Tradisi Turun-temurun Warga Kadungora Jualan Kulit Ketupat di Bandung

Tradisi Turun-temurun Warga Kadungora Jualan Kulit Ketupat di Bandung

Wisma Putra - detikJabar
Kamis, 19 Mar 2026 16:30 WIB
Penjual kulit ketupat di Pasar Kosambi Bandung.
Penjual kulit ketupat di Pasar Kosambi Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Bagian belakang bangunan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang berada di halaman parkir Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, menjadi tempat nyaman bagi Asep dan teman-temannya. Tempat itu dipilih karena suasananya yang teduh.

Di tempat itu, mereka tampak sibuk membuat kulit ketupat. Dengan lincah, helai demi helai daun kelapa muda disulapnya hingga berbentuk ketupat. Setiap kali terkumpul 10 kulit ketupat, Asep langsung mengikatnya agar lebih mudah dijual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena sudah sangat lihai, kedua tangannya tetap menganyam saat berbincang dengan detikJabar, meski pandangannya terfokus ke arah lain. Warga Kadungora, Garut itu datang ke Pasar Kosambi untuk berjualan kulit ketupat bersama rekan-rekannya.

"Kita dari Kadungora, kalau bahan daun kelapanya ini dari Tarogong," kata Asep membuka perbincangan, Kamis (19/3/2026).

ADVERTISEMENT

Pria berusia 33 tahun itu mengungkapkan, ia hanya berjualan kulit ketupat secara musiman menjelang Lebaran karena profesi sehari-harinya adalah buruh serabutan. Dia datang ke Bandung bersama lebih dari 10 orang dari kampung halamannya.

"Jualan baru hari ini, kita barengan dari Garut naik kereta api. Tapi kalau sudah di sini kita jualan masing-masing. Bikin, lalu jual, bikin, jual lagi sampai habis. Itu dilakukan bergantian," ujarnya.

Menurut Asep, setiap pedagang rata-rata membawa bahan daun kelapa untuk 1.000 kulit ketupat. Namun, ada juga yang membawa hingga 2.000 per orang.

"Saya bikin buat 1.000, ada juga yang 2.000, tergantung kesanggupan kitanya aja," ujar Asep.

Berbeda dengan saat keberangkatan, mereka biasanya akan langsung pulang jika kulit ketupat sudah habis terjual. "Kalau pulang sehabisnya saja enggak bareng," tambahnya.

Satu ikat kulit ketupat berisi 10 buah dijual Asep seharga Rp15 ribu. Namun, Asep menyebut tak jarang pembeli menawar harga jika memesan dalam jumlah banyak.

Saat ditanya mengenai keuntungan yang didapat dalam sekali berjualan, Asep mengaku hasilnya cukup untuk menambah bekal Lebaran.

"Cukup buat lebaran, bisa dapat Rp600 ribu," ujarnya.

Asep menyebut telah berjualan kulit ketupat sejak usianya belasan tahun. Kala itu, dia diajak oleh tetangga di kampungnya.

"Udah lama, masih kecil pokonya, barengan sama yang lain," tuturnya.

Tak hanya Asep, hal serupa juga diungkapkan Ujang. Kepada detikJabar, Ujang mengaku sudah berjualan kulit ketupat sejak tahun 90-an.

"Udah lama banget kalau saya, sebelum pasar seperti ini," ujarnya.

Asep menambahkan, warga Garut khususnya dari Kadungora memang banyak yang berjualan kulit ketupat menjelang Lebaran di Kota Bandung.

"Bukan di Kosambi saja, di pasar lainnya juga sama, kaya di Ciroyom dan Gedebage. Ada juga yang jualan di pusat perbelanjaan juga, kaya di belakang Alun-Alun Bandung. Kita memang sengaja datang ke Bandung dan ini sudah turun temurun," tambahnya.

(wip/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads