Sebanyak 7.110 kendaraan tercatat masuk ke wilayah Sukabumi melalui Tol Bocimi Seksi 3-Karangtengah dalam lima hari terakhir saat arus mudik Lebaran 2026. Jalur tol tersebut sengaja difungsionalkan pada masa mudik Lebaran 2026 untuk memecah kemacetan di jalur arteri GT Parungkuda.
Kasat Lantas Polres Sukabumi, AKP Abdurrohman Hidayat, mengatakan jumlah kendaraan yang masuk mengalami fluktuasi, dengan puncak sementara terjadi pada Rabu (18/3) malam.
"Untuk hari Rabu tercatat sebanyak 2.403 kendaraan yang masuk melalui gate Tol Bocimi Seksi 3. Ini merupakan jumlah tertinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya," kata Abdurrohman kepada detikJabar, Kamis (19/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun rincian volume kendaraan yang masuk yakni pada Sabtu (14/3) sebanyak 1.496 kendaraan, Minggu (15/3) 991 kendaraan, Senin (16/3) 1.346 kendaraan, Selasa (17/3) 874 kendaraan, dan Rabu (18/3) mencapai 2.403 kendaraan.
Abdurrohman menyebut, peningkatan arus kendaraan terlihat signifikan menjelang Lebaran. Meski demikian, kondisi lalu lintas baik di tol fungsional maupun jalur arteri di wilayah hukum Sukabumi masih terpantau ramai lancar.
"Situasi arus lalu lintas, baik di tol fungsional maupun jalur arteri, masih dalam kondisi ramai lancar," ujarnya.
Ia menjelaskan, kendaraan yang melintas didominasi dari arah Jakarta dan Bogor, dengan tujuan utama Sukabumi maupun jalur wisata. Untuk mengantisipasi kepadatan, Sat Lantas Polres Sukabumi telah menyiagakan sebanyak 74 personel di sejumlah titik jalur mudik dalam Operasi Ketupat Lodaya.
"Kami selalu siap siaga di jalur, sebanyak 74 personel disiagakan untuk pengamanan arus lalu lintas," ucapnya.
Terkait puncak arus mudik, Abdurrohman memperkirakan belum terjadi dalam beberapa hari terakhir. Puncak arus diprediksi akan terjadi mendekati Hari Raya atau saat arus balik.
"Untuk puncak arus kami perkirakan belum terjadi. Kemungkinan akan terjadi di H-1 maupun H+1, mengingat Sukabumi menjadi tujuan wisata," katanya.
Selain itu, pihak kepolisian juga membuka kemungkinan penerapan rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah (one way) secara situasional, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan.
"One way akan diberlakukan secara situasional, melihat kondisi arus lalu lintas. Jika memungkinkan, akan kita terapkan untuk menarik kendaraan," pungkasnya.
(yum/yum)
