana namun tetap mengikuti tren terbaru.
"Gak beda jauh dari tahun sebelumnya, aku selalu cari gamis model terbaru tapi tetap yang minimalis dan tidak begitu banyak motif," ujar Naifah saat ditemui oleh detikJabar (17/3/2026)
Menurutnya, tren baju lebaran tahun ini cukup menarik. Salah satu model yang banyak ditemui di toko-toko adalah gamis dengan tambahan rompi yang bisa dilepas. Selain model, warna juga menjadi perhatian penting dalam menentukan pilihan.
Naifah melihat bahwa warna butter yellow menjadi salah satu tren yang banyak diminati tahun ini. Warna kuning pucat yang lembut seperti mentega ini memberikan kesan bersih namun tetap elegan.
Setelah berkeliling beberapa toko di Kepatihan, Naifah akhirnya berhasil menemukan baju lebaran yang sesuai dengan keinginannya. Ia merasa puas karena bisa mendapatkan model dan warna yang memang sudah ia incar sejak awal.
Suasana pusat perbelanjaan yang ramai ternyata tidak mengurangi antusiasmenya dalam berbelanja. Justru bagi Naifah, keramaian tersebut menjadi bagian dari keseruan menjelang hari raya.
"Suasana nya sangat ramai dan penuh. Tapi, justru ini momen serunya, karena kemeriahannya cuman terjadi satu tahun sekali menjelang hari raya," katanya.
Sabar Hadapi Lautan Manusia
Meski begitu, berbelanja mendekati hari lebaran tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Naifah mengaku harus bersabar menghadapi kepadatan pengunjung serta keterbatasan stok pakaian yang tersedia.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah mencari ukuran pakaian yang tepat di tengah banyaknya orang yang juga berburu baju lebaran.
"Tempat nya padat ramai pengunjung. Selain itu, terkhusus untuk aku, ukuran baju yang cocok, karena biasanya stock ukuran udah menipis," jelasnya.
Bagi Naifah, tradisi membeli baju lebaran tetap menarik untuk dilakukan setiap tahun. Ia merasa bahwa kegiatan ini menjadi salah satu cara menyambut momen Idulfitri dengan penuh antusias dan kebahagiaan setelah menjalani ibadah selama bulan Ramadan.
Hal serupa juga dirasakan oleh Nadira. Ia mengaku cukup sering berbelanja di Kepatihan, tidak hanya menjelang lebaran tetapi juga pada waktu-waktu lainnya. Namun ketika Ramadan tiba, pusat perbelanjaan tersebut menjadi salah satu tempat favoritnya untuk mencari pakaian lebaran.
Berbeda dengan Naifah yang menyukai gamis, Nadira lebih tertarik pada jenis pakaian tunik yang menurutnya nyaman dan praktis untuk digunakan saat bersilaturahmi di hari raya.
"Pakaian lebaran jenis tunik karena desain nya simple dan menarik buat aku," kata Nadira saat berbincang dengan detikJabar (17/3/2026)
Nadira juga memperhatikan perkembangan tren pakaian yang banyak muncul di media sosial. Menurutnya, warna-warna lembut sedang menjadi pilihan banyak orang tahun ini. Ia menilai warna butter yellow atau butter cream menjadi salah satu tren yang cukup menonjol di berbagai koleksi baju lebaran.
"Yang tren dari media sosial mungkin baju baju warna butter yellow atau butter cream," ujarnya.
Keramaian di pusat perbelanjaan di kawasan Kepatihan, Kota Bandung Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar |
Meski pusat perbelanjaan di Kepatihan menjadi tempat favorit untuk berbelanja, Nadira mengakui bahwa suasana menjelang lebaran di kawasan tersebut sangat padat. Banyaknya warga Bandung yang datang membuat kondisi lalu lintas di sekitar pusat perbelanjaan menjadi cukup macet.
Keramaian ini terkadang menjadi tantangan tersendiri ketika ingin berbelanja mendekati hari raya. Selain kemacetan di jalan, Nadira juga mempertimbangkan faktor harga pakaian yang cenderung meningkat menjelang lebaran.
Karena itu, ia terkadang memilih untuk membeli baju lebaran lebih awal agar bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau serta pilihan model yang masih lengkap.
Bagi Nadira, tradisi membeli baju lebaran tetap memiliki makna tersendiri. Ia menilai kebiasaan ini tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga memiliki nilai budaya dan religius.
"Mungkin karena anjuran berpakaian terbaik, nilai budaya, dan sebagai simbol kesucian awal yang lebih baik setelah menjalani ibadah selama bulan Ramadan," jelas Nadira.
Kisah Naifah dan Nadira menggambarkan bagaimana tradisi berburu baju lebaran masih terus hidup di tengah masyarakat Bandung. Keramaian, kemacetan, hingga perjuangan mencari ukuran yang pas seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari momen tahunan tersebut.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang selalu membuat tradisi ini tetap dinanti, semangat menyambut hari kemenangan dengan penuh kebahagiaan. Di pusat komersial itu, cerita-cerita kecil tentang berburu baju lebaran terus tercipta setiap tahunnya.
(yum/yum)

