Hari Raya Idulfitri tinggal menghitung hari. Suasana di Terminal Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai menunjukkan geliat arus mudik. Namun, di balik keriuhan para perantau yang kembali ke kampung halaman, tersimpan ironi mengenai kondisi infrastruktur yang jauh dari kata layak bagi sebuah terminal di ibu kota kabupaten.
Berdasarkan pengamatan detikJabar di lapangan pada Selasa (1/4/2024), area manuver bus di terminal Tipe B tersebut kini menyerupai hamparan kubangan air. Lubang-lubang besar dengan genangan air keruh menjadi pemandangan dominan di sepanjang jalur kendaraan.
Para pemudik yang turun dari bus terpaksa berjalan dengan penuh kehati-hatian demi menghindari cipratan air atau risiko terperosok ke dalam lubang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya persoalan akses jalan, kerusakan fisik bangunan utama pun terlihat sangat kontras dengan statusnya sebagai simpul transportasi utama di Sukabumi Selatan. Plafon gedung banyak yang terlepas dan menganga, menyisakan kerangka bangunan yang mulai berkarat tanpa ada upaya perbaikan berarti.
Siti (34), pemudik asal Bogor, mengungkapkan rasa prihatinnya atas pemandangan yang menyambutnya di tanah kelahiran. Baginya, terminal seharusnya menjadi beranda yang memberikan rasa nyaman bagi para pemudik yang telah menempuh perjalanan jauh.
"Sedih melihat terminal begini di saat mau Lebaran. Tadi waktu turun hampir kena cipratan air kubangan. Kasihan juga anak kecil karena debunya sangat tebal. Harusnya sebagai ibu kota kabupaten, terminal ini bisa lebih baik supaya kami merasa disambut dengan layak," ujar Siti.
Nada kekhawatiran juga disampaikan oleh Ahmad (29), pemudik asal Jakarta. Ia menyoroti aspek keselamatan publik di dalam terminal, terutama terkait kondisi atap yang dinilainya sudah keropos dan rentan roboh.
"Saya sempat mengira sedang ada proyek renovasi, tetapi ternyata memang sudah lama dibiarkan rusak. Kondisi atap seperti ini sangat ngeri kalau ada angin kencang atau hujan, bisa-bisa ambruk menimpa orang di bawahnya. Jalannya juga kacau, fasilitas di sini bahkan kalah dengan terminal-terminal kecil di tingkat kecamatan," ungkap Ahmad.
Persoalan ini nyatanya bukan hal baru. Ade Supriadi, atau yang akrab disapa Acong, selaku pengurus bus MGI di lokasi, menyatakan bahwa kekumuhan ini telah menjadi santapan sehari-hari selama kurang lebih tiga tahun terakhir.
Ia menyayangkan lambatnya respons dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mengingat terminal ini berstatus Tipe B yang berada di bawah wewenang pemerintah daerah tingkat provinsi.
"Kondisinya memang parah sekali, sudah rusak total. Lingkungan di sini menjadi sangat kumuh dan banyak warga yang mengeluh. Bukan hanya penumpang, perusahaan otobus pun merasa tidak nyaman dengan fasilitas yang tersedia. Padahal ini terminal utama di pusat pemerintahan," tutur Acong.
Menurut Acong, jika hujan deras mengguyur, terminal dipastikan akan tergenang banjir karena sistem drainase dan jalan yang sudah hancur. Ia berharap pemerintah segera turun tangan sebelum kerusakan bangunan mengakibatkan kecelakaan bagi para pengguna jasa transportasi.
"Bangunan ini sudah parah, sebenarnya tinggal menunggu ambruk saja karena rusak dimakan usia. Sangat disayangkan kalau terus dibiarkan seperti ini selama bertahun-tahun," pungkasnya.
Hingga kini, para pengguna jasa transportasi hanya bisa berharap agar pintu gerbang ibu kota mereka mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Mereka ingin jargon kemajuan infrastruktur tidak hanya menjadi slogan di atas kertas, namun nyata dirasakan oleh rakyat kecil yang sedang dalam perjalanan pulang.
Simak Video "Video Terminal Mengwi Dipadati Penumpang Jelang Idul Adha"
[Gambas:Video 20detik]
(sya/mso)
