Tak Sekadar Rehat, Pemudik Belajar Sejarah Santri di Pos Singaparna

Tak Sekadar Rehat, Pemudik Belajar Sejarah Santri di Pos Singaparna

Deden Rahadian - detikJabar
Rabu, 18 Mar 2026 14:30 WIB
Posko mudik Singaparna bertema santri
Posko mudik Singaparna bertema santri (Foto: Deden Rahadian/detikJabar)
Tasikmalaya -

Terik matahari dan laju kendaraan yang tersendat menjadi ujian tersendiri bagi para pemudik di Jalur Selatan Tasikmalaya. Di tengah perjalanan panjang, kelelahan kerap tak terhindarkan.

Hal itu dirasakan Agni (23) dan Yuni (21), pasangan muda asal Cineam yang mudik dari Jakarta sejak dini hari menjelang sahur. Perjalanan jauh mulai terasa berat saat mereka memasuki wilayah Tasikmalaya di bawah terik matahari.

Tangan Agni yang terus mengendalikan sepeda motor mulai kehilangan tenaga. Rasa kantuk akibat kurang tidur semakin memperparah kondisinya, hingga ia memutuskan untuk berhenti sejenak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya Allah panasnya, mana mata ngantuk pak. Ini mah harus istirahat. Nggak kuat," kata Agni saat melintas di Jalan Raya Singaparna-Garut, Rabu (18/3/2026).

ADVERTISEMENT

Ia sengaja memilih jalur Singaparna menuju Garut untuk menghindari kemacetan di Limbangan. Keputusan itu membawanya pada sebuah titik yang tak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbeda.

Motor mereka berhenti di depan Pos Terpadu Alun-Alun Singaparna. Di lokasi ini, Agni dan Yuni langsung mendapatkan berbagai layanan gratis dari petugas.
Yuni mendapat pemeriksaan kesehatan, sementara Agni memanfaatkan layanan pijat untuk meredakan pegal di tubuhnya.

"Alhamdulillah ada pos Alun Alun. Saya bisa istirahat. Lengkap fasilitasnya. Istri divek kesehatan saya dipijat," kata Agni sambil menghela napas lega.

Setelah beristirahat, kondisinya perlahan pulih dan siap melanjutkan perjalanan.

"Sudah pulih saya akan lanjutkan perjalanan, nuhun pak Polisi," ujarnya.

Ada Museum Santri di Posko Mudik

Namun, yang membuat pos terpadu ini berbeda adalah keberadaan museum mini di dalamnya. Pemudik tidak hanya beristirahat, tetapi juga diajak mengenal sejarah perjuangan tokoh lokal.

Di dalam pos, terdapat berbagai koleksi seperti replika bambu runcing, keris, hingga pakaian pejuang yang berkaitan dengan sosok KH Zainal Musthafa, pahlawan nasional asal Tasikmalaya. Literasi sejarah ini menjadi cara unik untuk mengalihkan rasa lelah menjadi kebanggaan terhadap daerah asal.

Posko mudik Singaparna bertema santriPosko mudik Singaparna bertema santri Foto: Deden Rahadian/detikJabar

Selain museum, berbagai fasilitas pendukung juga tersedia, mulai dari ruang laktasi, area bermain anak, musala, toilet bersih, hingga layanan cek kesehatan gratis.

Suasana hangat juga terasa dari pendekatan humanis aparat kepolisian. Di area bermain, anak-anak tampak terhibur oleh atraksi sulap dari anggota polisi. Sementara itu, polisi wanita turut menghibur pemudik dengan lantunan musik Islami melalui kesenian marawis.

Kepala Pos Pam Terpadu Alun-Alun Singaparna, Aan Supyadi, menyebut seluruh fasilitas tersebut memang disiapkan untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi pemudik.

"Ini pos pam terpadu dengan fasilitas lengkap. Ada ruang laktasi, tempat bermain, sampai museum mini. Kami ingin pemudik bisa melepas lelah dengan nyaman sampai tiba di kampung halaman," ujarnya.

Tak hanya di dalam pos, pelayanan juga menjangkau jalanan. Kepolisian menyiagakan tim 'Motor Senyum' yang berpatroli di sekitar Singaparna untuk membantu pemudik. Mulai dari menolong kendaraan mogok, mengatasi kehabisan bahan bakar, hingga membagikan takjil bagi pengendara yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka tiba.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads